Imlek menjadi salah satu momen hari besar yang dirayakan dengan meriah di berbagai daerah di Indonesia, khususnya dalam kalangan masyarakat Tionghoa. Berbagai acara bisa Kawan jumpai terkait momentum ini di berbagai daerah yang ada di Indonesia.
Kemeriahan pada momen Imlek ini tidak hanya terjadi baru-baru ini saja. Perayaan momen tahun baru dalam penanggalan Tionghoa ini juga bisa dijumpai pada beberapa tahun silam.
Salah satu momen kemeriahan Imlek pernah terjadi di Pancoran, Jakarta pada 1956 silam. Pada waktu itu, terdapat pasar malam yang digelar secara khusus dalam menyambut momentum ini di lokasi tersebut.
Terdapat berbagai hal yang dapat dijumpai pada pasar malam tersebut, mulai dari kudapan khas Imlek, busana, dan lainnya. Bagaimana momen kemeriahan perayaan Imlek di Pancoran, Jakarta pada tahun tersebut?
Momen Perayaan Imlek di Pancoran Jakarta pada 1956
Momen perayaan Imlek di Pancoran, Jakarta pada 1956 pernah diwartakan dalam artikel "Langs de weg Imlek" yang terbit di surat kabar De Nieuwsgier edisi 11 Februari 1956. Dalam artikel tersebut, penulis menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke pasar malam yang digelar di Pancoran, Jakarta dalam rangka perayaan Imlek saat itu.
Pasar malam ini digelar di sepanjang perayaan Imlek hingga Cap Go Meh. Meskipun kondisi Imlek pada waktu itu turun hujan, hal ini tidak menyurutkan antusias masyarakat Jakarta pada waktu itu untuk mendatangi pasar malam tersebut.
Masyarakat yang datang tidak hanya berasal dari kalangan Tionghoa. Penulis menceritakan jika masyarakat dari berbagai macam latar belakang turut mendatangi pasar malam yang digelar dalam rangka perayaan Imlek tersebut.
Bahkan dirinya mendengar berbagai macam bahasa dari percakapan masyarakat yang ada dalam pasar malam itu. Penulis menyebutkan jika dia mendengarkan berbagai macam bahasa, seperti Mandarin, Indonesia, Arab, hingga Hindi pada momen tersebut.
Jajakan Berbagai Macam Barang
Lebih lanjut, penulis menceritakan jika berbagai macam barang bisa dijumpai pada pasar malam tersebut. Hanya saja, harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi dari pasaran yang ada.
Selain itu, berbagai kudapan khas Imlek juga banyak dijajakan pada pasar malam ini. Kue keranjang menjadi salah satu nama kudapan yang banyak diteriakkan oleh para penjual pada momen tersebut.
Tidak hanya kudapan, para penjual juga menjajakan minuman, seperti anggur kolesom untuk pengunjung yang datang. Berbagai upaya dilakukan oleh para penjual, termasuk memberikan diskon menarik untuk mendapatkan minat dari pengunjung yang hadir di pasar malam tersebut.
Momen "Was-Was" di Balik Kemeriahan
Meskipun menampilkan suasana yang gegap gempita, penulis menyebutkan jika para pengunjung yang datang ke pasar malam tetap mesti dipenuhi rasa was-was. Sebab di balik kemeriahan tersebut, ada saja marabahaya yang bisa mengancam jika seseorang lengah begitu saja.
Situasi ini juga dialami langsung oleh penulis ketika mendatangi pasar malam tersebut. Dia bercerita jika di satu kesempatan hampir saja menjadi sasaran pencopetan.
Salah satu orang yang tidak bertanggung jawab berusaha meraba kantong celana penulis di tengah keramaian. Namun penulis dengan cepat menyadari hal ini dan berhasil menangkap tangan pelaku.
Akan tetapi, pelaku tersebut berhasil melarikan diri ketika penulis hendak berteriak pada orang-orang yang ada. Untung saja tidak ada satupun uang yang berhasil diambil oleh copet tersebut.
Meskipun demikian, pengalaman buruk yang dia alami ini tidak menutup kemeriahan momen perayaan Imlek yang terjadi pada waktu itu. Penulis menutup artikel yang dia tulis dengan perasaan senang dan tidak sia-sia untuk datang ke Pancoran pada momen perayaan Imlek pada tahun tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


