perempuan bisa dwi kartikasari profesor pertama politeknik negeri batam - News | Good News From Indonesia 2026

Perempuan Bisa! Dwi Kartikasari, Profesor Pertama Politeknik Negeri Batam

Perempuan Bisa! Dwi Kartikasari, Profesor Pertama Politeknik Negeri Batam
images info

Perempuan Bisa! Dwi Kartikasari, Profesor Pertama Politeknik Negeri Batam


Profesor di lingkungan perguruan tinggi vokasi masih relatif terbatas dibanding universitas. Salah satunya faktornya adalah fokus utama perguruan tinggi vokasi terletak pada keterampilan terapan dan kebutuhan industri. Karena itu banyak dosen lebih fokus pada pengajaran praktik, kerja sama industri, dan proyek terapan.

Sementara jabatan profesor biasanya sangat terkait dengan publikasi ilmiah dan riset akademik.

Kondisi ini juga terjadi di kawasan industri seperti Batam. Kawasan tersebut selama ini lebih dikenal sebagai pusat manufaktur dan perdagangan internasional daripada pusat riset akademik. Karenanya, di sana, profesor di politeknik masih sangat jarang.

Kabar baiknya, ada sosok perempuan tangguh yang tembus jadi profesor di Batam.

Ia adalah Dwi Kartikasari, akademisi yang menjadi profesor pertama di Politeknik Negeri Batam (Polibatam).

Perjalanan akademiknya menarik untuk ditelusuri. Dwi Kartikasari tidak hanya belajar di Indonesia, tetapi juga menempuh pendidikan di Amerika Serikat hingga Brunei Darussalam.

Bidang yang ia tekuni pun spesifik tapi beragam, yakni logistik, bisnis internasional, dan daya saing ekonomi.

Ia juga tercatat menjadi satu-satunya profesor perempuan di bidang logistik di kampus ini.

baca juga

Awal Perjalanan Pendidikan dari ITB

Perjalanan akademik Dwi Kartikasari menunjukkan lintasan yang cukup panjang dan lintas negara. Ia menempuh pendidikan formal di Indonesia, Amerika Serikat, hingga Brunei Darussalam, serta mengikuti berbagai program pengembangan profesional di Asia, Eropa, dan Australia.

Pendidikan sarjana ditempuh di Institut Teknologi Bandung. Di kampus tersebut ia mengambil program Bachelor of Engineering (BE) bidang Teknik Penerbangan dan lulus pada 2003. Latar belakang teknik ini menjadi fondasi kuat untuk memahami sistem industri, operasi, dan logistik.

Setelah beberapa tahun berkarier dan memperdalam pengalaman profesional, ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Di Tulane University – A.B. Freeman School of Business, ia menempuh program Master of Business Administration (MBA) dengan fokus International Business dan Finance pada 2011–2013.

baca juga

Pada periode yang sama, ia juga terlibat dalam sejumlah program pengembangan kepemimpinan global. Di antaranya program Global Leadership di IAE Business School di Argentina dan Athens University of Economics and Business di Yunani pada 2012.

Setelah menyelesaikan MBA, Dwi terus memperluas pengalaman akademik dan profesional melalui berbagai pelatihan internasional. Ia mengikuti program Global Leadership di Tsinghua University, Tiongkok pada 2013, serta pelatihan pengembangan kurikulum di Temasek Polytechnic, Singapura pada 2015.

Pengalaman internasionalnya juga mencakup partisipasi dalam simposium akademik di Universiti Malaysia Terengganu pada 2016, serta seminar kebijakan ekonomi global yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok pada 2018.

Di bidang pendidikan vokasi dan logistik, ia mengikuti program training of trainer di Republic Polytechnic, Singapura, yang didukung oleh Temasek Foundation dan Ministry of Higher Education. Program ini berfokus pada pengajaran supply chain management untuk e-commerce.

baca juga

Selain itu, ia juga mengikuti pelatihan logistics and supply chain management di City of Glasgow College, Skotlandia pada 2018–2019. Pengalaman tersebut memperkuat keahliannya dalam manajemen rantai pasok yang kini menjadi salah satu fokus risetnya.

Dwi juga aktif dalam berbagai program kolaborasi akademik internasional. Ia mengikuti kegiatan akademik di Rangsit University serta Mahasarakham University di Thailand pada 2019–2020, serta program study visit Turku Sales Competition melalui proyek Erasmus+ SEASAC di Turku University of Applied Sciences, Finlandia.

Puncak pendidikan formalnya diraih saat ia menempuh program doktoral di Universiti Brunei Darussalam. Ia meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) in Management pada 2024 setelah menjalani studi sejak 2021.

