Serak Jawa atau Tyto alba dikenal luas sebagai burung hantu yang memiliki peran penting dalam sistem pertanian, khususnya di Pulau Jawa.
Di sejumlah daerah seperti Pekalongan, Demak, Blitar, dan Banyuwangi, burung ini dianggap sebagai sahabat petani karena kemampuannya menekan populasi tikus yang kerap menjadi hama utama tanaman padi.
Pemanfaatan Serak Jawa sebagai pengendali hayati menjadi alternatif yang semakin diperhitungkan karena efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Serak Jawa merupakan burung predator nokturnal yang aktif berburu pada malam hari. Mangsa utamanya adalah tikus sawah (Rattus spp.), yang selama ini sulit dikendalikan hanya dengan cara mekanis atau kimia.
Kehadiran burung ini membantu mengurangi kerusakan tanaman sekaligus menekan ketergantungan petani terhadap racun tikus yang berisiko mencemari lingkungan.
Burung Hantu Berukuran Besar
Secara morfologi, Serak Jawa termasuk burung berukuran besar dengan panjang tubuh sekitar 32 hingga 40 sentimeter. Ciri paling mencolok adalah warna putih yang mendominasi wajah dan bagian bawah tubuhnya.
Wajahnya berbentuk hati dengan tepian cokelat, iris mata berwarna hitam, serta paruh tajam berwarna putih kekuningan yang melengkung ke bawah.
Mata Serak Jawa menghadap ke depan, berbeda dengan sebagian besar burung lain, sehingga mendukung kemampuan penglihatan stereoskopik untuk mengukur jarak mangsa.
Bagian atas tubuhnya berwarna kelabu terang dengan garis gelap dan bercak pucat. Pada individu muda dan betina, bercak ini biasanya tampak lebih rapat.
Sayap dan punggung memiliki tanda mengilap, sementara kaki berwarna putih kekuningan hingga kecokelatan dengan bulu yang relatif jarang. Jantan dan betina memiliki ukuran serta warna yang hampir sama, meski betina kadang berukuran sedikit lebih besar.
Pemburu Andal
Keberhasilan Serak Jawa sebagai pemburu tikus didukung oleh sejumlah adaptasi khusus. Burung ini mampu terbang hampir tanpa suara karena struktur bulu sayapnya yang dilapisi permukaan halus menyerupai beludru pada bagian bawah.
Selain itu, tepi bulu sayapnya memiliki gerigi sangat halus yang berfungsi meredam suara kepakan. Dengan kemampuan ini, pergerakan Serak Jawa tidak mudah terdeteksi oleh mangsa.
Indra pendengarannya juga sangat tajam. Letak lubang telinga Serak Jawa tidak simetris, baik dari segi tinggi maupun sudutnya. Di bagian wajah terdapat susunan bulu berbentuk cakram yang berfungsi mengarahkan suara ke telinga.
Struktur ini memungkinkan burung mendeteksi arah dan jarak mangsa secara presisi, bahkan dalam kondisi gelap total. Suara gesekan kecil yang ditimbulkan tikus saat bergerak di antara tanaman sudah cukup bagi Serak Jawa untuk menentukan lokasi mangsa.
Bisa melindungi 10 hektare sawah
Serak Jawa mulai siap berkembang biak pada usia sekitar sembilan bulan. Dalam satu tahun, burung ini dapat bertelur dua hingga tiga kali dengan jumlah telur antara empat hingga 19 butir per musim, tergantung ketersediaan pakan.
Anakan Serak Jawa mulai mampu berburu tikus pada usia sekitar lima bulan. Dengan siklus reproduksi tersebut, populasi Serak Jawa dapat ditingkatkan dalam waktu relatif singkat.
Seekor Serak Jawa dewasa mampu memangsa dua hingga lima ekor tikus per hari atau sekitar 1.300 ekor per tahun. Diperkirakan, sepasang Serak Jawa dapat melindungi area sawah hingga 10 hektare.
Dalam praktik di lapangan, petani biasanya menempatkan satu pagupon atau rumah burung hantu di setiap tiga hektare sawah untuk mendukung aktivitas dan persebaran burung ini.
Tersebar Luas di Indonesia
Secara global, Tyto alba tersebar luas di hampir seluruh benua kecuali Antartika. Di Indonesia, Serak Jawa ditemukan di dataran rendah Sumatera, Jawa, dan Bali hingga ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
Burung ini pertama kali dideskripsikan oleh Giovanni Scopoli pada tahun 1769, dengan nama spesies alba yang merujuk pada warna bulunya yang putih.
Pemanfaatan Serak Jawa sebagai pengendali tikus telah diterapkan di berbagai daerah, seperti Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Ngawi di Jawa Timur. Pengendalian hama menggunakan musuh alami ini dinilai efektif, meski memerlukan waktu dan konsistensi.
Konservasi Serak Jawa
Keberhasilan pengendalian tikus dengan Serak Jawa sangat bergantung pada upaya konservasi. Penyediaan pagupon atau rumah burung hantu menjadi langkah penting untuk mendukung kesejahteraan dan perkembangbiakan Serak Jawa.
Dengan lingkungan yang aman dan ketersediaan pakan yang cukup, burung ini dapat terus berperan sebagai predator alami yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Serak Jawa bukan hanya simbol burung malam, tetapi juga mitra strategis petani dalam menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


