Papua memang provinsi yang masih tertinggal dalam hal infrastuktur. Akan tetapi, bukan berarti kecerdasan dan kemampuan masyarakat Papua juga layak diragukan, ‘kan?
Buktinya, perempuan asal Papua ini berhasil lulus pendidikan dokter spesialis di UGM. Bahkan, lebih cepat dibandingkan rekannya. Belum lagi, ia juga mendapat predikat cum laude.
“Sangat bersyukur sekali bisa menempuh pendidikan dengan waktu yang cukup singkat,” kata dr. Merlins Renatasia Waromi dengan wajah sumringah.
Perempuan berusia 35 tahun asal Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua itu baru saja menyelesaikan pendidikan dokter spesialis di Universitas Gadjah Mada dalam waktu 3 tahun 2 bulan 16 hari.
Rata-rata masa studi dokter spesialis mencapai 4 tahun. Artinya, Merlins melaju lebih cepat dari mayoritas rekannya. Padahal, ia sempat mengambil cuti melahirkan selama 3 bulan di tengah pendidikan.
“Sebelumnya saya waktu awal masuk itu sempat tidak mengikuti perkuliahan selama 3 bulan karena harus cuti melahirkan… kalau misalnya nggak melahirkan mungkin jadinya 2 tahun sekian aja,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM.
Dari Papua, Menemukan Rumah Kedua di Yogyakarta
Sebelum melanjutkan pendidikan di UGM, Merlins lebih dulu menempuh pendidikan sarjana dan profesi dokter di Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Keputusan merantau ke Yogyakarta merupakan sebuah pertimbangan yang matang. Ia menyebut banyak orang Papua merasa nyaman tinggal di kota ini. Oleh karenanya, ia ingin merasakan apa yang dikatakan orang-orang.
“Yogyakarta itu bagi kami orang Papua itu seperti rumah kedua kami,” katanya.
Pengalaman itu pun akhirnya dapat ia rasakan sendiri. Meski berasal dari provinsi nan jauh, adaptasi sosial menjadi lebih mudah karena lingkungan sangat menerima keragaman.
Kawan, Marlina datang ke DIY berbekal dari beasiswa pemerintah daerah berbasis dana otonomi khusus (Otsus).
Program ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah daerah di Papua dengan UGM. Skema ini membuka akses pendidikan spesialis bagi Orang Asli Papua (OAP).
“Kami disekolahkan dari pemerintah daerah berdasarkan MoU dengan UGM tersebut,” jelasnya.
Skema ini menunjukkan bagaimana akses pendidikan spesialis tidak hanya soal kemampuan akademik. Ada faktor biaya dan kesempatan yang selama ini menjadi kendala. Program seperti ini menjadi jalan masuk bagi mahasiswa dari wilayah yang fasilitas pendidikannya belum merata.
Jatuh Cinta pada Mikroorganisme
Merlins mengambil spesialis Mikrobiologi Klinis. Sejak awal, ia sangat tertarik dan menyukai hal ini.
Ia tertarik melihat media pertumbuhan bakteri dan jamur. Warna-warnanya yang beragam justru memicu rasa ingin tahu. Di samping, ia juga melihat kebutuhan nyata di lapangan.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban penyakit infeksi tertinggi di dunia, itulah alasan saya mengambil spesialis ini,” ujarnya.
Mikrobiologi klinis sendiri adalah cabang kedokteran yang mempelajari mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur yang menyebabkan penyakit. Perannya penting untuk diagnosis infeksi, menentukan jenis kuman, hingga memilih antibiotik yang tepat.
Riset yang Menyentuh Masalah Nyata di Rumah Sakit
Dalam penelitiannya, Merlins mengangkat isu yang sangat relevan di dunia medis, yakni infeksi akibat penggunaan kateter.
Ia meneliti Catheter-associated urinary tract infection (CAUTI).
CAUTI adalah infeksi saluran kemih yang terjadi karena penggunaan kateter urin, terutama jika dipasang lebih dari dua hari. Kateter sendiri adalah alat berupa selang yang dimasukkan ke tubuh untuk membantu mengalirkan urin.
“Angka kejadian CAUTI di rumah sakit Sarjito itu cukup tinggi… faktor risikonya penurunan kesadaran dan riwayat pembedahan,” jelasnya.
Temuan ini penting. Infeksi seperti CAUTI sering dianggap sebagai efek samping yang jamak terjadi di rumah sakit. Padahal, hal itu sebenarnya bisa dicegah jika prosedur dan pengawasan dilakukan dengan ketat.
Sebenarnya, Apa Kunci Keberhasilan Merlins? Ini Katanya Soal Minder dan Kepercayaan Diri
Ketika ditanya soal kunci keberhasilan menyelesaikan studi dalam masa singkat, Merlins hanya menyebutkan 1 hal, yakni konsisten dengan target.
“Saya selalu menyiapkan list target dan timeline… jika tidak sesuai, saya akan mengejar ketertinggalan,” ungkapnya.
Ia juga memberi ruang untuk jeda. Ketika jenuh, ia berhenti sejenak sebelum kembali fokus.
Pada akhirnya, Merlins berhasil mengikuti Wisuda Program Pascasarjana Periode II 2025/2026, 21 Januari 2026 lalu.
Untuk itu, di akhir cerita, Merlins pun menyampaikan pesan.
“Tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya murid yang belum bertemu dengan guru yang tepat dan metode pembelajaran yang benar,” katanya.
Ia menekankan pentingnya membuang rasa minder untuk bisa beradaptasi dan melanjutkan pendidikan spesialis maupun subspesialis.
“Jangan pernah minder… kita harus lebih tekun agar bisa beradaptasi,” pesannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


