Kawan GNFI, tahukah bahwa limbah pertanian yang sering dianggap tidak berguna ternyata bisa menjadi kunci kesejahteraan peternak? Di Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, kelompok mahasiswa KKN-T IPB University periode Desember 2025 – Januari 2026 berhasil membuktikan bahwa jerami sisa panen bisa disulap menjadi "emas hijau" bagi ternak melalui program Silasedaya.
Sebagai wilayah agraris yang produktif, Desa Puraseda memiliki potensi limbah jerami padi yang sangat melimpah setiap musim panen. Namun, melimpahnya jerami ini sering kali tidak dibarengi dengan pemanfaatan yang optimal. Kawan GNFI perlu tahu bahwa di lapangan, jerami sisa sawah biasanya hanya dibakar atau dibiarkan membusuk begitu saja, yang justru berisiko mencemari lingkungan.
Persoalan muncul ketika musim kemarau tiba. Berdasarkan hasil diskusi tim KKNT-IPB dengan warga setempat, ketersediaan hijauan segar sebagai pakan ternak di Desa Puraseda sering kali mengalami penurunan drastis pada periode tersebut.
Kondisi ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan nutrien ternak masyarakat, khususnya populasi kambing dan domba yang menjadi aset ekonomi penting warga desa. Tanpa pakan yang cukup dan berkualitas, produktivitas ternak akan menurun.
Oleh karena itu, diperlukan alternatif pakan yang tidak hanya bernutrisi tinggi, tetapi juga mampu disimpan dalam jangka panjang dan mudah diaplikasikan oleh peternak. Di sinilah Silasedaya hadir sebagai solusi berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi fermentasi, jerami yang tadinya dianggap sampah diubah menjadi cadangan pakan premium yang siap digunakan kapan saja, terutama sebagai "penyelamat" saat rumput segar sulit ditemukan.
Silase merupakan pakan ternak hasil fermentasi anaerob (tanpa oksigen) dengan bantuan Bakteri Asam Laktat (BAL). Teknik ini memungkinkan pakan disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama dengan kualitas nutrien yang tetap terjaga.
Mengapa jerami harus diolah menjadi silase? Secara alami, jerami padi memiliki serat kasar yang tinggi namun rendah protein, sehingga sulit dicerna secara optimal jika diberikan langsung ke ternak. Melalui proses di Silasedaya, struktur serat jerami dipecah sehingga teksturnya menjadi lebih lembut, aroma asam segarnya sangat disukai ternak (palatabilitas tinggi), dan nilai gizinya meningkat dibandingkan jerami kering biasa.
Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University tidak hanya membawa teori, tetapi juga mengajak warga RW 06 melakukan praktik langsung pembuatan silase dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan. Berdasarkan panduan teknis yang disusun, berikut adalah langkah-langkah pembuatannya:
- Pencacahan: Jerami padi dicacah kecil-kecil. Hal ini penting untuk meningkatkan luas permukaan bahan dan memudahkan proses pemadatan di dalam wadah (silo).
- Pencampuran Bahan: Cacahan jerami dicampur secara merata dengan dedak padi. Untuk memulai proses fermentasi, ditambahkan larutan EM4 dan molase sebagai sumber nutrisi bagi bakteri pengurai.
- Proses Ensiling: Seluruh bahan yang telah tercampur dimasukkan ke dalam wadah (silo) dan dipadatkan sekuat mungkin. Kondisi kedap udara (anaerob) adalah kunci utama agar bakteri baik dapat bekerja maksimal dan mencegah pertumbuhan jamur.
- Inkubasi: Wadah ditutup rapat selama 7 hingga 14 hari di tempat teduh hingga proses fermentasi sempurna dan silase siap digunakan.

Proses Pembuatan Silasedaya: Dokumentasi Pribadi
Silase yang berhasil dapat dikenali dari aromanya yang segar khas fermentasi, pH yang asam, serta tekstur bahan yang tetap terjaga tanpa adanya lendir atau jamur.
Edukasi tidak berhenti pada pembuatan saja. Kawan GNFI juga perlu memahami bahwa silase harus diberikan dengan cara yang benar. Sebelum diberikan ke kambing atau domba, silase harus diangin-anginkan terlebih dahulu. Mahasiswa juga memberikan perhitungan kebutuhan pakan berdasarkan berat badan ternak agar pemanfaatan nutrisi dari Silasedaya bisa maksimal tanpa mengganggu kesehatan pencernaan hewan.
Antusiasme warga Desa Puraseda menunjukkan bahwa inovasi sederhana ini sangat relevan dengan kebutuhan mereka. Silasedaya tidak hanya memperkuat kemandirian pakan peternak lokal, tetapi juga mendorong konsep pertanian terpadu (Integrated Farming) yang minim limbah (Zero Waste).
Langkah kecil dari Desa Puraseda ini membuktikan bahwa sinergi antara potensi lokal dan penerapan inovasi tepat guna dapat menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih kuat bagi masyarakat desa. Bagaimana menurut Kawan GNFI? Tertarik mengadopsi cara ini di lingkungan sekitar?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


