Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi yang mendukung penggunaan proyeksi peta dunia baru bernama Equal Earth. Keputusan ini diambil untuk menghadirkan gambaran ukuran benua dan negara secara lebih proporsional. Langkah tersebut mendorong penghentian penggunaan peta konvensional yang dinilai memicu persepsi keliru selama ratusan tahun.
Peta standar yang dipakai selama lebih dari 450 tahun disebut “tidak adil” dalam menggambarkan banyak wilayah di dunia, salah satunya benua afrika. Negara-negara berkembang di kawasan tropis selama ini terlihat jauh lebih kecil dibanding ukuran sebenarnya. PBB menilai perubahan ini sebagai perbaikan keterwakilan geografis yang sudah lama tertunda.
Resolusi PBB ini bersifat tidak mengikat dan tidak secara otomatis melarang penggunaan peta lama. Penggunaan Equal Earth lebih difokuskan pada sektor pendidikan, teknologi, serta laporan resmi internasional.
Apa Itu Equal Earth Projection?
Equal Earth merupakan proyeksi peta dunia equal-area atau sama luas yang dirancang pada tahun 2018. Proyeksi ini dikembangkan oleh tim kartografer internasional yaitu Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny. Visualnya terinspirasi dari proyeksi Robinson, namun tetap mempertahankan proporsi luas daratan secara akurat.
Ciri khas Equal Earth terlihat pada garis lintang yang lurus dan sisi peta yang melengkung. Desain ini dibuat agar nyaman dilihat sekaligus menyajikan perbandingan luas wilayah yang tepat. Melalui pendekatan ini, setiap negara tampil sesuai porsi ukuran aslinya.
Kawan GNFI, peta yang selama ini biasa dicetak dan dipublikasikan di sekolah adalah proyeksi Mercator buatan Gerardus Mercator tahun 1569. Peta lama ini memang dirancang khusus untuk navigasi pelayaran samudra agar arah angin tetap akurat. Namun, keunggulan navigasi itu justru mengubah realitas ukuran wilayah sebenarnya.
Pada peta Mercator, wilayah dekat kutub mengalami pembesaran ekstrim. Sebagai contoh, Greenland terlihat hampir sama besar dengan Afrika. Padahal, Afrika sebenarnya 14 kali lebih besar. Sebaliknya, wilayah khatulistiwa tampak menyusut drastis dari ukuran aslinya.
Selain itu, proyeksi Mercator mendistorsi ukuran wilayah yang berada jauh dari garis khatulistiwa. Hal ini membuat persepsi terhadap ukuran Afrika, Amerika Latin, dan beberapa wilayah Asia menjadi tampak kecil, di mana dapat melanggengkan pandangan dunia yang tidak seimbang.
Distorsi ukuran benua warisan jadul ini dianggap sebagai bentuk bias historis yang memengaruhi bidang pendidikan, budaya, geopolitik, dan sosial ekonomi.
Equal Earth hadir mengoreksi distorsi tersebut tanpa merusak bentuk benua secara berlebihan. Proyeksi ini dikembangkan usai timbul kontroversi penggunaan peta Gall-Peters di sekolah Boston pada 2017. Pembuatnya kemudian merumuskan peta yang akurat secara luas sekaligus mengutamakan nilai estetika.
Disepakati Banyak Negara di Dunia
Inisiatif perubahan peta ini diajukan oleh negara Togo atas nama Uni Afrika bersama Kepulauan Bahama. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menegaskan bahwa peta membentuk cara berpikir manusia tentang kedudukan suatu bangsa. Kampanye Correct the Map ini turut didukung berbagai organisasi internasional.
Dalam pemungutan suara PBB, sebanyak 164 negara mendukung penerapan peta Equal Earth. Prancis bahkan berencana ikut beralih menggunakan peta yang lebih akurat ini. Uniknya, saat mayoritas negara mendukung, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang secara tegas menolak resolusi tersebut.
Di sisi lain, ada enam negara yang memilih abstain, termasuk Ukraina. Ukraina abstain karena situs pengembang peta sempat menampilkan wilayah Krimea dengan warna terpisah dari Ukraina. PBB mengklarifikasi bahwa resolusi ini tidak mengubah batas kedaulatan negara mana pun.
Lalu, adakah dampak perubahan dan penggunaan peta Equal Earth ini untuk Indonesia? Apakah akan bermanfaat?
Sebagai negara yang membentang di garis khatulistiwa, Indonesia terdampak langsung oleh perubahan peta ini. Pada peta Mercator lama, wilayah Indonesia dan Asia Tenggara terlihat jauh lebih kecil dari sebenarnya. Pada peta Equal Earth, luas wilayah Indonesia akan tampak membesar dan proporsional.
Perubahan tampilan ini tidak mengubah luas daratan maupun batas fisik wilayah Indonesia secara nyata. Jika peta lama umumnya membuat bentuk visual negara di bagian utara tampak lebih besar dibandingkan selatan, peta baru ini akan tampak lebih “adil” karena menggunakan ukuran yang jauh lebih proporsional.
Dengan bentuk yang jauh lebih realistis, dunia bisa melihat ukuran "asli" Indonesia dalam peta baru yang tentu lebih seimbang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


