Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan nuansa warna yang kuat dan mencolok. Setiap sudut perayaan, mulai dari dekorasi rumah, pusat perbelanjaan, klenteng, hingga busana yang dikenakan, hampir selalu didominasi oleh warna merah dan kuning keemasan.
Kedua warna ini tidak dipilih secara sembarangan, melainkan memiliki makna simbolis yang telah mengakar kuat dalam tradisi dan budaya masyarakat Tionghoa sejak ratusan tahun lalu.
Dalam kebudayaan Tionghoa, warna bukan sekadar unsur estetika, melainkan sarana penyampai harapan, doa, dan filosofi hidup.
Oleh karena itu, pemilihan warna merah dan kuning dalam perayaan Imlek mencerminkan nilai-nilai penting yang ingin diwujudkan di tahun yang baru, seperti kebahagiaan, keberuntungan, dan kesejahteraan.
Asal Usul Warna Merah dalam Tradisi Imlek
Warna merah memiliki posisi istimewa dalam budaya Tionghoa, berdasarkan artikel ilmiah karya Jepriyanti, Sridevi & Zeco berjudul "Mitos Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek" tahun 2017, warna ini melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan semangat hidup.
Dalam konteks Imlek, merah dipercaya mampu menghadirkan energi positif yang dibutuhkan untuk menyambut awal tahun dengan penuh optimisme.
Kepercayaan terhadap warna merah berkaitan erat dengan konsep keseimbangan energi dalam kehidupan. Warna merah dianggap memiliki kekuatan untuk menarik keberuntungan dan menolak kesialan.
Oleh sebab itu, merah banyak digunakan pada lentera, kertas hias, busana tradisional, hingga amplop angpao yang dibagikan sebagai simbol doa baik.
Legenda Nian dan Perlindungan dari Nasib Buruk
Makna warna merah juga tidak terlepas dari legenda rakyat Tionghoa tentang makhluk mitologis bernama Nian.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Nian digambarkan sebagai makhluk buas yang muncul setiap akhir tahun dan mengganggu kehidupan manusia. Makhluk ini diyakini takut terhadap warna merah, cahaya terang, dan suara keras.
Dari legenda tersebut, berkembang tradisi penggunaan warna merah dan kembang api saat Imlek. Warna merah dipercaya mampu melindungi dari gangguan buruk sekaligus menjadi simbol kemenangan atas rasa takut dan ancaman. Hingga kini, kepercayaan tersebut masih hidup dalam bentuk simbolik yang mewarnai perayaan Imlek modern.
Selain merah, warna kuning atau emas memiliki makna yang tak kalah penting. Dalam sejarah Tiongkok kuno, kuning merupakan warna yang identik dengan kekuasaan dan kebesaran.
Warna ini dahulu hanya boleh digunakan oleh kaisar dan lingkungan istana sebagai simbol legitimasi dan kewibawaan.
Sungai Kuning yang menjadi pusat awal peradaban Tiongkok turut memperkuat makna warna ini sebagai simbol kehidupan dan kemakmuran.
Oleh karena itu, warna kuning tidak hanya dipandang sebagai lambang status sosial, tetapi juga sebagai representasi keseimbangan dan stabilitas.
Makna Emas dalam Perayaan Imlek
Dalam konteks perayaan Imlek, seperti dikutip dari laman Tempo.co artikel berjudul "Mengapa Imlek Identik dengan Warna Emas?" warna kuning sering dipresentasikan dalam bentuk warna emas.
Warna emas melambangkan kekayaan, kelimpahan rezeki, dan kesuksesan finansial. Dekorasi bernuansa emas banyak ditemukan pada ornamen Imlek, seperti hiasan karakter keberuntungan, koin simbolik, dan aksen tulisan.
Penggunaan warna emas mencerminkan harapan agar tahun yang baru membawa kesejahteraan dan kestabilan ekonomi. Warna ini juga menambah kesan mewah dan meriah pada perayaan Imlek, sekaligus memperkuat makna simbolis yang terkandung di dalamnya.
Kombinasi warna merah dan kuning bukanlah kebetulan. Merah melambangkan keberanian, kebahagiaan, dan perlindungan, sementara kuning atau emas merepresentasikan kemakmuran dan kejayaan. Perpaduan ini menciptakan keseimbangan antara harapan spiritual dan material.
Dalam filosofi tradisional Tionghoa, keseimbangan menjadi kunci kehidupan yang harmonis. Oleh sebab itu, warna merah dan kuning digunakan bersama untuk menciptakan suasana perayaan yang penuh harapan baik, baik secara lahir maupun batin.
Dalam konsep Wu Xing atau lima unsur, warna juga memiliki keterkaitan simbolis. Merah diasosiasikan dengan unsur api yang melambangkan energi dan transformasi, sedangkan kuning dikaitkan dengan unsur tanah yang melambangkan kestabilan dan keseimbangan.
Perpaduan keduanya dipercaya menciptakan harmoni yang membawa keberuntungan di awal tahun.
Seiring perkembangan zaman, perayaan Imlek mengalami berbagai penyesuaian, termasuk dalam penggunaan warna. Namun, warna merah dan kuning tetap menjadi elemen utama yang sulit tergantikan.
Di berbagai negara, termasuk Indonesia, warna-warna ini menjadi simbol identitas budaya Tionghoa yang mudah dikenali.
Dalam konteks modern, warna merah dan kuning tidak hanya hadir dalam tradisi keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari promosi pariwisata, dekorasi ruang publik, hingga perayaan lintas budaya.
Hal ini menunjukkan bahwa makna simbolis warna Imlek tetap relevan dan terus hidup di tengah masyarakat multikultural.
Warna merah dan kuning dalam perayaan Imlek menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiasan. Merah melambangkan perlindungan, keberuntungan, dan kebahagiaan, sementara kuning atau emas mencerminkan kemakmuran, kejayaan, dan keseimbangan.
Melalui penggunaan warna-warna ini, perayaan Imlek menjadi sarana penyampaian doa dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


