Nanang baru saja lulus sebagai Sarjana Hukum dengan predikat sangat memuaskan. Sebuah pencapaian yang bikin siapa pun berdecak kagum. Tapi bukan predikat yang menjadi sorotan.
Yang lebih menarik adalah bagaimana ia menaklukkan keseharian. Sebab Nanang adalah seorang penyandang disabilitas. Nanang hidup dengan keterbatasan fisik yang membuat langkahnya butuh usaha lebih.
Saat kuliah, ia harus berpindah antar gedung yang mayoritas masih menggunakan tangga. Nanang bergelut dengan mobilitas di lingkungan yang belum tentu semuanya ramah disabilitas.
Oleh karenanya, perjuangan Nanang tidak sebagaimana mahasiswa lainnya. Bagi Nanang, rutinitas akademik adalah usaha ekstra. Namun, alih-alih menyerah, ia justru mengubah hambatan itu sebagai tantangan yang menjadikannya mengantongi semangat lebih.
Nama lengkapnya adalah Nanang Kasim Uar. Ia merupakan mahasiswa penyandang disabilitas dari Universitas Islam Negeri A.M Sangadji Ambon, yang Desember lalu berhasil diwisuda. Tidak kaleng-kaleng, ia lulus jadi Sarjana Hukum dengan predikat sangat memuaskan.
Pada 27 Desember 2025, UIN A.M Sangadji mewisuda 527 lulusan program sarjana dan magister. Rinciannya, sebanyak 60 wisudawan merupakan jenjang magister, sisanya adalah sarjana. Di Fakultas Syariah dan Hukum Islam sendiri, wisudawan sebanyak 49 orang. Nanang menjadi salah satunya.
Momen paling berkesan terjadi saat ia dipanggil ke podium. Jajaran senat akademik yang terdiri dari rektor, guru besar, dan dekan secara khusus berdiri dan memberikan tepuk tangan. Bahkan, Rektor UIN A.M Sangadji memberikan pelukan hangat kepada sosok istimewa.
Pelukan Rektor dan Hak Pendidikan yang Setara
Meski berbeda, lingkungan kuliah tampak suportif. Saat namanya disebut di podium, Nanang langsung dikerubungi pelukan hangat dari teman-temannya.
Sebab, di tempat lain, masih banyak rekan-rekan difabel yang harus berjuang sendirian karena terisolasi secara sosial atau bahkan menghadapi perundungan.
Keberhasilan Nanang adalah bukti bahwa jika hak pendidikan diberikan secara setara tanpa diskriminasi, keterbatasan fisik hanyalah sebuah catatan kaki, bukan titik akhir.
Ini menunjukkan, Nanang tidak hanya lulus ujian skripsi. Setidaknya ia juga telah lulus dari ketangguhan hidup saat menempuh pendidikan.
Kini, sudah seharusnya juga lingkungan kerja bisa lebih inklusif bagi para difabel.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


