Pernahkah Kawan terpikir “Apakah perempuan Indonesia sudah benar-benar merdeka?” Kini guruku merupakan seorang perempuan, idolaku juga perempuan, bahkan Menteri Keuangan Indonesia saat ini juga seorang perempuan.
Jika kita kembali ke puluhan tahun yang lalu, banyak perempuan Indonesia yang bahkan tidak memiliki kendali atas kehidupannya, apalagi menjadi seorang pemimpin.
Di balik itu semua, ada sosok-sosok dengan tekadnya untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan serta kesetaraan hak gender.
Namanya adalah Kartini, seorang wanita yang berani memperjuangkan kemerdekaan perempuan. Namun, di zaman modern ini siapakah yang berani meneruskan jejaknya itu?
Kepemimpinan Seorang Perempuan
Ada banyak sekali perempuan di Indonesia yang berani meneruskan jejak Kartini. Salah satunya dari sosok Susi Pudjiastuti, seorang Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia pada tahun 2014—2019.
Ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sangat tegas, seperti dalam penegakan hukum, kebijakannya menenggelamkan kapal asing pelaku illegal fishing.
Meskipun dikenal tegas, ia merupakan sosok pemimpin yang komunikatif dan terbuka dalam menerima keluhan dan kritik. Dengan gaya kepemimpinannya tersebut, akhirnya ia berhasil mendapat beberapa penghargaan internasional seperti Peter Benchley Ocean Awards 2017 dan Leaders for a Living Planet.
Selanjutnya dari dunia jurnalistik ada seorang perempuan yang tak kalah hebat pula. Ia adalah Najwa Shihab, seorang jurnalis yang dikenal kritis dengan gaya wawancaranya yang tegas. Dirinya memulai kariernya dari sebuah stasiun televisi RCTI, hingga kemudian berkarier lama di Metro TV.
Ia dikenal luas melalui sebuah program jurnalistik yang memiliki pendekatan mendalam dan berani, Mata Najwa.
Pada episode perdana Mata Najwa, ia berani mengkritik bagaimana televisi seringkali melakukan kesalahan tanpa meminta maaf. Keberaniannya dalam menyampaikan suara dengan kritis inilah yang akhirnya membuat ia dikenal luas oleh masyarakat.
Perannya di ruang publik ini juga mendorong para perempuan untuk kerap berani mengambil keputusan atas hidupnya sendiri dan melawan stigma serta standar ganda yang tersebar di masyarakat.
Kita telah melihat dua contoh perempuan hebat yang meneruskan jejak Kartini. Sikap mereka yang tak gentar akan apapun yang menghadang patut kita teladani.
Tahukah kamu, bahwa kita juga dapat menjadi seperti perempuan-perempuan hebat tersebut? Mari kita mulai dari hal-hal terkecil di sekitar kita, seperti tepat waktu, mengambil inisiatif tanpa disuruh dan selalu berani menyelesaikan hal yang kita mulai.
Tidak harus menjadi jenderal atau orang berpangkat tinggi untuk menanamkan nilai kepemimpinan. Karena kepemimpinan bukan tentang ia yang berpangkat paling tinggi. Namun, siapa yang berani membangun dari hal-hal terkecil setiap hari.
Apakah Suara Perempuan Sudah Didengar?
Dampak dari keberanian perempuan hebat tak hanya terasa dalam bidang mereka masing-masing, karena keberanian merekalah suara perempuan dapat lebih didengar.
Penelitian dari jurnal British Journal of Political Science mengungkap bahwa kehadiran pemimpin perempuan dalam politik dapat meningkatkan keterlibatan perempuan lain dalam debat dan pengambilan keputusan.
Di Indonesia sendiri, hal ini bukanlah sekadar teori, sekarang keterlibatan itu sudah mulai terasa oleh perempuan di era modern.
Kini perempuan bukan lagi sebagai boneka yang mudah dikontrol, perempuan sudah banyak berperan sebagai pengambil keputusan serta penyampai aspirasi. Bahkan, aspirasi perempuan kini telah diberi wadah khusus oleh pemerintah, seperti Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) perempuan yang banyak diselenggarakan di daerah-daerah.
Hal ini tentunya patut kita apresiasi. Suara yang selama ini tidak didengar akhirnya mendapatkan ruang untuk didengar, serta dipertimbangkan dan diwujudkan dalam kebijakan nyata.
Seperti yang pernah diimpikan Kartini dulu, kini perempuan sudah memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Perempuan tidak perlu takut lagi tidak diperbolehkan sekolah maupun dijodohkan di usia muda.
Sekarang, sudah ada jaminan hukum yang berlaku, seperti Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 di mana perempuan juga berhak atas perlindungan hukum yang setara.
Tidak bisa kita pungkiri bahwa pilihan hidup perempuan yang akhirnya menjadi lebih beragam ini juga disebabkan oleh mereka yang berani memimpin dan bersuara untuk hak-hak perempuan.
Mereka yang telah berani memulai dan menyuarakan hak-hak kita, kini telah mengubah hidup perempuan menjadi lebih bebas untuk menentukan arah kehidupan.
Perjuangan yang telah dilalui Kartini dan para wanita hebat lainnya tidaklah sebentar. Dulu dijadikan 'objek' kini bisa 'bersuara'. Ini artinya, kesetaraan gender saat ini sudah jauh lebih baik daripada generasi lalu.
Namun, perjuangan perempuan tak sampai di sini saja, kemerdekaannya masih perlu kita perjuangkan lagi. Mengingat masih banyaknya kasus pelecehan yang terjadi, mari kita terus menyuarakan hak-hak perempuan. Jangan menunggu jadi hebat untuk sekadar memulai, mulailah dari tindakan kecil, tetapi nyata.
Kartini memulai perjuangannya dari sebuah ruangan sempit, bahkan menulis surat-suratnya saat ia dipingit. Lalu kini, ruang kita jauh lebih luas serta banyak kesempatan telah terbuka bebas. Namun apakah kita benar-benar memanfaatkannya, atau memilih diam?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


