Rangkong badak adalah burung besar yang hidup di tajuk hutan hujan tropis Asia Tenggara. Di Kalimantan, burung ini dikenal sebagai tingang oleh masyarakat Dayak. Nama ilmiahnya Buceros rhinoceros, diberikan Carl Linnaeus pada 1758.
Tubuhnya mencolok, terbangnya berat, dan suaranya menggema jauh. Bagi orang Dayak, rangkong bukan sekadar satwa liar. Ia hadir sebagai simbol kosmologi, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan alam. Burung ini hidup berdampingan dengan manusia selama ratusan tahun, tertanam dalam mitos, seni, dan ritus adat.
Secara biologis, rangkong badak termasuk keluarga Bucerotidae, kelompok burung berciri paruh besar dan balung mencolok. Panjang tubuhnya mencapai 110 hingga 127 sentimeter, menjadikannya salah satu rangkong terbesar. Habitat aslinya adalah hutan hujan dataran rendah hingga perbukitan.
Di Indonesia, ia ditemukan di Kalimantan dan Sumatra. Populasi juga terdapat di Malaysia dan Thailand selatan. Menurut IUCN Red List 2023, spesies ini berstatus Rentan. Status ini mencerminkan tekanan serius akibat deforestasi dan perburuan.

Ciri fisik rangkong badak sangat mudah dikenali. Paruhnya besar, melengkung, dan berwarna kuning gading. Di atas paruh terdapat balung atau casque berwarna merah jingga. Casque ini berongga dan ringan, tetapi kuat. Fungsinya sebagai resonator suara dan penanda visual. Sayapnya lebar, menghasilkan bunyi keras saat terbang.
Bulu tubuhnya didominasi hitam dengan ekor putih bergaris hitam tebal. Area sekitar mata tidak berbulu, mempertegas ekspresi wajahnya.
Rangkong badak menunjukkan dimorfisme seksual yang jelas. Jantan memiliki iris mata merah terang dan leher berwarna biru cerah. Betina mempunyai iris putih kebiruan dengan warna leher lebih pucat. Perbedaan ini memudahkan identifikasi di alam.
Dalam perilaku sosial, rangkong bersifat monogami. Untuk menjadi pasangan, terbentuk untuk jangka panjang, seringnya seumur hidup. Ikatan ini penting dalam keberhasilan reproduksi. Kesetiaan tersebut kelak menjadi dasar simbolik dalam budaya Dayak.
Makanan utama rangkong badak adalah buah-buahan hutan. Pohon ara dari genus Ficus menjadi sumber pakan terpenting. Terdapat lebih dari 200 jenis ara yang dikonsumsi rangkong.
Menurut Corlett dalam Frugivory and Seed Dispersal by Hornbills (1998), rangkong adalah penyebar biji paling efektif. Daya jelajahnya luas dan sistem pencernaannya mendukung penyebaran biji utuh. Selain buah, rangkong juga memakan serangga, reptil kecil, dan hewan pengerat.
Perilaku berkembang biak rangkong badak sangat unik. Betina bersarang di lubang pohon besar dengan diameter tertentu. Lubang tersebut kemudian ditutup lumpur, tanah, dan kotoran. Hanya tersisa celah kecil untuk menerima makanan.
Betina mengeram satu hingga dua telur selama sekitar 40 hari. Selama masa ini, jantan menjadi satu-satunya penyedia makanan.
Anak diloloh melalui celah hingga cukup besar untuk keluar. Menurut Kemp dalam The Hornbills (1995), strategi ini melindungi telur dari predator.

Rangkong badak jenis tockus damarensis (pixabay.com)
Rangkong badak mencapai umur reproduktif sekitar lima hingga enam tahun. Umurnya di alam dapat mencapai lebih dari 30 tahun. Ketergantungan pada pohon besar membuatnya rentan terhadap pembalakan. Hutan primer menyediakan sarang dan pakan berkelanjutan. Ketika hutan terfragmentasi, rangkong kesulitan bertahan.
Penelitian Hadiprakarsa dan Kinnaird (2004) menunjukkan kepadatan rendah di hutan terdegradasi. Fakta ini menegaskan pentingnya menjaga hutan tua.
Dalam konteks budaya Dayak, rangkong badak memiliki makna kosmologis mendalam. Dalam agama Kaharingan, rangkong melambangkan Alam Atas. Ia diasosiasikan dengan dunia kedewataan yang maskulin. Rangkong dianggap penjelmaan Panglima Burung, penjaga keseimbangan semesta.
Motif rangkong hadir dalam ukiran rumah panjang, perisai, dan kain tenun. Tarian Burung Enggang menirukan gerak sayapnya yang anggun. Semua ini menunjukkan posisi sakral rangkong dalam kehidupan adat.
Mitos-mitos Dayak memperkuat kesakralan rangkong badak. Suaranya dipercaya membawa pesan leluhur. Arah terbangnya dianggap sebagai petunjuk keselamatan. Burung ini diyakini mengantar roh orang mati menuju alam atas. Karena itu, membunuh rangkong dianggap pantangan berat.
Menurut Sellato dalam Hornbill and the Dayak World (2001), tabu ini berfungsi ekologis. Kepercayaan adat secara tidak langsung melindungi populasi rangkong.

Makanan utama rangkong badak adalah buah-buahan hutan (pixabay.com)
Secara simbolik, rangkong mencerminkan nilai kepemimpinan. Sayapnya melambangkan pemimpin yang melindungi rakyat. Ekor panjang melambangkan kemakmuran dan kesinambungan. Kesetiaan jantan memberi makan betina menjadi teladan tanggung jawab keluarga.
Nilai-nilai ini diwariskan lintas generasi melalui cerita lisan. Dengan demikian, rangkong bukan hanya simbol estetis. Ia adalah perangkat etika sosial masyarakat Dayak.
Namun, tekanan modern mengancam keberlanjutan simbol ini. Deforestasi untuk perkebunan dan tambang terus menggerus habitat. Perburuan masih terjadi karena nilai ekonomi balung.
Data KLHK 2022 menunjukkan penurunan habitat signifikan. Rangkong badak dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 dan Permen LHK 2018. Upaya konservasi berbasis masyarakat mulai dikembangkan. Program adopsi pohon sarang menjadi contoh kolaborasi efektif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


