kho ping hoo sang maestro cerita silat yang melegenda - News | Good News From Indonesia 2026

Kho Ping Hoo, Sang Maestro Cerita Silat yang Melegenda

Kho Ping Hoo, Sang Maestro Cerita Silat yang Melegenda
images info

Kho Ping Hoo, Sang Maestro Cerita Silat yang Melegenda


Kawan GNFI, Indonesia memiliki sosok legendaris dari seorang penulis fenomenal di balik ratusan jilid cerita silat (cersil) yang populer sampai lintas generasi. Sosok ini dikenal dengan nama Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, atau sapaan akrabnya Kho Ping.

Kho Ping Hoo begitu melegenda karena ia telah aktif selama 30 tahun lebih dalam dunia penulisan cersil hingga menerbitkan sekitar lebih dari 200 judul cerita silat dengan berlatar belakang Tiongkok.

Saking melegendanya, hingga kini Kho Ping Hoo masih diperbincangkan dari karyanya yang ikonik. Menariknya lagi, musisi Indonesia legendaris, Iwan Fals pun mengabadikan nama Kho Ping Hoo menjadi lirik lagu dalam karyanya berjudul Teman Kawanku Punya Teman.

Ada hal unik dari hasil tulisan ikoniknya yang berlatar belakang Tiongkok. Ternyata meski dirinya menulis dengan latar belakang Tiongkok, faktanya Kho Ping Hoo tidak mahir berbahasa Mandarin dan tak pernah mengunjungi daratan Tiongkok di masa kejayaannya. Bahkan, dalam menulis, inspirasi untuk penulisan ceritanya berasal dari film silat Hong Kong dan Taiwan.

Profil Kho Ping Hoo dan Masa Lalu yang Berliku

Dilansir dari laman kemendikdasmen, Kho Ping Hoo lahir dari Sragen, Jawa Tengah pada 17 Agustus 1926. Dia adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Seorang keturunan Cina berdarah Jawa.

Ayahnya, Kho Kian Po merupakan seorang pendekar aliran Siau Liem Sie dan mewariskan ilmu silat padanya dengan disiplin keras. Sedangkan ibunya bernama Sri Welas Asih memiliki kemahiran bercerita secara bijak kepada anak-anaknya.

Hal ini menjadi inspirasi Kho Ping Hoo juga dalam menyuguhkan cerita menarik dari setiap karya cerita silat yang ditulisnya.

Di masa mudanya, Kho Ping Hoo sempat bekerja serabutan seperti bekerja sebagai pelayan toko (usia 14 tahun) dan penjual obat di Surabaya hingga bergabung menjadi Kaibotai (hansip bentukan Jepang) dan Barisan Pemberontak Tionghoa (BPTH) yang bekerja sama dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di Sragen.

Tahun 1949, Kho Ping membuka usaha rokok di Sragen, tapi cobaan muncul kala itu karena usahanya hancur akibat Aksi Polisionil II Belanda dan mulai mengungsi di Solo. Dua tahun di Solo, akhirnya Kho Ping Hoo memutuskan untuk merantau ke Tasikmalaya dengan tujuan untuk memperbaiki nasib.

baca juga

Tasikmalaya jadi Awal Karier Perjalanan Menulisnya

Di Tasikmalaya menjadi titik awal Kho Ping Hoo dalam perjalanan menulis cerita silatnya. Dari masa lalu yang berliku, pengalaman, dan ketangguhan mentalnya juga yang berhasil dirinya jadikan imajinasi untuk menulis hingga karyanya sampai melegenda.

Saat di Tasikmalaya, Kho Ping Hoo memulai karier sebagai staf dari seorang anemer yang sedang membangun rumah sakit di Banjarnegara.

Dirinya dipilih pula menjadi Ketua Perusahaan Pengusaha Pengangkutan (P3T) kawasan Priangan Timur, meski Kho Ping Hoo seumur hidupnya tak pernah memiliki truk. Momen ini baginya sangat mengasyikkan untuk memulai hidup kembali dari nol hingga sukses.

Di sela-sela kesibukannya, Kho Ping Hoo mulai mengawali kegemarannya dalam menulis cerpen sekitar tahun 1951 dengan menulis cerita detektif, novel roman, dan cerita di majalah seperti Star Weekly, Liberty, dan Pancawarna.

Namun, pada tahun 1959 majalah Teratai di Tasikmalaya memilih Kho Ping Hoo untuk melengkapi isi majalahnya dengan cerita silat. Dari sini, karya cerita pertama silatnya muncul berjudul ‘Pedang Pusaka Naga Putih’ hingga cerita ini diterbitkan secara bersambung dalam majalah tersebut.

Kala itu, Kho Ping Hoo yang terpaksa menulis cerita silat untuk kebutuhan penerbitan, tapi nyatanya mendapat respon positif pembaca dari genre ini.

baca juga

Mengapa Karyanya Begitu Ikonik dan Melegenda?

Karya fenomenal yang ikonik dan melegenda ini berisi tentang dunia imajinasi yang luas, bernilai moral dengan setiap tokoh utamanya membawa misi membela kebenaran dan memiliki unsur Tionghoa yang membumi.

Meski berlatar belakang Tionghoa, hal ini menjadi keunikkan tersendiri karena ditulis secara detail hingga menjembatani budaya Tionghoa dan masyarakat luas di Indonesia. Menciptakan rasa persaudaraan melalui karya sastra populer dengan menyisipkan pula fakta-fakta sejarah.

Masing-masing karya yang ditulisnya dibuat dalam bentuk serial dengan serial terpanjangnya adalah Kisah Keluarga Pulau Es (17 judul, diawali dengan Bu Kek Siansu).

Para pemimpin negara seperti Bung Karno, Soeharto, dan B.J Habibie pun pernah membaca karyanya yang tak sekadar hiburan. Namun, memiliki nilai filosofis kehidupan, keadilan, dan kemanusiaan yang mendalam.

Selain itu, Kho Ping Hoo juga mendirikan percetakan sendiri bernama CV Gema untuk dirinya terus berkarya and produktif sampai akhir hayatnya (1994). Dari karyanya dirinya mampu mengungkap ekspresi, menyuarakan aspirasi, tanpa harus melukai siapapun dan mengajak pembaca untuk senantiasa mawas diri.

Hingga kini, karyanya masih banyak diburu kolektor dan terus diadaptasi ke dalam berbagai format mulai dari sandiwara radio, ketoprak, film layar lebar, hingga sinetron (Badai Laut Selatan).

Karya Kho Ping Hoo yang terkenal, antara lain (1) Patung Dewi Kwan Im (1960. Jakarta: Analisa), (2) Pendekar Bodoh (1961. Tasikmalaya: Gema), (3) Badai Laut Selatan (1969. Solo: Gema), (4) Keris Pusaka Nogo Pasung (1980. Solo: Gema), (5) Asmara Si Pedang Tumpul (1985/1986. Solo: Gema).

Kho Ping Hoo menjadi bukti bahwa sebagai ‘Sang Maestro Cerita Silat’ dengan imajinasi yang tak mengenal batas geografis menjadi karya yang berhasil menyatukan keberagaman budaya melalui untaian kata dan petualangan para pendekar.

Tertarik untuk membaca cerita silat yang melegenda, Kawan GNFI?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.