sigap mep solusi dan inovasi gerakan antisipasi konflik monyet ekor panjang upaya mahasiswa kkn t ipb menangani konflik satwa manusia di desa seda kuningan - News | Good News From Indonesia 2026

SIGAP MEP “Solusi dan Inovasi Gerakan Antisipasi Konflik Monyet Ekor Panjang”: Upaya Mahasiswa KKN-T IPB Menangani Konflik Satwa-Manusia di Desa Seda, Kuningan

SIGAP MEP “Solusi dan Inovasi Gerakan Antisipasi Konflik Monyet Ekor Panjang”: Upaya Mahasiswa KKN-T IPB Menangani Konflik Satwa-Manusia di Desa Seda, Kuningan
images info

Dokumentasi Pribadi


Desa Seda, yang berada di kaki Gunung Ciremai, telah lama menghadapi konflik dengan satwa liar, yaitu monyet ekor panjang atau dikenal dengan MEP, yang memberikan dampak negatif terhadap sisi ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga desa. “Dulu banyak yang punya usaha keripik pisang dan sejenisnya, tetapi hasil kebun milik warga sering diambil oleh monyet-monyet yang lewat, terutama pada siang hari,” ujar Cicih Munasih, Kasie Urusan Umum Desa Seda.

Tak jarang ditemukan monyet-monyet yang datang menghampiri pekarangan rumah warga untuk mengambil buah-buahan, bahan produksi yang sedang dijemur, bahkan toples berisi makanan kering. Situasi ini sangatlah meresahkan, mengingat kondisi asli desa yang dianugerahi tanah subur dan kekayaan alam melimpah yang menyejahterakan para warga.

Dalam masa awal pengabdian (8-15 Juli 2026), tim mahasiswa KKN-T IPB University mengumpulkan informasi terkait konflik satwa-manusia di Desa Seda dari berbagai pihak untuk merangkum persoalan dari sudut pandang warga. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Fithriyyah Shalihati, Dr., S.E., M.M., tim menyusun rancangan program dan berkonsultasi dengan drh. Fitriya Nur Annisa Dewi, Ph.D., Cert. LAM.

baca juga

Konsultasi ini bertujuan mengonfirmasi rancangan kegiatan, bertukar pikiran soal langkah mitigasi yang tepat, sekaligus membekali tim dalam perannya sebagai mediator antara warga dan pihak berwenang. Besarnya harapan dan keresahan warga menggerakkan semangat tim untuk menghadirkan solusi konkret, agar konflik satwa-manusia di Desa Seda tidak berkembang menjadi konflik berdampak lebih tinggi, seperti perilaku agresif satwa, luka fisik pada warga, hingga tindakan pembasmian yang tidak legal.

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki peran dalam konservasi berbagai spesies flora dan fauna endemik, serta ekosistem yang terancam punah. Desa Seda berbatasan di sebelah selatan dengan TNGC dan desa ini berada di bawah naungan Resort Mandirancan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Desa Seda berada di Provinsi Jawa Barat sehingga UPT yang menaungi desa ini adalah BBKSDA Jawa Barat, yang mengelola 46 unit kawasan konservasi. Oleh karena harapan warga untuk mendapatkan bantuan dari pihak berwenang, maka tim mahasiswa KKNT IPB University bertugas untuk menjembatani warga Desa Seda dengan pihak berwenang, yaitu TNGC, lewat Resort Mandirancan, dan BBKSDA Jawa Barat.

Kegiatan yang disusun oleh mahasiswa KKNT IPB University dalam menangani masalah ini disebut dengan Sosialisasi & Inovasi Gerakan Antisipasi Konflik Monyet Ekor Panjang (SIGAP MEP), terdiri dari penyuluhan mitigasi dan penanaman bibit pohon durian, alpukat, dan salam, sebagai penyangga di perbatasan kawasan TNGC dengan Desa Seda, secara seremonial. Kegiatan dilaksanakan pada waktu yang disepakati oleh seluruh pihak yang berkaitan, yaitu pada hari Senin, 10 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di Indonesia.

