“Kalau saya menghilang, itu tidak baik,” tegas Felix Degei ketika menjelaskan alasan mengapa ia memilih pulang ke Papua. Padahal setelah lulus dari universitas di Australia, banyak peluang terbuka di depannya.
Ia bahkan sempat diminta membantu seorang anggota DPD RI di Jakarta, sebuah jabatan yang mentereng dan prestisius. Ia juga berpeluang menjadi dosen tetap di Universitas Cenderawasih. Namun Felix menolak.
Ia memilih kembali ke Nabire dan mengajar anak-anak sekolah dari daerah pedalaman.
Pilihan itu berangkat dari kondisi yang sering ia temui di kelas ketika mengajar. Banyak siswa SMA yang masih kesulitan membaca dan menghitung. Ia memilih mendidik dari bawah.
“Jadi perkalian 1 sampai 10 itu kita harus tunggu sampai menit, sampai lama keringatan mereka melafalkan membaca dengan lancar. Berbicara dengan baik itu jauh dari yang seharusnya di tingkat SMA,” kata Felix menjelaskan kondisi murid-muridnya.
Memang, sebagian besar siswa yang ia ajar berasal dari wilayah pesisir dan pegunungan terpencil di Papua, sehingga akses fasilitas dasar pun masih terbatas.
Kondisi seperti itu mengingatkannya pada masa kecilnya sendiri.
Hanya untuk Sekolah, Felix Jalan Sejauh 26 Kilometer
Felix lahir pada 1988 di Kampung Putaapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Di kampung kecil itu, listrik dan internet belum sepenuhnya tersedia.
Sekolah di sana dulu hanya sampai kelas empat SD. Jika ingin melanjutkan ke kelas lima dan enam, anak-anak harus pergi ke kampung tetangga bernama Modio. Jaraknya sekitar 26 kilometer.
Dengan jarak sejauh itu, anak-anak harus berjalan kaki karena tidak ada kendaraan apalagi transportasi umum. Belum lagi, rutenya harus melewati hutan dan sungai. Saat hujan, jalurnya jadi licin dan berbahaya. Tetapi bagi Felix kecil yang haus akan pendidikan, itulah satu-satunya cara agar tetap bisa sekolah.
“Pulang pergi itu pagi berangkat subuh sudah mulai jalan (kaki). Lalu habis sekolah pulang lagi. Begitu terus selama dua tahun,” kenang Felix.
Terbang ke Luar Negeri Terinspirasi dari Siaran Radio
“Kalau mau lihat orang yang beda warna kulit, beda rambut, mau ingin coba makanan yang beda dengan kita, mau ingin mengalami iklim, cuaca yang berbeda, ya harus belajar, teko lah, yang artinya sekolah,” kata ayah Felix.
Ucapan itu yang membuat Felix begitu kuat dan gigih ingin belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya adalah pensiunan guru agama Katolik di SD Negeri Inpres 1 Bumi Mulia Wanggar, Nabire. Dari ayahnya pula Felix belajar tentang pentingnya pendidikan.
Hal ini ditambah dengan siaran radio yang membangunkan mimpi Felix untuk pergi jauh dari kampung. Radio itu milik ayahnya. Kadang-kadang radio tersebut menangkap siaran dari luar negeri. Salah satu yang sering terdengar adalah siaran dari Australia.

Caption
Penyiar biasanya membuka siaran dengan kalimat, “Radio Australia dari Melbourne.”
Setiap kali mendengar nama kota itu, Felix selalu memperhatikannya.
Melbourne terdengar sangat jauh. Bahkan saat itu Felix mengira kuliah paling prestisius hanyalah perguruan tinggi di Nabire. Jayapura saja terasa jauh, apalagi Australia.
Namun kata “Melbourne” seperti tertanam di pikirannya. Ia pernah berkata dalam hati bahwa suatu hari ingin sampai ke sana.
Ketika mimpi itu diceritakan kepada teman-temannya, sebagian menertawakan. Bagi mereka, mimpi itu terasa terlalu jauh dari kenyataan.
Felix Tidak Langsung Sampai ke Australia.
Setelah lulus dari SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, ia melanjutkan kuliah di Universitas Cenderawasih pada jurusan Bimbingan dan Konseling dan lulus tahun 2012.
Bimbingan dan Konseling adalah bidang pendidikan yang mempelajari cara membantu siswa mengatasi masalah belajar, perkembangan psikologis, dan perencanaan masa depan.
Setelah lulus, Felix sempat menjadi asisten pengajar.
Tahun 2013 ia mendapat kesempatan mengikuti kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) di Denpasar. Di tempat itu ia baru mengenal berbagai program beasiswa luar negeri seperti Australia Awards, Fulbright, Chevening, dan LPDP.
Felix pertama kali mencoba mendaftar Australia Awards Scholarship. Namun ia gagal.
Felix tidak menyerah. Ia lantas mengikuti pelatihan English Language Training Assistance (ELTA) yang didanai Kedutaan Besar Australia. Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap belum berhasil.
Baru setelah itu ia mencoba mendaftar Beasiswa LPDP.
“Jadi sejak saat itu yang sebelumnya hanya menaruh hati ke Australia Award Scholarship (AAS) itu, saya berpikir kalau LPDP juga bagus ini. Karena sebelumnya belum terlalu tahu soal LPDP,” kata Felix.
Kesempatan itu akhirnya datang pada tahun 2016. Felix berangkat ke Australia pada Januari 2017. Ia melanjutkan studi Master of Education di The University of Adelaide.
“Puji Tuhan, Tuhan buka jalan, dan saya di 2016 itu menjadi salah satu penerima LPDP.”
Dana Beasiswa Dibagi dengan Adiknya
Yang perlu diketahui, meskipun jauh dari keluarga, dana beasiswa tidak digunakan untuk dirinya sendiri. Felix menyisihkan sebagian dana beasiswanya untuk membantu pendidikan dua adiknya.
Salah satu kuliah di Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Yogyakarta, yang fokus pada pembangunan masyarakat pedesaan. Adiknya yang lain belajar di Universitas Cenderawasih.
Keduanya akhirnya berhasil lulus.
Bagi Felix, pendidikan bukan hanya tentang dirinya, tapi juga untuk keluarga dan komunitasnya.
Itulah sebabnya ketika lulus dari Australia, Felix memilih pulang. Ia kembali ke Nabire dan mulai mengajar sejak 2019.
Pagi hari ia mengajar di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire sebagai guru honorer. Siang hingga sore ia mengajar mahasiswa di Program PGSD Universitas Cenderawasih di Nabire.
Ia juga mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) dan menjadi tutor bahasa Inggris di sekolah persiapan seminari Katolik.
Felix pernah berjalan puluhan kilometer demi sekolah. Kini ia ingin memastikan anak-anak di Papua tidak kehilangan kesempatan yang sama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


