Sejak awal dicetuskan, Gentengisasi memang bukan hanya persoalan estetika. Lebih kompleks dari itu; ada berbagai pertimbangan, mulai dari aspek yang lebih teknis hingga menyangkut cara hidup, bahkan keyakinan masyarakat.
“Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” kata Dr. Ashar Saputra, dosen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, Kamis (5/2).
Gagasan Gentengisasi mulai dicanangkan sejak Februari 2026. Nah, program ini mulai bergerak pada Maret 2026.
Dari Jatiwangi, Majalengka—sentra genteng tanah liat—pemerintah memulai langkah awal dengan menyerap produksi UMKM untuk memasok kebutuhan perumahan di berbagai daerah.
Memang, sejak awal, program ini memang diarahkan bukan sekadar untuk pembangunan rumah, tetapi juga untuk menyerap produk UMKM. Hal itu ditegaskan langsung oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait.
“Negara hadir bukan hanya membangun rumah, tetapi juga memastikan pembangunan itu memberi manfaat bagi rakyat kecil dan UMKM kita,” ujarnya, 11 Maret lalu saat pelepasan genteng.
Dari sana, sebanyak 24 truk genteng dipesan, dengan komitmen transaksi sekitar Rp3 miliar dari berbagai program pemerintah dan swasta.
Program Gentengisasi tidak dimulai dari satu kawasan perumahan, melainkan dari hulu produksi. Dari Jatiwangi, pusat genteng tanah liat nasional, pemerintah mulai menyerap produk UMKM sebelum didistribusikan ke berbagai proyek di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Majalengka, program ini langsung bersinggungan dengan perbaikan 1.715 rumah tidak layak huni. Angka itu belum termasuk sekitar 900 rumah dari program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang juga akan menyerap genteng dari pengrajin lokal.
Distribusinya bahkan mulai menjangkau proyek di Bogor dan Serang, menandakan bahwa program ini sejak awal dirancang tidak berhenti di satu wilayah.
"Tahun 2026 kami akan melaksanakan program perbaikan rumah tidak layak huni 1715 unit dan diperkirakan belanja untuk kebutuhan genteng mencapai sekitar Rp1,5 miliar,” kata Bupati Majalengka H. Eman Suherman.
Nah, pertanyaannya, apakah genteng selalu menjadi pilihan terbaik dan bisa diterapkan di berbagai wilayah?
Pembangunan Harus Pertimbangkan Tiga Aspek
“Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” tegas Dr. Ashar Saputra, dosen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada
Ashar menilai ada tiga hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan, dalam hal ini terkhusus pada Gentengisasi . Tiga aspek pembangunan yang tidak boleh terlewat di antaranya teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan.
“Saya tidak langsung mengomentari program Gentengisasi itu sendiri, tetapi melihatnya dari tiga pendekatan tersebut. Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” ujarnya, dikutip dari laman UGM.
Mari mulai dari yang paling dasar, yakni bentuk material.
Seng berbentuk lembaran. Ini membuatnya bisa dipasang di atap dengan kemiringan sangat rendah. Kemiringan bahkan mencapai sekitar 5%. Genteng jelas tidak bisa.
“Genteng umumnya baru aman digunakan pada kemiringan lebih dari 30 persen,” jelas Ashar.
Kemiringan atap ini berkaitan dengan sudut miring atap agar air hujan mengalir. Semakin kecil sudut, semakin rawan bocor (untuk material tertentu)
Dalam case ini, seng punya keunggulan praktis.
Lanjut ke perbedaan berikutnya, yakni pada bobot.
Genteng—baik tanah liat, keramik, atau beton—lebih berat dibanding seng. Dalam dunia konstruksi, berat punya konsekuensi besar.
“Kalau bebannya besar, struktur harus mampu menahan. Saat terjadi gempa, massa yang besar juga meningkatkan risiko jika struktur tidak direncanakan dengan baik,” kata Ashar.
Artinya, atap berat bisa menjadi risiko jika rumah tidak dirancang dengan benar.
Seng Ringan, tapi Bukan Berarti Tanpa Risiko
Meski dari dua aspek di atas seng lebih unggul, bukan berarti atap seng tanpa celah. Justru karena ringan, ia lebih rentan saat angin kencang.
Jadi sebenarnya bukan soal mana yang paling aman. Tapi mana yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan.
Apalagi, genteng memang dikenal membuat rumah lebih sejuk. Tapi penggunaan genteng tidak selalu ideal di berbagai kawasan.
“Di daerah pegunungan yang dingin, justru dibutuhkan rumah yang bisa memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat,” imbuhnya.
Masuk ke aspek yang jarang dibahas, yakni budaya.
Di beberapa daerah di Indonesia, ada kepercayaan bahwa orang hidup tidak boleh tinggal di bawah material dari tanah.
“Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan sosial budaya,” kata Ashar.
Ini menjelaskan kenapa tidak semua masyarakat memilih genteng, meski dianggap lebih baik.
Pilihan atap juga bisa mengubah wajah budaya. Rumah seperti Rumah Gadang dan Tongkonan dirancang dengan material ringan dan lentur seperti ijuk atau sirap.
“Jika menggunakan genteng yang berat dan kaku, itu akan menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi menghilangkan karakter asli bangunan tradisional,” katanya.
Belum lagi pertimbangan aspek keberlanjutan. Dalam ilmu bangunan, dikenal istilah energi embodied. Energi embodied adalah total energi yang digunakan sejak material diproduksi, diangkut, hingga dipasang.
“Belum tentu penggunaan genteng selalu lebih hemat energi dibandingkan seng, atau sebaliknya,” kata Ashar (UGM, 5 Februari 2026).
Artinya, pilihan material juga berdampak pada lingkungan.
Jadi, Harus Pilih Mana?
Jawabannya tidak saklek hitam atau putih. Ashar justru menekankan fleksibilitas.
“Indonesia itu beragam. Kalau semua dipaksa mengikuti satu pilihan, itu kurang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Di sini letak poin pentingnya bahwa masyarakat seharusnya menjadi subjek, bukan objek pembangunan. Apakah mereka diberi ruang untuk menentukan, atau hanya mengikuti keputusan yang sudah ditetapkan.
Ketika masyarakat ditempatkan sebagai subjek, mereka bisa menyesuaikan pilihan dengan kondisi yang mereka hadapi—baik dari sisi lingkungan, budaya, maupun kemampuan ekonomi. Sebaliknya, jika hanya menjadi objek, keputusan cenderung seragam, tanpa mempertimbangkan perbedaan di tiap daerah.
Pandangan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak cukup ditempatkan sebagai penerima kebijakan semata. Ada kebutuhan untuk memberi ruang agar mereka bisa menentukan pilihan yang sesuai dengan kondisi dan kebudayaannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


