mahasiswa udayana berhasil temukan spesies baru serangga tongkat dari pulau sumba - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa Udayana Berhasil Temukan Spesies Baru Serangga Tongkat dari Pulau Sumba

Mahasiswa Udayana Berhasil Temukan Spesies Baru Serangga Tongkat dari Pulau Sumba
images info

Mahasiswa Udayana Berhasil Temukan Spesies Baru Serangga Tongkat dari Pulau Sumba


Davis Marthin Damaledo, mahasiswa semester empat Fakultas Pertanian Program Studi Agroekoteknologi Universitas Udayana, berhasil menemukan spesies baru serangga tongkat dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Penemuan ini menjadi kontribusi penting dalam kajian keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya kelompok serangga dari ordo Phasmatodea. Davis yang juga dikenal sebagai peneliti serangga muda, mengidentifikasi spesies tersebut sebagai bagian dari genus Nesiophasma Günther, 1934 yang sebelumnya telah direvisi oleh peneliti internasional.

Penemuan ini mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan. Peneliti serangga Garda Bagus Damastra menyatakan, “Ini adalah spesies ketiga dari genus yang diketahui dari Kepulauan Sunda Kecil dan serangga tongkat pertama yang tercatat dari Sumba.” Garda sendiri merupakan mentor Davis sekaligus pendiri Indonesian Mantis and Phasmid Forum (IMPF), komunitas yang beranggotakan ribuan pecinta serangga di Indonesia.

Proses Penemuan dan Identifikasi Spesies

Awal mula penemuan ini terjadi ketika paman Davis di Sumba mengirimkan foto serangga yang ditemukan di sekitar rumah. Rasa penasaran mendorong Davis untuk melakukan pencarian langsung di lokasi. Ia menemukan dua spesimen di wilayah berbeda, yakni di Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur. Menariknya, salah satu spesimen ditemukan di kebun rumah yang tidak memiliki kawasan hutan, melainkan hanya beberapa pohon jambu yang menjadi habitat serangga tersebut.

Davis kemudian mengumpulkan telur dari spesimen yang ditemukan. Sebagian telur ditetaskan untuk diamati, sementara sebagian lainnya dikirimkan kepada mentornya untuk dianalisis lebih lanjut. Ia menjelaskan, “Spesimen kedua saya dapatkan di kebun teman paman saya yang uniknya tidak ada hutan. Saya kumpulkan telurnya, yang sebagian saya tetaskan dan sebagian lagi saya kirim ke Mas Garda.”

Awalnya, peneliti serangga Frank H. Hennemann menduga spesies ini sama dengan Nesiophasma sobesonbaii. Namun, Davis meyakini adanya perbedaan morfologi yang signifikan. Setelah dilakukan perbandingan lebih lanjut, akhirnya disepakati bahwa spesies tersebut merupakan jenis baru. “Saat saya kirimkan foto pembanding, akhirnya ditetapkan spesies baru. Kami menamainya Nesiophasma davisdamaledoi, menggunakan nama saya,” ujar Davis.

Karakteristik dan Habitat Serangga

Spesies baru ini diberi nama Nesiophasma davisdamaledoi sp. nov. dan telah dideskripsikan secara ilmiah lengkap dengan ilustrasi jantan, betina, serta telurnya. Serangga ini memiliki ukuran tubuh sekitar 13 hingga 18 sentimeter dengan bentuk menyerupai ranting, yang berfungsi sebagai kamuflase alami. Ciri khas lainnya adalah adanya bercak hitam pada bagian pipi (genae) serta tidak adanya garis merah di sisi toraks, yang membedakannya dari spesies terdekat.

Perbedaan warna juga menjadi indikator penting. Individu jantan spesies ini berwarna hijau kebiruan, sedangkan spesies pembandingnya memiliki warna coklat. Habitatnya mencakup hutan sekunder di Sumba Tengah serta area kebun di Sumba Timur. Serangga ini diketahui memakan daun jambu biji dan memiliki kemampuan berkembang biak secara seksual maupun partenogenesis, dengan waktu penetasan telur sekitar empat bulan.

Kontribusi bagi Ilmu Pengetahuan dan Konservasi

Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Zootaxa. Spesimen utama atau holotipe telah didaftarkan dan disimpan di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Garda menjelaskan bahwa penamaan spesies mengikuti nama penemunya yang juga berperan dalam penelitian sebelumnya. “Nama spesies sesuai penemunya di lokasi, yang juga berperan dalam penemuan spesies sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Davis, penemuan ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan tentang biodiversitas Indonesia. Ia menyampaikan, “Semoga penemuan ini menambah pengetahuan kita tentang kekayaan biodiversitas Indonesia.” Baginya, penelitian serangga bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga bagian dari minat pribadi yang memberikan kepuasan tersendiri. “Banyak yang bilang hobi aneh, tapi inilah yang membuat saya gembira,” katanya.

baca juga

Harapan bagi Peneliti Muda dan Kesadaran Publik

Garda menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok serangga yang masih kurang diteliti. Ia berharap semakin banyak peneliti muda yang tertarik untuk mengkaji biodiversitas, khususnya spesies yang belum banyak dipelajari. Publikasi ilmiah seperti ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem.

Davis juga menyampaikan harapan serupa. Ia menilai Indonesia masih menyimpan banyak potensi spesies baru yang belum terungkap. Selain itu, ia mengingatkan bahwa serangga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, meskipun sering kali diabaikan. “Saya benar-benar berharap, semakin banyak pihak yang memahami serangga,” ungkapnya.

Penemuan Nesiophasma davisdamaledoi menjadi bukti bahwa kontribusi peneliti muda dapat memberikan dampak signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.