Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kracak adalah sebuah pembangkit listrik ramah lingkungan yang berada di Kracak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pembangkit ini sangat legendaris karena sudah ada sejak era pemerintahan kolonial Belanda.
PLTA Kracak mulai beroperasi sejak 1926, PLTA Kracak memiliki kapasitas 18,90 Megawatt (MW). PLTA ini juga masuk daftar ke dalam salah satu PLTA tertua di Jawa Barat.
PLTA Kracak memanfaatkan aliran sungai Cianten dan sungai Cikuluwung. Listrik yang dihasilkan PLTA ini disebarkan ke rumah-rumah masyarakat sekitar.
Pembangkit yang dibangun Belanda ini masih aktif dan eksis sampai sekarang. Bahkan, mesin-mesin yang dipakai pun merupakan peninggalan Belanda. Secara fisik, mesin-mesin itu masih tampak sangat baik dan laik.
Pipa-pipa yang sangat besar yang berfungsi untuk mengalirkan air menuju mesin pembangkit juga merupakan peninggalan Belanda. Sejauh ini, semua alat, termasuk turbin dan generatornya masih orisinil dan belum pernah diganti, menjadikan PLTA Kracak sebagai salah satu pembangkit ramah lingkungan peninggalan Belanda yang legendaris.
PLTA Legendaris yang Ramah Lingkungan
Mengutip dari situs resmi PT Perusahaan Listrik Indonesia atau PLN (Persero), PLTA Kracak adalah pembangkit tertua yang dikelola PT Indonesia Power, anak perusahaan PLN. PLTA ini memasok listrik ke sistem interkoneksi Jawa Bali, termasuk beberapa kecamatan di Bogor sampai berbagai daerah di pelosok-pelosok.
Di masa lalu, PLTA Kracak pun sudah berjasa untuk menerangi wilayah Bogor dan sekitarnya. Tak hanya itu, Batavia sampai trem juga ikut terciprat listrik yang disalurkan oleh PLTA Kracak.
Memanfaatkan aliran air dari dua sungai di Kabupaten Bogor, PLTA Kracak dikategorikan sebagai PLTA tipe Semi Run-Off River. PLTA ini memiliki kolam tando harian, yakni Waduk Gunung Bubut, yang digunakan untuk menampung air.
Pembangkit EBT Ramah Lingkungan
Merangkum dari berbagai sumber, awalnya, PLTA Kracak hanya memiliki dua mesin pembangkit dengan daya terpasang di tiap mesinnya sebesar 6.475 MW. Namun, sekitar tahun 1958, pemerintah Indonesia menambah satu mesin, sehingga total ada tiga mesin. Tiga mesin ini kemudian menghasilkan total sekitar 18,9 MW.
PLTA Kracak beroperasi di bawah Unit Pembangkitan (UP) Saguling. Sebagai informasi, UP Saguling adalah unit pembangkitan yang menggunakan tenaga air sebagai penggerak utama atau primer mover.
Yang unik, pegawai yang bekerja di sini tidak sampai 10 orang. Menariknya lagi, pegawai yang akan bekerja menuju ke Power House harus turun dengan lori alias gerobak yang berjalan di atas rel yang diikat dengan tali baja. Namun, ada opsi lain dengan menuruni sekitar 276 tangga.
Lori ini juga sudah digunakan sejak dahulu untuk naik turun pekerja. Jalur turunan menuju rumah pembangkit cukup terjal, sehingga lori sangat membantu para pekerja.
Meskipun pegawainya sedikit, PLTA terus dioperasikan dengan baik. PLTA Kracak juga menjadi salah satu pembangkit yang ikut mendukung upaya pemerintah yang tengah menggencarkan diversifikasi tenaga listrik non-minyak bumi dengan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


