Gagasan Prabowo untuk mengubah wajah rumah masyarakat Indonesia lewat program Gentengisasi memang berdasar. Proyek itu dicanangkan demi kenyamanan hunian masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan temuan sejumlah riset tentang kenyamanan termal hunian tropis yang dipengaruhi oleh jenis atap.
Studi Analisa Transmisi Panas Matahari melalui Material Bidang Atap di Tangerang Selatan menunjukkan bahwa atap logam seperti seng memiliki tingkat transmisi panas yang jauh lebih tinggi dibanding genteng beton. Oleh karena itu, suhu ruang di bawahnya meningkat lebih cepat.
Temuan tersebut diperkuat oleh studi empiris di Perumahan Buha Griya Permai, Manado, yang mendapati bahwa beban panas terbesar dalam rumah justru berasal dari panas yang menyusup melalui atap. Beban ini bahkan lebih dominan dibanding faktor orientasi bangunan.
Penelitian lain tentang performa termal atap di iklim tropis juga menegaskan bahwa perbedaan nilai konduktivitas panas material sangat menentukan. Bahan dengan konduktivitas lebih rendah seperti genteng tanah liat atau beton terbukti mampu meredam panas lebih efektif dibanding logam tipis, sehingga meningkatkan kenyamanan penghuni meski biaya awal pembangunannya lebih mahal.
Ya, memang genteng tanah liat lebih mahal dari segi bahan pembuatan maupun biaya pemasangan. Akan tetapi, banyak studi mengemukakan bahwa genteng tanah liat lebih cocok digunakan di Indonesia.
Menengok Eksistensi Pengrajin Atap Daun Rumbia di Sungai Tabuk Melawan Atap Bikinan Pabrik
Genteng vs Seng, Lebih Murah Mana?
Secara kasat mata, seng memang dinilai lebih unggul. Seng lebih murah, ringan, dan cepat dipasang. Untuk rumah sederhana atau kondisi darurat, memilih seng terasa masuk akal.
Nah, problem-nya, di iklim tropis, dengan karakteristik seng yang menyerap panas berlebihan, apakah rumah akan terasa nyaman?
Rumah justru akan terasa lebih gerah, konsumsi kipas atau listrik pun meningkat. Seng juga berisik saat hujan, mudah kusam, dan dalam jangka panjang rentan karat. Ketika rusak, seng pasti diganti lagi. Memang murah di awal, tapi apakah akan bertahan lama?
“… Seng atau asbes, yang cenderung panas, bising saat hujan, dan pada kasus asbes memiliki risiko kesehatan serius,” ungkap Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Georgius Budi Yulianto yang kerap dipanggil Bugar, sebagaimana dikutip dari Kumparan.
Genteng sebaliknya. Biaya awalnya tinggi, tapi ongkos sosial dan lingkungan jangka panjangnya lebih rendah. Rongga udara pada genteng tanah liat menciptakan insulasi alami. Rumah lebih sejuk tanpa energi tambahan.
Secara visual, genteng juga tidak cepat menua seperti seng. Genteng tidak berkarat dan tidak cepat berubah warna. Genteng menciptakan visual yang rapi serta memperbaiki lanskap desa dan kota.
“Secara mikroklimatik, genteng tanah liat memiliki kemampuan isolasi panas yang baik sehingga meningkatkan kenyamanan termal ruang di bawahnya, sekaligus memiliki nilai keberlanjutan karena berasal dari material alami dan dapat didaur ulang,” katanya.
Proyek Demi Rantai Ekonomi?
Selain dari kenyamanan, proyek ini juga dinilai akan memberdayakan usaha rakyat.
Seng dan material metal sebagian besar bergantung pada industri besar dan rantai pasok panjang. Sementara genteng tanah liat bisa diproduksi oleh industri kecil, koperasi desa, dan sentra lokal.
Program gentengisasi membuka peluang kerja di tingkat akar rumput, dari pengrajin, pengangkut, hingga tukang bangunan.
Catatan: Tidak Semua Wilayah Bisa Digentengisasi
Meski unggul, atap genteng tidak bisa diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.
Bugar menekankan bahwa pemilihan jenis atap rumah di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis dan ekologis negeri ini yang sangat beragam. Indonesia bukan satu bentang darat homogen, melainkan gugusan wilayah dengan kondisi alam, sumber daya, dan risiko kebencanaan yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, menurutnya, mustahil menetapkan satu jenis material atap sebagai solusi tunggal untuk seluruh wilayah.
Ia mencontohkan Pulau Jawa, secara historis, genteng tanah liat berkembang karena faktor ketersediaan bahan baku dan kesesuaiannya dengan iklim. Tanah liat relatif melimpah, teknologi pembakaran genteng telah lama dikuasai masyarakat, dan karakter genteng cocok untuk meredam panas di wilayah beriklim tropis lembap.
Namun kondisi tersebut tidak otomatis berlaku di wilayah lain. Di daerah kepulauan seperti Maluku, atau kawasan pesisir yang berangin kencang dan rawan gempa, ketersediaan tanah liat terbatas. sementara risiko kebencanaan menuntut material atap yang lebih ringan dan mudah dipasang.
Banyak orang mengira atap yang berat seperti genteng tanah liat lebih aman di daerah berangin kencang karena tidak mudah terangkat. Pada angin ekstrem, kerusakan atap justru sering terjadi akibat efek hisap di atas permukaan atap, bukan dorongan dari bawah. Dalam kondisi ini, yang menentukan bukan berat material, melainkan sistem pengikatnya.
Genteng tanah liat memang berat, tetapi dipasang dalam kepingan-kepingan dan tidak selalu diikat kuat ke rangka. Jika satu genteng terlepas, angin dapat masuk ke bawah lapisan atap dan memicu kerusakan berantai.
Sebaliknya, material atap yang lebih ringan dapat lebih tahan angin apabila dipasang sebagai satu kesatuan dan diikat kuat ke struktur bangunan. Oleh karena itu, ketahanan atap terhadap angin kencang tidak ditentukan oleh berat material, melainkan oleh kualitas sistem konstruksinya.
Dalam hal ini, memaksakan penggunaan genteng tanah liat di seluruh wilayah justru berpotensi menimbulkan masalah baru, baik dari sisi keselamatan bangunan maupun efisiensi konstruksi.
Bugar menegaskan bahwa tidak ada material atap yang bisa disebut paling benar secara universal. Penentuan material ideal seharusnya mempertimbangkan aspek keandalan bangunan secara menyeluruh, yakni keselamatan struktur, kemudahan konstruksi, kesehatan dan kenyamanan penghuni, hingga ketahanan terhadap ancaman gempa bumi dan angin ekstrem.
Dengan pertimbangan tersebut, Bugar menilai gagasan Prabowo tentang penggunaan genteng tanah liat pada dasarnya dapat diterima, selama diterapkan secara kontekstual dan tidak dijadikan kebijakan seragam nasional. Genteng tanah liat layak didorong di wilayah yang memungkinkan, tetapi fleksibilitas tetap harus dijaga agar prinsip keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan berjalan seimbang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


