Di tengah hijaunya hutan Kalimantan, ada satu bunga yang sekilas terlihat berbeda dari kebanyakan anggrek, yaitu anggrek hitam Kalimantan. Namun, “hitam” pada namanya bukan berarti seluruh bunga berwarna hitam pekat.
Keunikannya bukan hanya soal penampilan. Anggrek ini juga tumbuh dengan cara hidup yang unik. Lantas, apa yang membuat anggrek hitam Kalimantan berbeda dari anggrek lainnya? Di mana bunga ini dapat ditemukan, dan mengapa keberadaannya begitu penting bagi kekayaan flora Kalimantan?
Untuk mengenalnya lebih dekat, yuk, simak pembahasan berikut ini!
Di Balik Nama “Anggrek Hitam” dari Hutan Kalimantan
Di balik nama anggrek hitam, ada bagian bunga yang memang menjadi ciri paling mudah dikenali. Tanaman ini memiliki nama ilmiah Coelogyne pandurata Lindl. dan termasuk dalam famili Orchidaceae, keluarga besar tumbuhan yang menaungi berbagai jenis anggrek.
Lalu, dari mana sebutan “hitam” berasal? Sebutan hitam berasal dari bagian bibir bunga yang berwarna hitam. Pada bagian bibir tersebut juga terdapat pola garis atau corak yang membuat warna gelapnya semakin terlihat. Inilah yang kemudian menjadi dasar penyebutan anggrek hitam.
Bunganya berukuran cukup besar, sekitar 7–12 sentimeter, dan tumbuh dalam satu tangkai yang dapat membawa beberapa kuntum bunga. Coelogyne pandurata juga dikenal sebagai anggrek epifit, yakni tumbuhan yang hidup menempel pada pohon tanpa mengambil makanan dari pohon tersebut.
Sebagai tanaman yang tumbuh di lingkungan lembap, keberadaan Coelogyne pandurata sangat berkaitan dengan hutan dan pepohonan yang menjadi tempat hidupnya. Di Kalimantan, anggrek ini dikenal sebagai salah satu flora khas daerah dan menjadi maskot flora Kalimantan Timur.
Hidup di Rimbunnya Hutan, Anggrek Ini Punya Habitat yang Spesifik
Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) tidak ditemukan begitu saja di setiap sudut Kalimantan. Salah satu habitat alaminya yang telah banyak diteliti berada di Cagar Alam Padang Luway, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Kawasan ini dikenal sebagai salah satu habitat anggrek di Kalimantan Timur dan menjadi lokasi penelitian mengenai sebaran anggrek hitam. Spesies ini juga ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Tewah dan Muara Teweh.
Lingkungan tempat tumbuhnya punya karakter yang cukup spesifik. Anggrek hitam merupakan tanaman epifit, artinya ia tumbuh menempel pada bagian pohon, seperti batang atau cabang, untuk mendapatkan tempat hidup. Namun, menempel pada pohon bukan berarti menjadi parasit.
Anggrek tidak mengambil makanan dari pohon yang ditumpanginya. Akarnya membantu menyerap kelembapan dan unsur di sekitarnya.
Bunga yang menjadi Maskot Flora Kalimantan Timur
Keunikan anggrek hitam tidak hanya membuatnya menarik sebagai bagian dari kekayaan flora Kalimantan. Coelogyne pandurata juga telah dikenal sebagai flora identitas atau maskot Provinsi Kalimantan Timur. Bunga ini dipilih sebagai maskot karena keunikan dan kecantikannya.
Menjadi flora identitas Kalimantan Timur bukan berarti anggrek hitam hanya dapat ditemukan di provinsi tersebut. Spesies ini memiliki persebaran yang lebih luas di kawasan tertentu di Kalimantan dan wilayah Asia Tenggara.
Pada 2024, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengadopsi bentuk anggrek hitam sebagai inspirasi maskot MTQ Nasional XXX bernama “Anggah”. Pemprov Kaltim menjelaskan bahwa anggrek hitam dipilih karena melambangkan keindahan dan keanggunan.
Di sisi lain, menjadikan anggrek hitam sebagai simbol daerah juga merupakan upaya konservasi dan budidaya agar masyarakat tetap mengenal bunga langka ini.
Anggrek Hitam Kalimantan dan Papua: Sama-Sama “Hitam”, tetapi Tidak Sama
Nama “anggrek hitam” ternyata tidak selalu merujuk pada tanaman yang sama. Di Indonesia, istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut anggrek yang berasal dari Papua.
Anggrek hitam Kalimantan berbeda dengan anggrek hitam Papua. Anggrek hitam Kalimantan memiliki ciri pada bagian bibir bunganya yang berwarna hitam dengan corak hijau. Sementara itu, bagian kelopak dan mahkotanya justru didominasi warna hijau.
Sementara itu, anggrek hitam Papua memiliki penampilan berbeda, yaitu mahkotanya berwarna hitam pekat. Sebenarnya warna itu merupakan ilusi dari pigmen ungu yang dihasilkannya. Sehingga, jika dilihat dari jauh, bunga ini secara keseluruhan berwarna hitam.
Ketika Keindahan Bunga Berhadapan dengan Ancaman di Alam
Keindahan anggrek hitam ternyata menghadapi berbagai tekanan di alam. Coelogyne pandurata termasuk tumbuhan yang dilindungi di Indonesia. Perlindungan ini berkaitan dengan berbagai ancaman, mulai dari eksploitasi dan pengambilan untuk koleksi, perdagangan ilegal, hingga kerusakan habitat akibat deforestasi, pembukaan lahan, kebakaran, dan fragmentasi habitat.
Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi tempat tumbuhnya, tetapi juga dapat mengganggu keberlangsungan populasinya di alam. Hilangnya penyerbuk dan perubahan kondisi lingkungan juga membuat regenerasi anggrek hitam menjadi sulit.
Karena itu, konservasinya tidak cukup hanya dengan membatasi pengambilan dari alam. Perlindungan habitat, penelitian, perbanyakan melalui budidaya, serta keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga C. pandurata.
Menjaga Anggrek Hitam Berarti Menjaga Hutan Tempatnya Tumbuh
Keberadaan anggrek hitam selama ini menjadi bagian dari ekosistem yang saling terhubung dengan pohon dan lingkungan tempatnya tumbuh.
Karena itu, menjaga anggrek hitam juga berarti menjaga habitatnya. Penelitian dan budidaya dapat membantu memperbanyak tanaman, sementara perlindungan hutan tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan keberadaannya di alam.
Sebagai maskot flora Kalimantan Timur, anggrek hitam juga bisa menjadi pintu untuk mengenalkan kekayaan biodiversitas kepada masyarakat. Sebab, keindahan flora Indonesia bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk dipahami dan dijaga sebagai bagian dari warisan alam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


