Beginilah jadinya kalau masyarakat dipimpin oleh sosok yang kompeten. Taufiq Supriadi, Ketua RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur mengubah selokan jadi tempat ternak lele. Padahal, selokan identik dengan tempat yang digenangi air kotor dan bau. Tapi Taufiq bisa merancang kolam lele sedemikian rupa di selokan.
Sebenarnya, Taufiq hanya ingin memanfaatkan ruang. Gagasan untuk memanfaatkan selokan itu didapat dari pengalaman pribadinya saat berada di Tokyo, Jepang. Taufiq melihat ikan hidup di saluran air kota.
“Waktu ke Tokyo, saya lihat ada ikan di saluran air. Itu sama seperti ini dua lantai, bagian bawah untuk air kotor, bagian atasnya untuk ikan,” ujar Taufiq.
Ia juga mengaitkan pengalamannya dengan sistem pemanfaatan saluran air untuk budidaya ikan di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Taufiq lantas merancang selokan air menjadi dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk saluran air, sedangkan lantai atas dimanfaatkan untuk kolam.
“Saya terpikir menerapkan hal itu di sini karena kita punya keterbatasan lahan. Di sini semua sudah beton, enggak ada tanah kosong,” imbuh Taufiq.
Bagaimana Cara Beternak Lele di Selokan?
Kolam lele itu dibangun di atas selokan sepanjang 14 meter. Struktur utamanya menggunakan beton pracetak U-Ditch, jenis beton berbentuk huruf U yang umum dipakai untuk drainase kota.
Menurut Taufiq, kedalaman total U-Ditch mencapai 60 sentimeter. Ruang itu dibagi dua: 35 sentimeter bagian bawah tetap menjadi saluran air, sedangkan 25 sentimeter bagian atas menjadi kolam lele.
“Di atas untuk lele, di bawah tetap saluran air. Enggak ditutup, enggak mengganggu,” ujar Taufiq
Dengan sistem itu, kolam lele tidak menghilangkan fungsi utama selokan. Kolam hanya memanfaatkan ruang di atasnya.
Beruntungnya, selama 22 tahun tinggal di wilayah tersebut, saluran air di lingkungannya tidak pernah meluap. Bahkan saat hujan deras, air hanya naik sekitar 3–4 sentimeter.
“Alhamdulillah belum pernah banjir,” ujar Taufiq.
Ia juga menyebut pembangunan kolam telah mendapat izin dari Kementerian PUPR dan Dinas Sumber Daya Air.
Kolam Lele Itu Tidak Diprivatisasi
Program ini tidak berhenti sebagai inovasi lingkungan. Ia menghasilkan nilai ekonomi.
Program kolam lele di atas selokan itu tidak dikelola perorangan. Sejak awal, Taufiq menempatkannya sebagai kegiatan lingkungan berbasis warga. Ada kelompok yang bertugas merawat kolam, memberi pakan, menjaga kualitas air, hingga menyiapkan panen.
Untuk operasional harian, Taufiq melibatkan warga yang telah pensiun dan warga yang belum bekerja. Mereka mendapat pelatihan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) agar ikan tetap sehat dan tumbuh optimal.
Dari sistem pengelolaan inilah kolam mulai menghasilkan nilai ekonomi. Dalam satu kali panen, satu kolam mampu memproduksi sekitar 800 kilogram ikan lele. Panen dilakukan empat kali dalam setahun.
“Lele yang dipanen itu dijual Rp 25.000 per kilo,” ujar Taufiq
Dengan skema tersebut, satu kolam dapat menghasilkan sekitar Rp 80 juta per tahun. Angka ini cukup besar untuk ukuran program lingkungan di tingkat RT.
Menariknya, hasil penjualan tidak dikumpulkan pada satu pihak. Sejak awal, Taufiq menyusun skema pembagian hasil yang terbuka dan dibagi ke beberapa unsur warga.
Kelompok tani menerima Rp 2 juta, pemilik rumah lokasi kolam mendapat Rp 400.000, kas RT dan RW masing-masing Rp400.000, koordinator kolam Rp720.000, serta dua penjaga kolam menerima total Rp6,4 juta dari satu kali panen.
Skema ini membuat program tersebut menjadi milik bersama, bukan proyek individu.
Langkah Selanjutnya, Fokuskan ke Gizi Warga
Inovasi berikutnya didasarkan pada kepedulian terhadap gizi masyarakat. Taufiq membuat kolam gizi warga yang berisi ikan nila dan bawal. Kolam ini bukan untuk dijual. Ikan yang dihasilkan diprioritaskan untuk balita dan lansia.
Program ini menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting berbasis lingkungan.
“Saya bikin kolam gizi buat warga, untuk lansia dan balita,” ujar Taufiq
Warga boleh mengambil ikan saat panen tanpa prosedur rumit. Syaratnya hanya satu, yakni ukuran ikan sudah layak konsumsi.
Taufiq Diundang ke Negara Tetangga
Inovasi Taufiq sudah terdengar hingga ke negara tetangga. Pada Agustus 2025, Taufiq diundang ke kantor Swirlova di Tiongkok. Di sana, ia mempresentasikan sekitar 40 program lingkungan yang dirancang sebagai media pembelajaran pencegahan krisis planet.
Ia berangkat bersama Presiden Direktur PT Quantum Synergy Artificial Intelligence, Tony Jaya Laksana.
Di Guangzhou, Taufiq melihat mesin yang mampu mengolah air tawar menjadi air minum dan alat pendeteksi kandungan zat dalam air. Alat ini bekerja dengan sensor kimia yang membaca partikel berbahaya, seperti logam berat atau bakteri.
Swirlova menawarkan alat pengolahan air untuk RT 08. Ukurannya 1,6 x 4 meter.
Hal ini berkaitan dengan salah satu program Taufiq yang dirancang, yakni menyediakan air sumur artesis.
Ya, Taufiq yang baru terpilih menjadi Ketua RT pada 2023 lalu mencanangkan membuat sumur artesis bagi warga untuk memenuhi kebutuhan air.
Tak perlu bertahun-tahun, Taufiq hanya perlu kurang dari tiga bulan untuk menuntaskan sumur itu bahkan sebagian besar program yang ia rancang.
“Dalam 70 hari sudah tercapai semua,” kata Taufiq.
Program-program itu di antaranya kolam gizi untuk balita dan lansia, sumur resapan, sumur artesis sedalam 31 meter, pengelolaan sampah, hingga situs web RT dan 16 kamera CCTV di gang-gang kecil.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