Realisasi Penanaman Bibit Pohon Sebagai Penyangga dan Penyuluhan Konflik Satwa-Manusia

Penanaman dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB di Blok Gibug, Dusun Puspasari, sedangkan penyuluhan dilaksanakan pada pukul 11.00 WIB di Aula Balai Desa Seda. Kegiatan penanaman diikuti oleh tim mahasiswa KKNT IPB University dan perangkat desa, serta tamu undangan, yaitu perwakilan dari Taman Nasional Gunung Ciremai Resort Mandirancan. Penyuluhan SIGAP MEP dihadiri oleh tim mahasiswa KKNT IPB University, perangkat desa, perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, dan warga desa yang terdampak.

Rangkaian kegiatan penyuluhan SIGAP MEP terdiri dari pemberian materi oleh perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, demonstrasi pembuatan pengusir alami, serta sesi tanya jawab dan diskusi. Kegiatan penyuluhan SIGAP MEP ini terlaksana dengan antusias yang tinggi, serta sinergi yang baik antara warga Desa Seda dengan BBKSDA Jawa Barat.

"Pengelolaan Gunung Ciremai sebaiknya dilakukan secara kolaboratif antara warga desa dan pemerintah," ujar Pak Slamet, selaku perwakilan BBKSDA Jawa Barat. Penanaman bibit pohon dalam program ini juga bertujuan mempertahankan ketersediaan pakan alami monyet ekor panjang di kawasan tersebut, agar satwa ini tidak lagi bergantung pada makanan milik warga.

Demonstrasi Pembuatan Repellent (Pengusir) Alami Monyet Ekor Panjang (MEP)

Selain menjembatani warga desa dengan pihak TNGC dan BBKSDA Jawa Barat, tim mahasiswa KKNT IPB University memberikan demonstrasi kepada warga, bagaimana cara membuat repellent menggunakan bahan-bahan sederhana yang terdiri dari terasi udang, kapur barus, dan alkohol 70%. Terasi udang menghasilkan senyawa volatil yang menimbulkan aroma menyengat dan kapur barus mengandung bahan aktif naftalen yang dapat mengganggu pernapasan, dilarutkan dengan alkohol 70% sebagai ekstraksi bahan-bahan tersebut agar larutan repellent lebih pekat dan tahan lama.

Usulan ini mendapatkan respons suportif dari peserta penyuluhan, pasalnya sebelumnya warga sempat menggunakan terasi sebagai salah satu cara mengusir monyet dari kawasan rumah. Namun, ikhtiar tersebut belum menambahkan kapur barus dan alkohol dalam membuat larutan pengusir. Larutan ini dapat digunakan sebagai semprotan di sekitar barang-barang di depan rumah dan juga sebagai rendaman untuk kain bekas yang akan digantung di depan rumah ataupun di pohon.

baca juga

Harapan Warga Desa Seda Terhadap Penanganan Konflik Satwa-Manusia

Warga Desa Seda mengikuti kegiatan SIGAP MEP dengan antusias, membawa harapan besar akan hadirnya solusi nyata atas konflik satwa-manusia yang telah lama mereka hadapi. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.53/MENHUT-II/2014 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/MENHUT-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar, BBKSDA menganjurkan dibuatnya tim satuan tugas (satgas) di tingkat desa untuk menangani konflik secara berkelanjutan.

Selain itu, warga turut mengusulkan penanaman bibit pohon secara serentak sehingga jumlah pohon yang banyak dapat menjadi penyangga bagi monyet ekor panjang, sekaligus dapat memberi manfaat ekonomi bagi warga. Upaya ini diharapkan dapat didukung oleh pemerintah, salah satunya melalui permintaan bibit pohon kepada Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS).

Kondisi di Desa Seda menjadi gambaran nyata bahwa konflik satwa-manusia bukan sekadar persoalan lokal, Kawan GNFI, melainkan tantangan bersama yang membutuhkan sinergi lintas pihak, mulai dari warga, akademisi, hingga pemerintah.

Program SIGAP MEP hadir sebagai langkah awal, bukan solusi akhir maupun solusi instan. Keberlanjutannya akan sangat bergantung pada konsistensi warga Desa Seda dalam menjalankan mitigasi yang telah disepakati, serta dukungan nyata dari TNGC dan BBKSDA Jawa Barat dalam mendampingi proses tersebut hingga situasi ini benar-benar dapat dikendalikan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ML
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.