inilah perkici buru burung misterius endemik pulau buru - News | Good News From Indonesia 2026

Inilah Perkici Buru, Burung Misterius Endemik Pulau Buru

Inilah Perkici Buru, Burung Misterius Endemik Pulau Buru
images info

Inilah Perkici Buru, Burung Misterius Endemik Pulau Buru


Perkici buru adalah burung paruh bengkok endemik Pulau Buru, Maluku. Dalam literatur internasional, spesies ini dikenal sebagai Blue-fronted Lorikeet, merujuk pada warna biru samar di bagian depan kepalanya. 

Ia termasuk keluarga Psittacidae dan tribus Lorini, kelompok nuri pemakan nektar. Informasi mengenai nama lokalnya sangat terbatas karena interaksi masyarakat dengan burung ini jarang terdokumentasi.

Spesies ini pertama kali dicatat pada 1921 oleh Hendrik Cornelis Siebers, seorang ahli serangga asal Belanda yang melakukan ekspedisi di Pulau Buru. Deskripsi ilmiah formalnya kemudian diterbitkan pada 1930 oleh Lambertus Johannes Toxopeus. 

Fakta bahwa burung ini ditemukan oleh peneliti serangga menunjukkan bahwa eksplorasi keanekaragaman hayati di wilayah timur Indonesia pada masa itu masih sangat terbatas.

Burung Cantik Berwarna Cerah

Perkici Buru berukuran kecil dengan panjang tubuh sekitar 16 sentimeter. Warna dominannya hijau cerah berpadu kuning lembut. Mahkota biru samar menjadi ciri khas yang membedakannya dari lorikeet lain. 

Pada bagian bawah pangkal ekor terdapat warna merah terang yang kontras. Paruhnya kecil, bengkok, dan berwarna oranye. Kaki berwarna oranye dengan struktur kuat untuk bertengger dan memanjat ranting.

Perbedaan antara jantan dan betina relatif halus. Mahkota biru pada jantan cenderung lebih jelas, sedangkan pada betina tampak lebih lembut. Identifikasi jenis kelamin di lapangan memerlukan pengamatan detail.

Keistimewaan biologis utama burung ini terletak pada lidah berujung sikat. Struktur tersebut memungkinkan pengisapan nektar dan pengumpulan serbuk sari secara efisien, sebagaimana dijelaskan dalam kajian tentang lorikeet oleh William T. Forshaw. Adaptasi ini menempatkannya sebagai bagian penting dalam jaringan penyerbukan tumbuhan hutan tropis.

Bersuara “ti-ti-ti-ti-ti”

Perkici Buru hidup di hutan primer, hutan sekunder, serta area perkebunan dari dataran rendah hingga sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Pola makanannya bergantung pada musim berbunga, terutama dari tumbuhan famili Myrtaceae, selain buah lunak. Di penangkaran, burung ini diketahui memakan pisang dan cairan bergizi.

Spesies ini bersifat nomaden lokal. Perpindahan dilakukan mengikuti ketersediaan pakan, sehingga populasinya sulit dipetakan secara pasti. Ia biasanya terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil hingga sepuluh individu. Pola terbangnya lurus dan stabil, dengan kecepatan sedang. Suaranya berupa jeritan bernada tinggi yang sering ditranskripsikan sebagai “ti-ti-ti-ti-ti”, menjadi petunjuk penting dalam identifikasi lapangan.

Data reproduksi masih sangat terbatas. Berdasarkan pola umum lorikeet, diduga bertelur dua butir dengan masa pengeraman sekitar 23–25 hari. Anak burung umumnya mandiri dalam dua hingga tiga bulan. Sarang diperkirakan berada di lubang pohon tinggi, tetapi dokumentasi lapangan hampir tidak ada.

Termasuk Burung yang Dilindungi

Keberadaan Perkici Buru sempat diragukan karena minimnya catatan modern. Smiet (1985) mencatat spesies ini di hutan dataran rendah yang terganggu, menunjukkan kemungkinan toleransi terhadap perubahan habitat. Dokumentasi visual modern baru diperoleh pada 2014 dan 2015 oleh Craig Robson di Pulau Buru, mengakhiri spekulasi tentang kepunahannya.

Pada 2025, Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia melakukan ekspedisi di Gunung Kapalat Mada untuk menelusuri keberadaannya berdasarkan data historis. Hasilnya tidak menemukan individu terdeteksi, menegaskan betapa sulitnya spesies ini dipantau.

IUCN menetapkan Perkici Buru sebagai Critically Endangered sejak 2000. Status ini menunjukkan risiko kepunahan yang sangat tinggi. Secara hukum nasional, perlindungannya diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 serta diperkuat oleh Permen LHK No. P.106 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi.

Ancaman utama berasal dari deforestasi, penebangan kayu, dan fragmentasi habitat. Perubahan lanskap hutan mengurangi ketersediaan sumber nektar dan lokasi bersarang. Minimnya data populasi dan reproduksi juga menyulitkan perencanaan konservasi berbasis sains.

baca juga

Berperan Penting dalam Penyerbukan

Sebagai pemakan nektar, Perkici Buru berperan dalam penyerbukan tumbuhan hutan tropis. Kehadirannya mendukung regenerasi pohon berbunga dan menjaga keseimbangan ekosistem. Hilangnya spesies ini berpotensi memengaruhi dinamika penyerbukan lokal.

Pulau Buru memiliki tingkat endemisme tinggi akibat isolasi geografis. Perkici Buru merupakan contoh evolusi spesifik pulau yang menghasilkan spesies dengan distribusi sangat terbatas. Kehilangannya akan mengurangi keunikan biologis Indonesia Timur.

Upaya pelestarian memerlukan survei populasi yang lebih intensif, perlindungan habitat berbunga, serta penguatan pengawasan hutan. Tanpa langkah terukur dan berbasis data, spesies ini berisiko hilang tanpa dokumentasi yang memadai.

Perkici Buru adalah bagian dari kekayaan hayati nasional yang belum banyak dikenal publik. Informasi yang akurat dan penelitian lanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa burung endemik Pulau Buru ini tetap bertahan di habitat alaminya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.