Dari berbagai pendidikan itu, Dwi Kartikasari telah mengantongi sejumlah keahlian, antara lain: International Business, Supply Chain Management, Logistics, Project Management, dan Competitive Strategy.

baca juga

Riwayat Karier: Jajaki Berbagai Profesi

Jejak profesional Prof. Dwi Kartikasari tidak dibangun dalam waktu singkat. Perjalanannya berlangsung bertahap, dari dunia teknik, masuk ke industri, lalu berlabuh lama di dunia pendidikan vokasi di Batam.

Kariernya dimulai setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung. Saat itu ia sempat menjalani masa magang di PT Dirgantara Indonesia di Bandung pada 2003. Pengalaman tersebut memberinya gambaran langsung tentang industri teknologi dan sistem produksi pesawat.

Tidak lama setelah itu, ia bekerja sebagai sales engineer di perusahaan teknologi industri, Labtech International Ltd. Di posisi ini ia bertugas menyusun dokumen penawaran proyek, melakukan analisis teknis, serta berkomunikasi dengan klien industri. Pengalaman ini membuatnya akrab dengan praktik bisnis dan manajemen proyek sejak awal karier.

baca juga

Namun jalannya kemudian berbelok ke dunia pendidikan. Pada 2005 ia mulai mengajar di Universitas Internasional Batam. Di sana ia mengampu mata kuliah matematika dan statistik. Pengalaman mengajar ini menjadi pintu masuk menuju karier akademik yang kemudian ia jalani selama hampir dua dekade.

Setahun kemudian ia bergabung dengan Politeknik Negeri Batam. Di kampus vokasi ini ia mengajar berbagai mata kuliah, mulai dari international business, project management, hingga aplikasi teknologi informasi dalam bisnis. Perannya tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Seiring waktu, tanggung jawabnya terus bertambah. Pada periode 2016–2021 ia dipercaya menjadi dekan di bidang bisnis dan manajemen. Pada masa inilah ia juga aktif membuka program studi baru, membangun jejaring dengan dunia industri, serta memperkuat hubungan kerja sama internasional kampus.

Di luar tugas akademik, ia juga terlibat dalam berbagai proyek kolaborasi global. Salah satunya melalui program Erasmus+ dari Uni Eropa yang mengembangkan Southeast Asian Sales Competition (SEASAC). Dalam proyek ini ia terlibat sebagai anggota tim teknis yang mengembangkan kurikulum penjualan, merancang kompetisi mahasiswa, hingga melatih dosen di kawasan Asia Tenggara.

baca juga

Pengalaman internasionalnya juga terlihat dalam kerja sama dengan lembaga Inggris. Ia terlibat dalam program UK Skills for Prosperity yang didukung oleh International Labour Organization dan Kedutaan Inggris di Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan sistem pelatihan keterampilan, terutama untuk sektor maritim yang berkembang di kawasan.

Selain itu, ia juga memimpin proyek kolaborasi digital antara Indonesia dan Inggris yang didukung oleh British Council bersama City of Glasgow College. Program ini berfokus pada inovasi digital serta penguatan kerja sama pendidikan vokasi lintas negara.

Peran kepemimpinannya terus berkembang. Sejak 2025 ia dipercaya memimpin Center of ASEAN and Competitiveness Studies di Politeknik Negeri Batam. Pusat studi ini berfokus pada riset tentang daya saing kawasan dan ekonomi regional ASEAN. Salah satu riset yang ia dorong adalah penelitian tentang peran diaspora terhadap ekonomi, yang didanai oleh program hibah penelitian BIMA.

Di luar kampus, ia juga pernah menjadi konsultan untuk Badan Pengusahaan Batam dalam kajian pengembangan kawasan logistik di sekitar Hang Nadim Aerocity. Kajian ini berkaitan dengan potensi Batam sebagai simpul logistik regional yang terhubung dengan jalur perdagangan internasional.

Ada pula sisi lain dari kiprahnya yang jarang diketahui. Pada 2007 ia ikut mendirikan Koperasi Polibatam untuk mahasiswa dan staf kampus. Dari modal awal sekitar Rp10 juta, koperasi ini berkembang hingga memiliki aset sekitar Rp1 miliar melalui usaha ritel, pengelolaan gedung, dan layanan pembiayaan.

Rangkaian pengalaman itu membuat Prof. Dwi tidak hanya dikenal sebagai dosen atau peneliti. Ia juga berperan sebagai penghubung antara dunia akademik, industri, dan kebijakan ekonomi di kawasan Batam.

Ruang kelas, proyek internasional, hingga riset tentang daya saing kawasan, semuanya membentuk perjalanan panjang yang akhirnya mengantarkannya menjadi profesor pertama di kampus vokasi tersebut.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.