Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, menjadi ruang belajar sekaligus ruang pengabdian bagi mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (FAI UHAMKA) yang tergabung dalam Kelompok 18.
Melalui program Kuliah Kerja Sosial (KKS), para mahasiswa menghadirkan rangkaian kegiatan pendidikan, keagamaan, dan sosial yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Kehadiran mereka bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Sejak tiba di desa, mahasiswa disambut oleh perangkat desa dan diarahkan untuk pembagian tempat tinggal. Proses adaptasi ini menjadi langkah awal membangun komunikasi dan kedekatan dengan warga sekitar.
Program KKS kemudian dibuka secara resmi di Balai Desa Ciburayut. Dosen pembimbing, aparatur desa, serta masyarakat turut hadir dalam pembukaan tersebut.
Momentum ini menandai dimulainya kolaborasi antara mahasiswa dan warga dalam menjalankan berbagai program yang telah dirancang bersama.
Kegiatan KKS tersebut akan berlangsung selama satu bulan yang dimulai pada tanggal 15 Januari hingga 15 Februari 2026.
Menguatkan Spiritualitas, Merawat Kebersamaan
Selama menjalani KKS, mahasiswa aktif terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan masyarakat. Setiap malam Minggu, mereka mengikuti tawasulan yang digelar di rumah warga.
Aktivitas ini menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan antara mahasiswa dan masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa juga terlihat dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Jami Nurul Huda. Mereka turut berpartisipasi dalam pengajian rutin di masjid bangunan baru serta kegiatan tilawah bersama Ustadz Muhyi.
Pada momentum Nisfu Sya’ban, mahasiswa menghadiri pengajian di kediaman Kepala Sekolah SMP Widya Bakti, memperluas silaturahmi hingga ke lingkungan pendidikan.
Pendidikan sebagai Pilar Utama
Bidang pendidikan menjadi fokus utama KKS 18. Di SMP Widya Bakti, mahasiswa menginisiasi pengajaran kaligrafi bagi siswa kelas VII, VIII, dan IX. Selain melatih keterampilan seni Islami, kegiatan ini menanamkan nilai estetika dan kecintaan terhadap Al-Qur’an melalui seni tulisan Arab.
Hubungan baik dengan pihak sekolah diperkuat melalui silaturahmi ke rumah Kepala Sekolah. Komunikasi yang terbangun menjadi landasan penting dalam kelancaran program.
Tak hanya di tingkat SMP, mahasiswa juga rutin mengajar di PAUD Aulia. Dengan metode interaktif dan menyenangkan, mereka mengenalkan huruf, dasar-dasar keislaman, serta pembentukan karakter sejak dini.
Untuk melatih keberanian dan kemampuan berbicara di depan umum, mahasiswa menyelenggarakan lomba pidato dan ceramah di SMP Widya Bakti. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengasah retorika, kepercayaan diri, dan pemahaman nilai-nilai keagamaan.
Kepedulian Sosial dalam Aksi Nyata
Semangat pengabdian juga diwujudkan melalui kegiatan sosial. Bersama pihak RT, mahasiswa melakukan kunjungan ke rumah warga yang kurang layak huni sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat.
Interaksi yang hangat juga terjalin lewat kegiatan olahraga bersama. Mahasiswa dan warga melakukan jogging ke kawasan Lembah Salak, bermain badminton, hingga futsal bersama siswa SMA Teknindo. Aktivitas tersebut memperkuat kebersamaan lintas usia dalam suasana yang santai dan penuh keakraban.
Kaligrafi: Warisan yang Tertinggal

Karang Taruna dan Mahasiswa KKS 18 serta DKM Masjid Jami Sabilul Muchtar pada saat proses melukis kaligrafi dinding Masjid | sumber: Dok. Pribadi Belgi Alhuda
Salah satu program paling berkesan dari KKS 18 adalah pembuatan kaligrafi sebagai kontribusi jangka panjang bagi desa. Program ini dilaksanakan dalam dua tahap.
Tahap pertama berupa pembuatan kaligrafi di atas papan triplek yang dikerjakan di posko mahasiswa. Karya tersebut menjadi cinderamata untuk SMP Widya Bakti sekaligus latihan desain sebelum diaplikasikan secara permanen.
Tahap kedua menjadi puncak program, yakni pembuatan kaligrafi langsung di dinding Masjid Jami Sabilul Muchtar. Proyek ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan Karang Taruna Cigombong.
Dengan perencanaan dan ketelitian, mahasiswa memastikan desain kaligrafi menyatu dengan estetika interior masjid. Proses tersebut menjadi simbol kerja sama antara generasi muda kampus dan masyarakat desa.
Di akhir masa pengabdian, kaligrafi yang terpasang di dinding masjid menjadi penanda jejak nyata yang ditinggalkan mahasiswa, sebuah karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bernilai spiritual dan berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Dampak Berkelanjutan
KKS 18 FAI UHAMKA di Desa Ciburayut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat dilakukan secara menyeluruh, menggabungkan pendidikan, keagamaan, sosial, dan kolaborasi komunitas dalam satu gerak yang terintegrasi.
Program yang dijalankan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Sinergi antara mahasiswa, perangkat desa, sekolah, DKM, dan Karang Taruna menjadi fondasi keberhasilan kegiatan ini.
Dari ruang kelas hingga dinding masjid, dari pengajian hingga lapangan olahraga, KKS 18 meninggalkan pesan bahwa pengabdian terbaik adalah yang tumbuh bersama masyarakat dan memberi manfaat jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


