Burung cendet merupakan salah satu burung yang paling dikenal dalam lanskap pedesaan Jawa dan wilayah terbuka lain di Indonesia. Tubuhnya ramping dengan ukuran sedang, namun perilakunya menunjukkan karakter agresif dan determinasi tinggi.
Burung ini masuk dalam genus Lanius dengan sebutan umum shrike. Nama Lanius berasal dari bahasa Latin yang berarti tukang jagal, merujuk langsung pada kebiasaan berburu dan cara uniknya memperlakukan mangsa.
Di Indonesia, cendet juga dikenal dengan berbagai nama lokal seperti bentet, pentet, dan toet, bergantung pada wilayah dan tradisi setempat. Popularitasnya tidak hanya datang dari kemampuan berburu, tetapi juga dari kecerdasannya dalam meniru suara.
Cendet bukan penghuni hutan lebat. Burung ini lebih banyak ditemukan di ruang terbuka seperti tepian kebun, savana, tegalan, padang rumput, serta kawasan perkebunan.
Lanskap terbuka memberi keuntungan visual bagi cendet untuk mengamati lingkungan sekitar dan mendeteksi mangsa dari jarak jauh. Famili Laniidae memiliki puluhan spesies dengan persebaran luas mulai dari Eurasia, Afrika, Asia Tenggara, hingga Papua.
Indonesia menjadi salah satu wilayah penting bagi keberlangsungan cendet karena masih memiliki habitat terbuka yang relatif luas, meskipun tekanan terhadap populasinya terus meningkat akibat perburuan dan perubahan penggunaan lahan.
Gemar Bertengger di Tempat Terbuka
Cendet memiliki panjang tubuh sekitar 20 hingga 25 sentimeter. Kepalanya relatif besar dengan leher yang tampak kuat. Paruhnya pendek, tebal, dan melengkung tajam di bagian ujung, menyerupai paruh burung pemangsa berukuran besar.
Kaki dan cakarnya kuat, memungkinkan burung ini mencengkeram mangsa dengan mantap. Ekornya panjang dan lentur, sering bergerak naik turun ketika burung ini berkicau atau waspada terhadap lingkungan sekitar.
Warna bulunya kontras, memadukan hitam, putih, abu-abu, dan pada beberapa jenis terdapat nuansa cokelat kemerahan.
Salah satu spesies yang paling dikenal di Indonesia adalah Lanius schach atau bentet kelabu. Spesies ini memiliki persebaran sangat luas, dari Iran hingga Papua.
Habitat favoritnya mencakup padang rumput, semak terbuka, perkebunan, dan kawasan pertanian hingga ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut.
Cendet biasanya bertengger di tempat terbuka dan mencolok, seperti ujung dahan atau tiang, yang memberinya sudut pandang luas untuk mengawasi pergerakan mangsa.
Si Jagal Kecil
Cendet dikenal sebagai predator aktif. Mangsa utamanya meliputi belalang, jangkrik, kumbang, dan serangga besar lain. Namun, burung ini juga memangsa kadal, katak, ular kecil, bahkan tikus kecil dan burung berukuran lebih kecil.
Setelah menangkap mangsa, cendet sering menancapkannya pada duri tanaman atau ranting tajam.
Yosef dan Pinshow dalam jurnal Behaviour berjudul Impaling in Shrikes (2005) menjelaskan bahwa perilaku ini berfungsi sebagai cara menyimpan makanan sekaligus sebagai sinyal kualitas pejantan. Bangkai mangsa yang dipajang juga berfungsi menandai wilayah kekuasaan.
Perilaku penancapan mangsa ini meningkat saat musim kawin. Pejantan dengan cadangan mangsa yang lebih banyak cenderung lebih menarik bagi betina.
Hal ini menunjukkan bahwa seleksi seksual pada cendet berkaitan langsung dengan kemampuan berburu dan pengelolaan sumber daya. Kebiasaan memangsa serangga dan vertebrata kecil menjadikan cendet sebagai pengendali alami hama di lahan pertanian dan kawasan terbuka.
Hidup hingga 7 Tahun
Dalam hal reproduksi, cendet tergolong produktif. Sarangnya berbentuk cawan kasar yang tersusun dari ranting, rumput, serat tumbuhan, dan bulu. Sarang biasanya ditempatkan di semak atau cabang pohon rendah.
Betina bertelur antara dua hingga enam butir dengan masa pengeraman sekitar dua minggu.
Selama periode ini, jantan berperan aktif menyuplai makanan. Anak burung mulai belajar terbang pada usia tiga hingga empat minggu dan menjadi mandiri dalam beberapa bulan.
Umur cendet di alam liar berkisar antara lima hingga tujuh tahun. Dalam perawatan optimal, umur hidupnya dapat lebih panjang.
Burung ini umumnya monogami, meskipun pada beberapa spesies ditemukan pola poligami. Fleksibilitas ini menunjukkan kemampuan adaptasi sosial yang baik terhadap kondisi lingkungan.
Punya Kecerdasan Tinggi
Cendet dikenal memiliki kecerdasan tinggi, salah satunya ditunjukkan oleh kemampuan meniru suara. Dalam dunia kicau, kemampuan ini disebut masteran. Cendet mampu menirukan suara berbagai jenis burung dan suara lingkungan dengan akurasi tinggi.
Penelitian William H. Thorpe dalam buku Bird Song (1961) menjelaskan bahwa kemampuan belajar vokal berkaitan erat dengan memori auditori dan kapasitas kognitif burung. Dalam praktik, cendet dapat menguasai lebih dari dua puluh variasi suara, tergantung individu dan lingkungan.
Di balik popularitasnya sebagai burung kicau, cendet menghadapi tantangan serius. BirdLife International dalam laporan Shrikes Conservation Overview (2022) mencatat penurunan populasi beberapa spesies shrike di berbagai wilayah.
Di Indonesia, Lanius schach masih berstatus risiko rendah, namun penurunan populasi lokal mulai terdeteksi. Perburuan, perdagangan, dan penyusutan habitat terbuka menjadi ancaman utama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


