Limbah dapur sering kali dianggap masalah sepele. Sisa nasi, sayuran layu, atau kulit buah biasanya langsung dibuang tanpa pikir panjang. Padahal, jika dibiarkan menumpuk, limbah organik rumah tangga dapat memicu bau tak sedap, meningkatkan volume sampah, hingga berdampak pada kualitas lingkungan.
Berangkat dari persoalan sederhana itulah, sekelompok mahasiswa KKN menghadirkan solusi yang tidak biasa, tetapi efektif di Desa Kemang melalui pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF).
Melalui program kerja bertajuk “Sosialisasi Pemanfaatan Larva BSF untuk Pengolahan Limbah Organik Skala Rumah Tangga”, mahasiswa KKN mengajak masyarakat, termasuk Kawan GNFI, untuk melihat limbah bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan desa akan sistem pengolahan sampah organik yang praktis, murah, dan mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.
Larva Black Soldier Fly dikenal sebagai agen biokonversi yang efisien. Larva ini mampu mengurai berbagai jenis limbah organik, seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan, dalam waktu relatif singkat.
Proses tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga menghasilkan residu berupa kompos alami serta biomassa larva yang bernilai guna.
Hal inilah yang menjadi dasar pemilihan larva BSF sebagai fokus utama kegiatan sosialisasi di Desa Kemang.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi kepada warga mengenai kondisi pengelolaan limbah organik rumah tangga dan dampaknya terhadap lingkungan. Mahasiswa KKN menjelaskan bagaimana limbah organik yang tidak terkelola dapat berkontribusi pada pencemaran lingkungan, sekaligus memperkenalkan konsep biokonversi menggunakan larva BSF sebagai alternatif solusi.
Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia.
Tidak berhenti pada pemahaman teori, mahasiswa KKN juga mengajak warga melihat langsung proses pengolahan limbah menggunakan larva BSF.
Dalam sesi praktik, masyarakat diperkenalkan pada tahapan sederhana mulai dari penyiapan wadah, jenis limbah yang dapat digunakan sebagai pakan larva, hingga cara perawatan agar proses penguraian berjalan optimal.
Pendekatan ini bertujuan agar warga dapat membayangkan dan menerapkan sistem tersebut di lingkungan rumah masing-masing.
Antusiasme warga Desa Kemang terlihat selama kegiatan berlangsung. Metode ini dinilai tidak rumit dan tidak membutuhkan biaya besar.
Selain itu, pemanfaatan larva BSF dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan metode pembuangan konvensional. Sejumlah warga bahkan mulai mempertimbangkan pengolahan limbah ini sebagai kebiasaan baru di tingkat rumah tangga.
Manfaat pengolahan limbah menggunakan larva BSF tidak hanya dirasakan dari sisi kebersihan lingkungan. Residu hasil penguraian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman, sementara larva yang dihasilkan berpotensi menjadi pakan alternatif bagi ternak dan ikan.
Dengan demikian, pengelolaan limbah ini juga membuka peluang efisiensi ekonomi di tingkat rumah tangga.
Melalui program sosialisasi ini, mahasiswa KKN menanamkan kesadaran bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pengelolaan limbah organik skala rumah tangga menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata masyarakat dalam mendukung lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Program ini menunjukkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat melalui pendekatan yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan desa.
Kehadiran larva BSF sebagai inovasi pengolahan limbah menjadi contoh bahwa teknologi sederhana dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan.
Ke depan, sosialisasi pemanfaatan larva BSF diharapkan dapat diterapkan lebih luas, tidak hanya di Desa Kemang, tetapi juga di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat, pengelolaan limbah organik berbasis larva BSF berpotensi menjadi langkah konkret menuju lingkungan yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


