megibung tradisi sambut ramadan di bali adaptasi lintas agama yang kaya filosofi - News | Good News From Indonesia 2026

Megibung: Tradisi Sambut Ramadan di Bali, Adaptasi Lintas Agama yang Kaya Filosofi

Megibung: Tradisi Sambut Ramadan di Bali, Adaptasi Lintas Agama yang Kaya Filosofi
images info

Megibung: Tradisi Sambut Ramadan di Bali, Adaptasi Lintas Agama yang Kaya Filosofi


Kawan GNFI, Bulan Ramadan menjadi momen penting bagi umat Muslim di Indonesia, termasuk Bali. Meskipun mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, tetapi ada tradisi unik dalam menyambut Ramadan dikenal dengan tradisi Megibung.

Tradisi Megibung ini sebenarnya berakar dari budaya Hindu, tetapi diadaptasi secara harmonis oleh komunitas muslim di Bali dalam menyambut bulan suci Ramadan. Menjadi simbol indah toleransi yang menyatukannya dari warisan budaya lintas agama.

Lalu, bagaimana tradisi Megibung dapat berkembang di Bali dan menjadi tradisi unik dalam menyambut Ramadan? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuBali.

Awal Mula Tradisi Megibung

Tradisi Megibung Bali | Foto: Wikimedia Commons/Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem
info gambar

Tradisi Megibung Bali | Foto: Wikimedia Commons/Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem


Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem, I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1692 M (1614 Caka) yang bermula ketika sang Raja dalam perjalanan ekspedisi militer menaklukan raja-raja Lombok.

Ketika beristirahat, sang Raja mengajak para prajuritnya untuk makan bersama dengan posisi melingkar tanpa ada batasan sosial apapun termasuk kasta dan jabatan. Megibung juga menjadi cara untuk mengetahui jumlah prajurit maupun korban dalam ekspedisi militernya.

Dari kejadian ini, tercetuslah tradisi Megibung dan diwariskan dari generasi ke generasi yang menjadi bagian wajib dalam acara besar di Bali. Sebagai contoh, pernikahan, odalan pura, upacara ngaben, upacara besar keagamaan, acara adat desa, hingga tiga bulanan.

Secara istilah, Megibung merujuk pada kata ‘gibung’ yang berarti mencampur atau mengaduk (makanan) bersama. Karena lahir pada masa kerajaan Karangasem, tradisi Megibung kini terus berkembang di Karangasem termasuk di Kampung Islam Kepaon, Denpasar hingga menjadi warisan leluhur yang terus dilestarikan.

baca juga

Megibung dalam Suasana Ramadan

Secara historis, tradisi Megibung ini memiliki nilai filosofi mendalam terutama dalam aspek kebersamaan. Bali dengan ragam budaya dan tradisi serta toleransinya yang tinggi menjadikan Megibung terus berkembang hingga diadaptasi oleh muslim Bali sebagai tradisi dalam menyambut Ramadan termasuk buka puasa.

Tradisi ini bertujuan sebagai penyambutan di beberapa tempat yang rutin dilakukan setiap 10 hari (hari ke-10, 20, 30 Ramadan) dan menjadi cara unik untuk berbuka puasa bersama.

Tak hanya umat muslim Bali saja, tradisi Megibung ini pula menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi (panyama braya) antarwarga, maupun lintas agama termasuk umat Hindu Bali.

Tradisi Megibung menjadi simbol akan kesetaraan dari prosesnya menyantap makanan yang sama, secara bersama, dan tanpa memandang status sosial apapun. Selain itu, juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan untuk rezeki dan kesempatan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Antara nilai religius, sosial, dan budaya dari tradisi Megibung menjadi nilai kehidupan yang relevan hingga kini dan menjadi simbol persatuan antarwarga.

baca juga

Aturan dan Ragam Lauk yang Wajib Hadir dalam Tradisi Megibung

Merujuk pada akar budaya yang ada, tradisi Megibung tidak bisa dilakukan secara sembarangan, ada tata cara dan ragam lauk yang wajib hadir sebagai sajiannya.

Rangkaian tradisi Megibung ini dimulai dari masak-masakan khas tradisional Bali (sate lilit, lawar, komoh, jukut ares, dan pepesan/ tum). Kemudian, nasi putih diletakkan dalam satu wadah besar (gibungan) dan lauk-pauknya diletakkan di sekeliling nasi (karangan).

Ragam Lauk dalam Tradisi Megibung Bali | Foto: Wikimedia Commons/Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem
info gambar

Ragam Lauk dalam Tradisi Megibung Bali | Foto: Wikimedia Commons/Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem


Dalam penyajiannya pun biasanya diletakkan dalam nampan kayu atau sela.

Satu sela dapat dinikmati oleh 4 hingga 8 orang dengan duduk dalam posisi melingkar dan porsi cukup untuk semua tanpa ada yang merasa kekurangan.

Etika makan dalam tradisi Megibung ini pun perlu dipatuhi, misalnya harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, tidak boleh menjatuhkan remah nasi dari tangan ke wadah bersama, tidak boleh berbicara kasar, makan menggunakan tangan kanan, dan harus menghabiskan porsi masing-masing agar tidak mubazir.

Menjaga sikap, sopan, tenang, dan khusyuk menjadi aturan wajib selama proses Megibung berlangsung dalam menjaga harmoni dan menghargai makanan sebagai anugerah.

Tradisi Megibung menjadi tradisi yang terus lestari sebagai identitas lokal Bali yang inklusif dan menjadi bukti nyata akan moderasi beragama di Bali yang terus beradaptasi.

Dari tradisi budaya leluhur Hindu, Megibung di Bali diserap dan dijalankan dengan penuh sukacita untuk merayakan kebersamaan di bulan suci Ramadan dengan nilai budaya yang terus dijaga.

Megibung tak hanya soal makanan, tapi tradisi ini menjadi sarana dalam membangun solidaritas, mempererat hubungan sosial, meningkatkan rasa syukur dengan mengutamakan kebersamaan.

Inspiratif sekali, ya, Kawan GNFI!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.