plta pertama di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Ternyata Ini PLTA Pertama di Indonesia Penggerak Listrik Kota

Ternyata Ini PLTA Pertama di Indonesia Penggerak Listrik Kota
images info

PLTA pertama Indonesia | Sumber: Pexels


PLTA pertama di Indonesia hadir sebagai tonggak bersejarah yang mengawali perjalanan elektrifikasi Nusantara. Sebelum listrik hadir di hampir setiap rumah, ada masa ketika cahaya malam bukan sesuatu yang otomatis tersedia.

Pada masa awal elektrifikasi Hindia Belanda, masyarakat sangat bergantung pada lampu minyak atau sumber penerangan sederhana saat malam tiba. Listrik pada mulanya hanya hadir secara terbatas di kota-kota besar, kawasan pusat pemerintahan, dan area industri tertentu.

Seiring meningkatnya kebutuhan energi, potensi air mulai dilirik untuk membangkitkan daya listrik secara lebih stabil. Dari sinilah air sungai dan aliran pegunungan mulai memiliki peran baru: menghidupkan kota dan menggerakkan roda ekonomi.

Bagaimana tenaga air akhirnya menjadi tenaga listrik dan mengawali berdirinya berbagai PLTA di Indonesia?

Ketika Listrik Mulai Hadir di Hindia Belanda

Sejarah kelistrikan di Indonesia bermula sejak abad ke-19 pada masa kolonial Belanda. Perkembangan ini dipicu oleh menjamurnya pabrik teh dan gula yang dibangun masa kolonial Belanda ini membutuhkan pembangkit listrik mandiri untuk menopang proses produksi.

Seiring waktu, penerangan dan energi tidak lagi sekadar kebutuhan pabrik, melainkan berkembang mengikuti pertumbuhan kota dan aktivitas ekonomi.

Dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, pada tahun 1927 pemerintah kolonial Belanda mendirikan perusahaan listrik negara ’s-Lands Waterkracht Bedrijven (LWB). Perusahaan ini mengelola beberapa pembangkit, antara lain PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug, dan PLTA Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea Lama di Sulawesi Utara, serta PLTU di Jakarta.

Memasuki Perang Dunia II, seluruh fasilitas listrik ini diambil alih oleh Jepang. Setelah Jepang menyerah, pemerintah Republik Indonesia kembali mengambil alih aset kelistrikan tersebut. Melalui Penetapan Pemerintah No. 1 Tahun 1945 tanggal 27 Oktober 1945, dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk mengelola listrik dan gas di Indonesia secara mandiri.

Kebutuhan yang terus melonjak lantas mendorong pencarian pembangkit listrik Hindia Belanda berkapasitas lebih besar untuk mendukung awal elektrifikasi Indonesia secara menyeluruh.

Saat Sungai dan Air Terjun Mulai Menghasilkan Listrik

PLTA indonesia, PLTA Tosenlama
info gambar

PLTA Tosenlama | Sumber: Desa Tosenlama


Kondisi geografis Indonesia yang kaya akan sungai berarus deras, wilayah pegunungan, serta perbedaan ketinggian curam menjadi fondasi ideal bagi pembangunan pembangkit listrik tenaga air.

Salah satu contoh ikonik dalam sejarah PLTA pertama di Indonesia adalah PLTA Tonsea Lama di Minahasa (mulai dibangun 1912/1928, serta instalasi listrik tenaga air lainnya seperti PLTA Plengan yang dibangun pada sekitar tahun 1922 dan menyusul PLTA Bengkok 1923 di daerah Jawa Barat, dan berbagai PLTA lainnya di seperti PLTA Singkarak dan PLTA Kracak.

Air yang selama ini hanya mengalir dari pegunungan mulai diubah menjadi energi yang dapat menggerakkan mesin, menerangi bangunan, dan menopang aktivitas kota.

Keberadaan sungai dan air terjun tidak lagi sekadar lanskap alam, tetapi menjadi jantung utama pembangunan pembangkit listrik tenaga air pertama di Indonesia.

baca juga

Dari Listrik untuk Kota hingga Mengubah Kehidupan

Kehadiran energi hidro secara perlahan mengubah wajah perkotaan. Lampu jalan mulai menyala, bangunan publik beroperasi lebih optimal, dan jam aktivitas malam masyarakat bertambah panjang. Elektrifikasi bukan sekadar mengganti lampu minyak dengan lampu listrik.

Dengan kehadiran energi listrik terbarukan mengubah ritme kehidupan masyarakat dan mengurangi penggunaan energi tak terbarukan seperti batubara dan minyak bumi, hal ini tentunya mampu menggerakkan sektor perdagangan, serta membuka era kehidupan modern di Tanah Air.

Mengapa Tenaga Air Penting dalam Sejarah Kelistrikan Indonesia?

Potensi air yang melimpah menjadikan energi hidro pilar utama dalam perkembangan sejarah kelistrikan Indonesia. Jika dahulu air dimanfaatkan untuk mengawali elektrifikasi awal kota-kota kolonial, kini PLTA tetap memegang peranan krusial dalam bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional untuk mengurangi emisi karbon dari energi batubara dan minyak bumi.

baca juga

Jauh sebelum listrik menjadi sesuatu yang tinggal dinyalakan dari sakelar di dinding, ada sungai-sungai dan aliran air yang lebih dulu menggerakkan roda perubahan. Sejarah elektrifikasi bukan hanya tentang kabel, turbin, dan pembangkit, melainkan cerita tentang bagaimana energi mengubah cara manusia hidup.

Oleh karena itu, Kawan GNFI, menjaga kelestarian alam dan aliran sungai adalah wujud investasi terbaik agar energi bersih ini terus mengalir bagi generasi mendatang.

Ingin memperluas wawasan Anda tentang kebanggaan Nusantara? Mari jelajahi artikel menarik lainnya di Good News From Indonesia, mulai dari topik olahraga, sejarah, budaya, pengetahuan, hingga beragam berita positif dari Indonesia!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Evita Damayanti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Evita Damayanti.

ED
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.