Namanya Fransiskus Xaverius Sutopo, biasa dikenal Sutopo atau Mbah Topo. Banyak orang mengenalnya sebagai penarik becak. Akan tetapi, bagi mahasiswa, pedagang pasar, anak sekolah, hingga pemulung yang pernah meminjam buku darinya, Sutopo adalah pemilik perpustakaan berjalan yang setia menyambangi jalanan Yogyakarta.
Saban hari, radio tua di becaknya mengalunkan lagu-lagu lawas. Di sela menunggu penumpang, ia menata buku-buku di rak kecil yang menempel pada bodi becak. Siapa pun boleh meminjam dan membaca.
"Saya bebaskan, 100 persen bebas. Pinjam berapa pun saya layani," kata Sutopo, seperti dikutip dari BBC News Indonesia.
Dari Pensiunan TNI Menjadi Penarik Becak
Sebenarnya, Sutopo bukan seorang penarik becak sungguhan. Maksud “sungguhan” di sini, penarik becak bukanlah profesinya sejak awal. Sutopo adalah pensiunan TNI Angkatan Darat pada 2003.
Pria yang pernah bertugas di Kodim 0734 Yogyakarta itu tidak ingin menjalani masa pensiun dengan berdiam diri di rumah. Sebagai laki-laki yang dulunya kerap menjalani aktivitas fisik, pensiun dan hanya berdiam diri membuatnya bosan.
"Saya melihat teman-teman yang pensiun tidak punya kegiatan, kemudian gampang sakit," ujarnya kepada detikcom pada 2017.
Karena itulah ia memilih profesi sambilan menjadi penarik becak kayuh.
Bagi Sutopo, mengayuh becak bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Aktivitas itu sekaligus menjadi olahraga yang membuat tubuhnya tetap aktif. Ia bahkan menyebut banyak rekan seusianya mulai sakit-sakitan setelah berhenti bergerak.
"Kebanyakan teman-teman yang pensiun kemudian sakit dan meninggal. Kalau tidak gerak, bisa stroke," tuturnya.
Pilihan hidup itu ternyata menjadi awal dari lahirnya gerakan literasi yang menginspirasi banyak orang.
Bermula dari Hobi Membaca Sejak Kecil
Jauh sebelum memiliki Becak Pustaka, Sutopo sudah akrab dengan buku.
Alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta ini mengaku gemar membaca sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan, ia tercatat sebagai anggota beberapa perpustakaan di Yogyakarta.
Ketika mangkal menunggu penumpang di depan SD Tarakanita Yogyakarta sekitar tahun 2017, kebiasaan membacanya menarik perhatian para orang tua murid. Hingga suatu hari, seorang wali murid memberinya sekitar 20 buku.
"Tahun 2017, saya dapat sumbangan sekitar 20 buku dari salah satu orang tua murid," kata Sutopo kepada Tirto.
Alih-alih menyimpan buku-buku itu di rumah, ia punya gagasan lain. Buku-buku itu lalu dibuatkan rak sederhana di becaknya. Sejak saat itulah Becak Pustaka lahir.
"Saya pikir, kalau dapat sumbangan buku tapi cuma saya baca sendiri dan disimpan di rumah, rasanya kurang etis."
Perpustakaan yang Menjangkau Orang yang Sering Terlupakan
Ada satu alasan menarik mengapa Becak Pustaka bertahan hingga sekarang. Sutopo melihat masih banyak orang yang sebenarnya ingin membaca, tetapi tidak nyaman datang ke perpustakaan formal.
"Peminjam buku saya ini macam-macam. Dari anak sekolah, mahasiswa, sampai pedagang pasar," kata Sutopo.
Menurutnya, sebagian masyarakat merasa sungkan masuk ke gedung perpustakaan yang besar dan megah. Sutopo kemudian memilih cara paling sederhana untuk mengatasi persoalan tersebut, yakni mendatangi pembacanya.
Karena itu, pembaca Becak Pustaka sangat beragam. Ada mahasiswa, pedagang pasar, sesama penarik becak, pemulung, hingga warga lanjut usia.
Becak Pustaka tidak hanya meminjamkan buku, tetapi juga menghapus jarak psikologis antara buku dan masyarakat.
Ketika Seorang Anak Menangis Karena Belum Selesai Membaca
Selama hampir satu dekade menjalankan Becak Pustaka, Sutopo mengumpulkan banyak cerita yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Salah satunya datang dari seorang siswa SD Tarakanita.
Anak itu naik becak untuk pulang sambil membaca buku cerita dari rak bacaan milik Sutopo. Akan tetapi, ketika sampai di rumah, ia malah menangis. Gara-garanya, cerita yang dibaca belum selesai.
Anak tersebut bahkan meminta diantar kembali ke sekolah agar bisa melanjutkan membaca selama perjalanan.
"Dia malah minta diantar balik ke sekolah lagi demi menyelesaikan bacaannya di jalan," kenang Sutopo.
Bagi Sutopo, momen seperti itulah yang membuatnya terus bertahan.
Koleksi Buku yang Terus Bertambah
Dari puluhan buku pada awal berdiri, koleksi Becak Pustaka kini berkembang menjadi ratusan judul. Buku-buku tersebut berasal dari sumbangan masyarakat, penumpang becak, hingga penerbit.
Topiknya beragam, mulai dari sejarah, pendidikan, sosial budaya, cerita anak, kamus bahasa, kisah tokoh inspiratif, hingga novel. Variasi koleksi ini sengaja dipertahankan karena pembacanya berasal dari berbagai kalangan.
Menariknya, Sutopo tidak pernah memberlakukan denda keterlambatan atau sistem administrasi yang rumit. Bahkan jika ada buku yang tidak kembali, ia memilih mengikhlaskannya.
Menurutnya, meminjamkan buku juga menjadi cara untuk melatih kejujuran masyarakat.
"Kalau pinjam ya harus dikembalikan," katanya.
Dari Becak Kayuh Menjadi Becak Listrik
Perjalanan Becak Pustaka memasuki babak baru pada 2024. Pemerintah Daerah DIY memberikan bantuan becak listrik kepada Sutopo.
Kendaraan baru itu memudahkannya menjangkau lebih banyak lokasi tanpa harus mengeluarkan tenaga sebesar saat menggunakan becak kayuh.
Meski demikian, semangatnya tidak berubah. Ia tetap berkeliling membawa buku, menyapa pembaca, dan mengajak masyarakat untuk kembali dekat dengan bacaan.
Bahkan seorang wisatawan asal Amerika Serikat pernah sengaja mencarinya karena tertarik dengan konsep perpustakaan bergerak yang dinilai unik.
"Membaca buku itu bagus bagi siapa saja, terutama untuk perkembangan masyarakat agar bisa menjadi manusia yang lebih baik," ujar Sutopo.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


