Presiden Prabowo Subianto mengenalkan gerakan anyar yang ia sebut dengan Gentengisasi Nasional. Program ini dikenalkannya di Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah beberapa waktu lalu.
Gentengisasi adalah rencana gerakan nasional untuk mengganti atap rumah yang masih berbahan seng menjadi genteng berbahan tanah liat. Menurut Prabowo, atap seng yang saat ini masih banyak digunakan di rumah tangga Indonesia dianggap membuat hunian menjadi panas dan lekas berkarat.
Tak hanya itu, ia juga mengatakan jika penggunaan seng untuk atap “mengganggu” estetika. Oleh karena itu, ia mendorong penggantian asap seng dengan genteng yang dianggap lebih indah, sejuk, dan tertata.
Di Indonesia sendiri, ada berbagai bahan jenis atap yang digunakan masyarakat, seperti genteng, beton, seng, dan kayu/sirap. Namun, sebenarnya seberapa banyak masyarakat di Indonesia yang sudah menggunakan genteng untuk atap rumah mereka? Betulkah masih banyak daerah yang menggunakan atap berbahan seng?
Presentase Penggunaan Atap Genteng di Rumah Tangga Indonesia
Data Badan Pusat Statistik yang dibagikan melalui akun Instagram resminya @bps_statistics, sekitar 54,24 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan genteng sebagai bahan bangunan atap tempat tinggalnya. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi provinsi dengan persentase rumah tangga yang menggunakan atap genteng terluas di tahun 2025 dengan total 93,03 persen.
Kemudian, Jawa Timur mengekor di posisi ke-2 dengan 89,58 persen rumah beratap genteng. Di posisi ketiga ada Lampung dengan presentase sebesar 85,94 persen.
BPS menuliskan, penggunaan genteng di rumah tangga tahun 2025 lebih banyak terkonsentrasi di area perkotaan, yakni 57,35 persen. Di sisi lain, pada wilayah perdesaan, ada sekitar 49,71 persen rumah tangga yang menggunakan atap jenis genteng.
Mengapa Tidak Semua Rumah Tangga Menggunakan Genteng?
Jawabannya karena beberapa faktor, yaitu kondisi geografis, ketersediaan bahan baku, hingga faktor tradisi. Beberapa lokasi dinilai lebih cocok menggunakan atap jenis seng, kayu/sirap dibandingkan genteng.
Melansir dari ugm.ac.id, genteng memang cenderung lebih baik dalam meredam panas, sehingga bisa membuat suhu di dalam bangunan terasa lebih sejuk. Namun, hal ini belum mesti ideal jika diterapkan di semua wilayah.
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Tenik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ashar Saputra, memberikan contoh penggunaan atap jenis seng justru dibutuhkan di rumah-rumah yang ada di daerah pegunungan yang dingin. Seng bisa menjadi pilihan karena sifat seng yang menyerap panas bisa membantu membuat bangunan bagian dalam terasa lebih hangat.
Contoh nyata dari sedikitnya penggunaan genteng di rumah tangga di Indonesia bisa dilihat di Sulawesi. Data yang dipublikasikan BPS Sulawesi Selatan di @bpssulsesl, mayoritas provinsi di Sulawesi menggunakan seng, kayu, atau sirap sebagai atap mereka.
Menariknya, Sulawesi Tenggara yang menjadi provinsi tertinggi di Sulawesi dalam penggunaan atap genteng hanya mencatatkan sekitar 3,35 persen saja. Bahkan, di Gorontalo, hanya sekitar 0,90 persen rumah tangga yang memakai atap genteng.
Hal ini disebabkan oleh ketersediaan bahan bangunan lokal dan tradisi. Rumah-rumah di Sulawesi juga banyak yang berbentuk rumah panggung, sehingga penggunaan genteng akan jauh lebih berat dan tidak sesuai dengan konstruksi bangunan. Sebagai alternatif, masyarakat memilih untuk menggunakan seng, kayu, atau sirap.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


