erni gagal masuk kedokteran tapi kini bukunya dipajang di pameran buku timur tengah - News | Good News From Indonesia 2026

Erni Gagal Masuk Kedokteran, tapi Kini Bukunya Dipajang di Pameran Buku Timur Tengah

Erni Gagal Masuk Kedokteran, tapi Kini Bukunya Dipajang di Pameran Buku Timur Tengah
images info

Erni Gagal Masuk Kedokteran, tapi Kini Bukunya Dipajang di Pameran Buku Timur Tengah


Kisah hidup kadang memang berjalan tidak seperti rencana. Hal itu juga dialami oleh Erni Puspita Sari. Ia pernah memiliki mimpi sederhana menjadi dokter. Namun jalan hidupnya justru membawanya ke dunia kepenulisan.

Bukunya yang berbahasa Arab kini tampil di sejumlah pameran buku internasional di Timur Tengah.

Buku yang ia tulis kini terpajang di beberapa ajang besar seperti Sharjah International Book Fair, Riyadh International Book Fair, serta pameran buku di Kuwait dan Jeddah pada akhir 2025 lalu.

Bagi seorang penulis dari Indonesia yang bukan penutur asli bahasa Arab, pengalaman ini terasa seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata.

“Tentu saja, perasaan saya campur aduk. Rasanya seperti mimpi. Bahkan setelah buku itu terpajang di empat tempat—di Uni Emirat Arab, Kuwait, International Book Fair Riyadh, dan Jeddah—saya masih sering merasa, ‘Ini benar terjadi atau hanya mimpi?’,” kata Erni dalam wawancara.

baca juga

Penulis Non-Native Menulis Langsung dalam Bahasa Arab, Dapat Apresiasi

Salah satu hal yang membuat kisah Erni menarik adalah keberaniannya menulis langsung dalam bahasa Arab. Dalam dunia penerbitan, hal ini tidak umum dilakukan oleh penulis yang bukan penutur asli.

Menulis buku penuh dalam bahasa kedua membutuhkan penguasaan kosakata, tata bahasa, dan nuansa budaya yang kuat. Karena itu, banyak pembaca di Timur Tengah justru merasa kagum.

“Yang paling berharga bagi saya adalah bagaimana mereka begitu menghormati saya sebagai penulis non–native speaker bahasa Arab yang berani menulis buku langsung dalam bahasa Arab. Mereka sangat menghargai hal itu dan sering menyampaikannya dengan pujian yang tulus,” terangnya.

baca juga

Ketika Buku Menjadi Obat bagi Pembaca

Tidak hanya apresiasi tentang kemampuan berbahasa, respons pembaca menjadi salah satu hal yang paling menyentuh bagi Erni. Beberapa orang mengaku menemukan ketenangan ketika membaca halaman pertama bukunya.

“Ada pembaca yang mengatakan bahwa mereka sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, dan ketika membaca halaman pertama buku saya, mereka langsung merasa buku ini ‘berbicara’ kepada mereka dan memberi ketenangan,” imbuh Erni

Pengalaman itu membuat Erni merasa seperti sedang menjalankan mimpi lamanya, meskipun dengan cara yang berbeda.

Erni sempat ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan banyak orang. Kini, ia merasa tetap bisa melakukan itu walaupun dengan jalan yang berbeda.

“Di situlah saya merasa, mungkin ini salah satu cara Allah memberi saya kesempatan untuk mewujudkan mimpi lama saya: menjadi seorang dokter—bukan dengan jas putih, tapi melalui buku.”

baca juga

Apa Isi Bukunya?

Buku yang ditulis Erni Puspita Sari berjudul The Girl Who Was Saved by Books. Karya ini terbit pada 2025 melalui salah satu penerbit mayor di Kuwait dan langsung ditulis dalam bahasa Arab tanpa bantuan penerjemah. Penerbit hanya melakukan penyuntingan teknis sebelum naskah dicetak.

Secara tematik, buku ini berada di persimpangan antara self-help dan kesehatan mental.

Dalam buku tersebut, Erni bercerita tentang seorang gadis yang memiliki mimpi menjadi dokter. Ia ingin menjadi dokter agar dapat menyelamatkan kucing-kucing kesayangannya yang sakit.

Namun jalan hidup tokoh dalam buku ini tidak berjalan sesuai harapan. Mimpi menjadi dokter perlahan bergeser ketika ia menemukan dunia lain yang tidak kalah menyembuhkan, yakni buku.

baca juga

Dari sinilah muncul gagasan utama dalam cerita bahwa terkadang yang menyelamatkan seseorang bukan profesi yang diimpikan, melainkan pengalaman membaca yang memberi ruang untuk memahami diri sendiri.

Judul The Girl Who Was Saved by Books lahir dari pengalaman itu. Buku-buku digambarkan sebagai tempat seseorang menemukan jawaban, ketenangan, dan cara baru memandang hidup. Melalui bacaan, tokoh utama belajar mengobati luka batin yang sebelumnya sulit ia pahami.

“Buku adalah obat, dan perpustakaan adalah apotek. Dari situlah saya merasa tetap bisa jadi dokter, meski bukan dokter medis,” kata Erni.

baca juga

Proses Menulis Sejak Pandemi

Proses penulisan buku ini sendiri memakan waktu cukup panjang. Erni mulai menulisnya sejak masa pandemi pada 2020. Naskah itu baru selesai pada akhir 2024, bersamaan dengan masa revisi skripsinya. Ia bahkan sering menulis di balik lembar bekas revisi skripsi yang sudah tidak terpakai.

Kehidupan di pesantren membuatnya terbiasa menulis secara manual. Karena itu, sebagian besar draf awal buku ditulis tangan sebelum akhirnya diketik ulang. Untuk mempercepat proses pengetikan, ia bahkan mengajak beberapa temannya menjadi juru tulis dengan bayaran sekitar Rp500 per halaman.

Pengalaman panjang ini membuat isi buku terasa sangat personal. Ada satu kalimat yang sangat menggambarkan hubungan Erni dengan buku.

“Seperti judul bukunya, The Girl Who Was Saved by Books, saya sendiri adalah gadis yang diselamatkan oleh buku,” ujarnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.