Sekitar 1.400 peserta dari 20 negara turut serta dalam olimpiade matematika di Bangkok. Salah satu di antara mereka, anak Indonesia juga menjadi peserta. Ia adalah Samuel Anderson Lee, bocah yang baru berusia tujuh tahun.
Ia mengikuti Final Round Thailand International Mathematical Olympiad (HIMO) yang digelar pada 6–8 Februari 2026, setelah sebelumnya juga tampil di Final Round Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO) pada 23–24 Agustus 2025.
Kedua kompetisi ini diselenggarakan oleh Olympiad Champion Education Centre.
Final Round di Hong Kong adalah pengalaman internasional offline pertama bagi Samuel. Semua terasa baru. Di sana, Samuel meraih Gold Medal. Samuel berdiri di Peringkat 1 Indonesia dan Peringkat 3 Dunia. Ia mencetak perfect score di empat bidang: Logical Thinking, Arithmetic/Algebra, Number Theory, dan Combinatorics.
Di Thailand, ia kembali meraih Gold Medal.
Tidak Langsung ke Final
Untuk mencapai babak final di dua negara itu, setiap negara harus menyelenggarakan babak penyisihan atau Heat Round.
Samuel meraih Gold Medal pada Heat Round HKIMO dan Heat Round TIMO. Capaian itu yang mengantarkannya ke final di dua negara.
Dalam hal ini, sekolah Samuel, SDK BPK Penabur Bandung, berperan dalam pengiriman peserta untuk Heat Round TIMO. Selebihnya, termasuk pendaftaran dan pendampingan ke Hong Kong dan Thailand, dilakukan sepenuhnya oleh keluarga.
Materi yang Diujikan: Bukan Sekadar Hitung Cepat
Untuk kategori usia tujuh tahun, soal yang dihadapi Samuel jauh dari sekadar hitung cepat.
Materinya mencakup enam bidang utama, yakni Logical Thinking, Arithmetic, Algebra, Number Theory, Geometry, dan Combinatorics. Keenam bidang itu melatih dan menguji cara berpikir.
Logical Thinking melatih anak menalar langkah demi langkah secara runtut sehingga kuncinya adalah memahami pola dan hubungan antar informasi.
Arithmetic dan Algebra tidak berhenti di penjumlahan atau pengurangan biasa. Soal sudah melibatkan simbol seperti x atau y, sehingga anak harus memahami hubungan antar angka, bukan hanya menghitung.
Kemudian, Number Theory membahas sifat-sifat bilangan, misalnya bilangan prima, faktor, dan kelipatan. Diujikan pula Geometry yang ngetes pemahaman tentang bentuk, sudut, dan ruang.
Yang paling menantang bagi Samuel adalah Combinatorics. Cabang ini membahas cara menghitung kemungkinan. Di bagian ini, ketelitian adalah kuncinya. Salah membagi satu kasus saja, hasil akhirnya bisa meleset.
Sebagai contoh, ada soal seperti menghitung berapa banyak bilangan ganjil tiga digit tanpa angka berulang yang nilainya kurang dari 444. Untuk menyelesaikannya, peserta harus memecah kemungkinan berdasarkan ratusan, puluhan, dan satuan, tanpa ada digit yang sama. Jika salah menghitung satu skenario, seluruh jawaban menjadi keliru.
Level soal olimpiade ini memang sudah masuk kategori problem solving non-rutin. Artinya, tidak ada rumus instan yang bisa langsung dipakai. Anak harus memahami konsep, menganalisis pola, lalu menyusun strategi.
Beberapa konsep yang muncul bahkan termasuk teknik logika tingkat lanjut seperti pigeonhole principle. Pigeonhole Principle adalah prinsip yang menyatakan bahwa jika jumlah objek lebih banyak daripada wadahnya, maka pasti ada satu wadah yang berisi lebih dari satu objek.
Ada juga permutasi–kombinasi serta Cryptarithm, yaitu teka-teki angka berbasis huruf yang menuntut penalaran sistematis.
Pola Belajar: Dua Jam Sehari, Satu Bulan Intensif
Persiapan menuju final dilakukan sekitar satu bulan secara intensif. Rata-rata dua jam per hari khusus matematika.
Samuel tidak mengikuti les tambahan. Tidak ada pula program enrichment sekolah. Ia 100% didampingi di rumah.
Metode yang digunakan dua tahap. Pertama, diskusi konsep sampai benar-benar paham. Kedua, drilling soal untuk melatih ketepatan dan kecepatan.
Jago Matematika, Jago Wushu
Selain Matematika, Samuel juga atlet wushu aktif. Dalam keterangan yang diperoleh dari sang ibu, Winda, wushu turut melatih karakter dalam diri Samuel, khususnya saat mengerjakan Matematika.
Meski demikian, Matematika hadir lebih dulu dalam kehidupan Samuel. Sejak kecil, angka menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di rumah.
“Disiplin di arena wushu menjadi fondasi yang sama saat ia mengerjakan soal-soal matematika,” imbuh Winda.
Wushu melatih fokus, keseimbangan, dan ketahanan fisik. Itu membantu saat menghadapi soal sulit dalam waktu terbatas. Jika wushu tidak pernah hadir, kemungkinan pembentukan mental dan ketahanannya tidak akan sekuat sekarang.
“Wushu membentuk Samuel menjadi pribadi yang lebih sadar diri dan belajar menaklukkan diri sendiri. Tanpa wushu, pembentukan mental dan ketahanannya kemungkinan tidak akan sekuat sekarang,” jelas Winda.
Tak hanya jago, Samuel juga beberapa kali meraih juara dalam kompetisi wushu. Di Kejuaraan Nasional Wu Games UI 2025, ia meraih Juara 1 nomor Pu Dao Group A dan Baji Quan Group A. Ia juga meraih medali di CSWI Cup Piala KONI Jawa Timur 2025.
Rutinitas dan Keseimbangan
Padatnya rutinitas harian Samuel yang mencakup sekolah, latihan matematika, latihan wushu, waktu keluarga, dan waktu bermain, sempat membuat Winda cemas. Ada kekhawatiran soal kelelahan. Namun, latihan wushu bagi Samuel terasa seperti rekreasi, katanya.
“Walaupun prestasi utamanya sekarang di matematika, kami tetap membiarkan dia menjelajahi minat lain yang dia inginkan supaya tumbuh-kembangnya seimbang,” ujar Winda.
Selain matematika dan wushu, ia belajar Mandarin dan bermain piano. Ia juga menjadi Juara Favorit Chinese Bridge Jawa Barat 2025.
“Kami ingin Samuel belajar bahwa kemenangan itu menyenangkan, tetapi yang lebih penting adalah proses berlatih, kerja keras, keberanian untuk mencoba, menerima hasil dengan lapang hati, dan bangkit kembali ketika gagal,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


