Bayangkan pagi yang sunyi di tepi rawa. Air tampak diam, tetapi di permukaannya terlihat makhluk kecil yang tampak seolah sedang berjalan di atas air.
Bukan ilusi atau sulap. Inilah burung sepatu teratai (Hydrophasianus chirurgus), spesies burung air yang begitu unik hingga membuat banyak orang terpesona. Ia bukan hanya pemandangan indah di ekosistem perairan, tetapi juga sebuah karya adaptasi alam yang menakjubkan.
Dari India hingga Filipina, termasuk wilayah Indonesia, burung sepatu teratai bertebaran di perairan dangkal yang dipenuhi vegetasi terapung. Habitat seperti rawa, danau berair tenang, kolam, sawah, dan laguna menjadi tempat favorit mereka mencari makan dan berkembang biak.
Di kawasan Asia tropis ini burung ini bukan pengunjung langka. Namun, sering tersembunyi di balik daun teratai lebar yang terapung di permukaan air.
Penyebaran global burung ini menunjukkan betapa fleksibelnya spesies ini dalam menempati ekosistem rawa. Burung ini bisa ditemukan di banyak negara Asia seperti India, Pakistan, Nepal, Sri Lanka, Cina, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Malaysia, Singapura, hingga Indonesia dan Filipina. Bahkan ia tercatat sebagai vagrant di negara-negara jauh seperti Qatar dan Australia.
Ciri fisik burung sepatu teratai tak mudah dilupakan. Bulu tubuhnya beragam antara cokelat, putih, dan emas yang kontras pada musim kawin. Ekor yang panjang dan anggun menjadi aksen utamanya saat periode reproduksi tiba.
Tidak hanya itu, jari-jari kaki yang panjang dan kuku yang lebar memberi efek “sepatu” alami yang membuatnya berjalan ringan di atas daun terapung tanpa tenggelam. Adaptasi anatomis itulah yang menjadi sumber julukan “lily-trotters” atau pejalan teratai.

Penjelasan ilmiah mengenai adaptasi kaki burung ini bisa dipahami secara biomekanik. Berat tubuhnya disebarkan melalui jari-jari kaki yang memanjang sehingga tekanannya pada permukaan daun terapung lebih rendah.
Secara fisika, kita mengenal prinsip yang sama pada “alas salju”, di mana permukaan yang lebih luas memungkinkan bergerak tanpa “tenggelam”.
Prinsip sederhana ini menjelaskan fenomena yang sering terlihat dengan mata telanjang yaitu burung seolah-olah berjalan di atas air.
Dengan panjang tubuh sekitar 29–31,5 cm, burung ini tergolong ukuran sedang. Namun saat musim kawin panjang totalnya bisa mencapai 45–50 cm karena ekor yang memanjang di bagian belakang tubuh.
Bulu kepala berwarna putih, bagian leher bawah berwarna emas, dan sayap putih mencolok saat terbang memberi pemandangan yang memukau.
Dari sisi makan, burung sepatu teratai adalah predator kecil yang cerdik. Diet utamanya terdiri dari berbagai invertebrata seperti serangga air, moluska kecil, hingga larva yang hidup di permukaan air atau di vegetasi terapung.
Kadang biji tumbuhan air pun ikut tertelan tanpa sengaja saat mereka mematuk makanan. Karena cara makannya yang unik ini, burung sepatu teratai turut membantu mengendalikan populasi serangga di habitatnya.

Namun, yang membuat burung ini semakin menarik adalah sistem reproduksinya yang tidak lazim. Di banyak spesies burung, jantan dan betina berbagi tugas dalam merawat anak. Tetapi di burung sepatu teratai, peran itu terbalik.
Betina lebih besar dari jantan dan bersifat poliandri. Ia sering kawin dengan beberapa jantan yang masing-masing kemudian bertanggung jawab atas inkubasi telur dan perawatan anaknya.
Sistem poliandri ini adalah strategi reproduksi langka pada burung. Dalam satu musim kawin, seekor betina bisa menghasilkan hingga sepuluh kali bertelur, dan tiap kelompok telur itu diserahkan kepada jantan yang berbeda untuk ditetaskan dan dirawat.
Telur-telur ini biasanya berjumlah sekitar empat butir per sarang dan bersarang pada vegetasi yang mengambang.
Jantan memainkan peran penting tak hanya dalam mengerami telur, tetapi juga menjaga anak-anaknya. Anak burung yang baru menetas bisa berjalan, berenang, dan mencari makan sendiri hanya beberapa jam setelah lahir.
Selama masa awal mereka sering digendong atau dilindungi oleh jantan dewasa agar aman dari predator dan gelombang air.

Di luar musim kawin, burung sepatu teratai mengalami perubahan bulu. Ekor panjang yang mencolok lenyap, memberi mereka tampilan yang lebih sederhana dengan warna tubuh kusam cokelat dan putih.
Pergantian bulu ini bukan sekadar kosmetik, tetapi juga strategi adaptasi untuk memudahkan mobilitas dan mengurangi perhatian predator ketika tidak sedang mencari pasangan.
Fenomena migrasi juga tercatat pada spesies ini, terutama populasi yang berasal dari daerah dengan musim dingin yang lebih ekstrem. Mereka cenderung bermigrasi menuju kawasan yang lebih hangat saat musim dingin tiba. Sedangkan populasi yang hidup di wilayah tropis tetap berada di habitatnya sepanjang tahun.
Dari sisi konservasi, burung sepatu teratai termasuk dalam kategori Least Concern menurut IUCN karena populasinya yang masih luas di berbagai negara Asia.
Namun itu tidak berarti tanpa tantangan. Kerusakan habitat akibat perubahan fungsi lahan, pencemaran air, dan hilangnya vegetasi terapung memberi tekanan serius terhadap kelangsungan hidup mereka di sejumlah lokasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


