Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah yang saling bertaut. Zaman dahulu, banyak masyarakat Nusantara dari berbagai suku yang berhijrah ke Negeri Jiran dan menetap di sana hingga beranak-pinak.
Salah satu suku Indonesia yang gemar merantau adalah Minangkabau. Suku asli Sumatra Barat ini memang dikenal sebagai salah satu suku yang suka mencari penghidupan hingga negeri seberang.
Konon, orang Minang yang pertama kali berlabuh ke Malaysia datang dan dibagi dalam beberapa gelombang di abad-19. Mereka banyak yang menetap di Selangor dan Negeri Sembilan yang kemudian menjadi “pusat” budaya Minang di luar negeri.
Kemungkinan besar, dari sinilah asimilasi budaya dua negara itu terjadi. Salah satu bangunan yang konon banyak disebut “terinspirasi” dari budaya Minangkabau di Malaysia adalah Istana Seri Menanti. Mengapa demikian?
Istana Seri Menanti, Benarkah Sama dengan Rumah Gadang Minangkbau?
Istana Seri Menanti adalah sebuah istana bersejarah yang terletak di Seri Menanti, Kuala Pilah, Negeri Sembilan, Malaysia. Dibangun pada 1902, Istana Seri Menanti merupakan pusat pemerintahan Raja-raja Negeri Sembilan di masa lalu sekaligus ikon keluarga kerajaan.
Menyadur dari pustakailmu.arkib.gov.my yang dikelola Kerajaan Malaysia, nama istana yang selesai dibangun pada 1908 ini diambil dari tiga tangkai padi yang tumbuh di sekitar area itu. Padi tersebut disebut dengan Padi Menanti atau ‘roh padi yang menunggu’. Lebih lanjut, dalam bahasa Jawa, padi berarti ‘Seri’, sehingga kemudian namanya diganti menjadi Seri Menanti.
Bangunan bertingkat empat ini dirancang oleh dua pengrajin lokal Melayu bernama Kahar dan Taib. Istana Seri Menanti sendiri dibangun untuk menggantikan Istana Pulih yang dibakar tentara Inggris di masa itu.
Pembangunannya menghabiskan biaya hingga US$45.000. Saat itu, pemimpin Negeri Sembilan, Tuanku Muhammad ibni Tuanku Antah, menginginkan desain istana yang menunjukkan dan memiliki hubungan dengan alam Minangkabau. Akhirnya, bagian-bagian istana dibangun dengan “rasa” Minangkabau.
Yang menarik, tidak ada satu pun paku yang dipakai dalam membangun Istana Seri Menanti. Seluruh bagiannya terbuat dari kayu, mulai dari pilar hingga atap. Alih-alih paku, struktur bangunannya disambung dengan pasak kayu.
Arsitektur semacam ini lumrah ditemui di Bumi Minang, di mana Rumah Gadang juga dibangun tanpa paku. Rumah tradisional yang ikonik tersebut dibangun dari kayu pilihan, ijuk, dan bambu.
Strukturnya diklaim dapat tahan gempa, mengingat Sumatra Barat adalah wilayah rawan gempa. Hal ini selaras dengan filosofi masyarakat Minangkabau yang beranggapan bahwa manusia hidup selaras dan berdampingan dengan alam.
Gabungan Budaya Melayu dan Minangkabau
Di sisi lain, tulisan ilmiah milik Nurdiyana Zainal Abidin dkk., yang diterbitkan oleh IOP Publishing, Negeri Sembilan memiliki adat yang disebut Adat Perpatih. Adat ini cukup mirip dengan Minangkabau.
Kemiripan itu terjadi akibat percampuran budaya yang terjadi saat adanya migrasi besar-besaran masyarakat Minangkabau ke Negeri Sembilan. Kemudian, para perantau itu mendirikan permukiman di Negeri Sembilan hingga akhirnya banyak unsur arsitektur, adat, dan praktik kehidupan yang diadopsi masyarakat setempat yang sebelumnya memang sudah memiliki sistem adat sendiri—asimilasi.
Sederhananya, dalam tulisan tersebut dijelaskan, Negeri Sembilan memang memiliki keterikatan sejarah dengan masyarakat Minangkabau. Namun, dalam hal adat dan sebagainya (termasuk bangunan Istana Seri Menanti) merupakan arsitektur asli lokal Melayu dan tidak sepenuhnya berasal dari Minangkabau.
Saat ini, Istana Seri Menanti dijadikan salah satu warisan budaya Malaysia yang dilindungi. Bukan lagi sebagai rumah kediaman raja, istana itu kini dijadikan museum budaya yang masih mempertahankan desain dan arsitektur aslinya.
Istana Seri Menanti juga dibuka untuk umum. Berbagai peninggalan bersejarah dipajang dan dapat dijadikan pembelajaran bagi wisatawan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


