subak sistem irigasi tradisional bali yang masuk warisan budaya dunia unesco - News | Good News From Indonesia 2026

Subak: Sistem Irigasi Tradisional Bali yang Masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO

Subak: Sistem Irigasi Tradisional Bali yang Masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO
images info

Subak: Sistem Irigasi Tradisional Bali yang Masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO


Kawan GNFI, berkunjung ke Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Kawan akan disuguhi dengan hamparan sawah berpadi yang terhampar dan berundak atau dikenal dengan subak.

Subak ini bukan hanya sekadar sistem pengairan sawah tradisional biasa, karena di balik terasering yang berundak-undak dan tampak rapi, subak sebenarnya merupakan sistem organisasi petani yang diakui dunia dari kemampuannya dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Ingin tahu bagaimana sistem irigasi tradisional Bali yang dikenal dengan subak bisa masuk warisan budaya dunia UNESCO? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuBali.

Hubungan Subak dan Lanskap Budaya di Bali

Bagi masyarakat subak, Subak memiliki filosofi mendalam tentang konsep kehidupan sehari-hari dan manifestasi akan Tri Hita Karana (tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan) atau harmoni dari Parahyangan (hubungan manusia-Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan sesamanya),dan Palemahan (hubungan manusia-alam dan lingkungannya).

Menariknya, Subak bukan sistem pertanian belaka. Namun, mewakili akan budaya Bali dari sistem pertanian pada lahan basah (padi) dengan memiliki nilai budaya gotong-royong, pelestarian lingkungan, pengetahuan musim, angin, dan pengendalian hama.

Hubungan subak dengan lanskap budaya di Bali dicirikan dengan hukum adat. Ini mengacu pada sosial, pertanian, dan spiritualitas hingga semangat kebersamaan dalam usaha menjaga lahan sawah, memperoleh kesuburan air, dan menghasilkan tanaman pangan terutama padi dan palawija.

Sistem irigasi yang unik dengan nilai kebersamaan inilah yang mencerminkan lanskap budaya Bali sampai subak juga dikenal sebagai organisasi pengairan para penggarap sawah. Karakteristik dan unsur organisasi yang menjadi ciri khas orang Bali dalam bersubak, meliputi:

  • Lahan sawah yang mendapatkan air dari satu sumber
  • Pura Subak sebagai pusat ritual
  • Kepemimpinan (Pekaseh) yang dipilih secara demokratis
  • Otonomi dalam mengatur rumah tangga organisasi

Sistem subak dengan praktik pertanian yang demokratis dan egaliter inilah yang menjadikan para penanam padi tetap produktif meskipun menghadapi tantangan yang cukup krusial dalam memenuhi pasokan pangan masyarakat.

Komponen subak di Bali merupakan contoh sempurna yang menerapkan prinsip Tri Hita Karana dengan menyatukan alam, spiritual, dan manusia.

Komponen tersebut meliputi hutan yang melindungi pasokan air, lanskap sawah bertingkat, sawah yang dihubungkan oleh sistem kanal, terowongan dan bendungan, desa-desa, pura atau kuil dengan berbagai ukuran dan kepentingan.

Arsitektur berundak atau terasering juga diterapkan untuk memaksimalkan lahan miring dalam mencegah erosi dan menjaga kestabilan tanah.

Selain itu, adanya jadwal tanam serempak yang diatur sistem subak membantu memutus siklus hama secara alami, dan menjaga daerah resapan air. Hal ini menjadi cara dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Perpaduan komponen inilah yang menjadikan sistem irigasi tradisional terus berkembang dan dikelola oleh masyarakat.

Subak Bali khususnya di Desa Jatiluwih menggunakan pola tanam sejajar dengan pola pengairan berundak atau terasering. Hal tersebut menjadikannya sistem irigasi tradisional khas yang bernilai spiritual, dan kearifan lokal dengan panorama menakjubkan dan menjadi identitas khas Bali, Indonesia.

baca juga

Subak Masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO

Subak Bali Masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO | Foto: Wikimedia Commons/Bali Panorama
info gambar

Subak Bali Masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO | Foto: Wikimedia Commons/Bali Panorama


Pada 29 Juni 2012 dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di kota Saint Petersburg, Federasi Rusia menyetujui dan menetapkan subak di Bali sebagai Warisan Budaya Dunia.

Meski pengusulan ke UNESCO perlu pendekatan mendalam dalam hal ilmu pengetahuan seperti arkeologi, antropologi, geografi, ilmu lingkungan, arsitektur lanskap, dan ilmu terkait lainnya. Namun, subak Bali berhasil memenuhinya dengan luas kurang lebih 20.000 ha dan berada di 5 Kabupaten, yaitu Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, dan Tabanan.

Pengusulan ini dimaksudkan menjadi upaya dalam menjaga kearifan lokal dan jembatan menuju pembangunan yang berkelanjutan. Di samping karena tantangan di masa kini seperti alih fungsi lahan sawah menjadi pemukiman dan kurangnya minat generasi muda pada pertanian.

Subak di Bali menjadi representasi nyata akan unsur adat dan budaya yang berkaitan dengan spiritualitas untuk saling menyatu. Menciptakan peradaban yang mampu bertahan melintasi zaman dan menjadi jawaban akan tantangan krisis lingkungan modern. Berfokus pada nilai kebersamaan, spiritualitas, dan alam di sekitarnya.

Inti dari subak ini yakni berhubungan dengan adat yang memberi aturan, spiritual yang memberi nyawa, dan alam yang memberi ruang tentang merawat kehidupan.

Inspiratif dan berkelanjutan, ya, Kawan GNFI! 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.