Masalah pengelolaan sampah di wilayah pedesaan seringkali menjadi dilema yang tak kunjung usai bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. Di Desa Neglasari, kebiasaan membakar sampah secara terbuka di lahan-lahan kosong atau halaman belakang rumah masih menjadi pemandangan yang lumrah.
Meski selama ini dianggap sebagai cara yang paling praktis, murah, dan cepat untuk melenyapkan tumpukan sampah, praktik ini sebenarnya menyimpan "bom waktu" bagi kualitas udara dan kesehatan jangka panjang warga sekitar.
Asap hasil pembakaran terbuka tersebut mengandung partikel halus, karbon monoksida, dan berbagai zat beracun lainnya yang jika terhirup terus-menerus dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Menanggapi tantangan lingkungan tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IPB University hadir membawa angin segar melalui sebuah inisiatif bernama program SIMPA (Sistem Insinerasi untuk Manajemen Sampah).
Program ini bukan sekadar wacana edukasi atau sosialisasi di atas kertas, melainkan sebuah aksi nyata yang menawarkan teknologi tepat guna sederhana namun efektif untuk langsung diimplementasikan dan dikelola sendiri oleh masyarakat desa.
Fokus utamanya adalah menciptakan sistem pembuangan yang lebih aman dan higienis dibandingkan metode konvensional yang merusak lingkungan.
Apa Itu SIMPA?
Perlu Kawan GNFI ketahui, SIMPA adalah sistem pengolahan limbah padat menggunakan insinerator yaitu sebuah tungku pembakaran terkontrol yang dirancang sedemikian rupa untuk mengubah sampah menjadi gas dan abu.
Berbeda jauh dengan pembakaran terbuka yang menghasilkan asap hitam pekat serta residu yang berantakan, SIMPA bekerja pada suhu tinggi yang sangat ekstrem, yakni berkisar antara 600 hingga 1200 derajat Celcius.
Mengapa suhu setinggi itu menjadi faktor yang sangat krusial? Pada temperatur ekstrem tersebut, proses pembakaran terjadi jauh lebih sempurna dan stabil. Rantai karbon dalam sampah dipecah secara total sehingga volume sampah dapat berkurang drastis hingga 90% dalam waktu yang sangat singkat.
Hasilnya, emisi asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit, lebih bening, dan lebih terkendali karena sebagian besar partikel polutan telah habis terbakar dalam tungku sebelum sempat dilepaskan ke udara bebas.
Desain Sederhana dengan Performa Maksimal

Salah satu keunggulan utama dari SIMPA yang bisa Kawan GNFI pelajari adalah desainnya yang sangat "merakyat". Mahasiswa KKN IPB merancang alat ini sedemikian rupa agar mudah direplikasi oleh warga secara mandiri dengan material yang terjangkau dan tersedia di toko bangunan terdekat. Berikut adalah komponen utama yang menunjang kinerjanya:
Dinding Bata Hebel (AAC): Pemilihan material ini didasari oleh sifat bata ringan yang merupakan isolator panas yang sangat baik. Hal ini memastikan panas tetap terperangkap di dalam tungku untuk efisiensi pembakaran, sementara dinding bagian luar tetap aman jika tidak sengaja tersentuh.
Semen Mortar Khusus: Bata hebel direkatkan dengan semen mortar berkualitas untuk menjamin struktur yang kokoh dan meminimalisir kebocoran udara yang dapat menurunkan suhu internal tungku.
Sirkulasi & Pembuangan: Struktur ini dilengkapi dengan kisi-kisi besi sebagai alas tempat tumpukan sampah agar udara dapat mengalir dari bawah (oksigenasi), cerobong tinggi untuk mengarahkan residu gas ke atas, serta pintu kecil pada bagian belakang untuk memudahkan akses pengapian serta pembersihan residu abu.
Dampak Nyata dan Harapan Masyarakat
Hadirnya SIMPA di Desa Neglasari bukan hanya soal memusnahkan tumpukan sampah secara fisik, tetapi juga menjadi instrumen edukasi yang efektif dalam mengubah perilaku masyarakat terkait manajemen limbah.
Perubahan positif ini dirasakan langsung oleh tokoh masyarakat setempat Pak Nanang selaku Ketua RW 06 memberikan tanggapan positif sekaligus harapan besar terhadap keberlanjutan inovasi ini.
"Dengan adanya insinerator ini, harapannya warga semakin tertib dalam menjaga kebersihan lingkungan karena sekarang sarana pengolahannya sudah tersedia dan bisa digunakan dengan mudah, saya juga sangat berharap inovasi dari adik-adik mahasiswa ini dapat dicontoh praktiknya di RW-RW lain dan desa-desa tetangga," ungkap Pak Nanang dalam pengesahan SIMPA 25 Januari 2026 di Neglasari.
Lebih dari Sekadar Alat
Program ini menawarkan tiga manfaat utama yang bisa menjadi inspirasi bagi Kawan GNFI di wilayah lain:
Kesehatan Lingkungan: Secara signifikan menekan polusi udara dan bau tidak sedap akibat pembakaran liar di area pemukiman padat.
Efisiensi Lahan: Mempercepat pemusnahan sampah skala rumah tangga secara terkontrol sehingga tidak memerlukan lahan pembuangan akhir yang luas.
Kemandirian Lokal: Memberikan keterampilan teknis baru bagi warga desa dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang murah, aman, dan berkelanjutan.
Melalui program SIMPA, mahasiswa KKN IPB telah membuktikan bahwa solusi untuk masalah lingkungan yang kompleks tidak selalu harus mahal atau menggunakan teknologi tinggi yang sulit dijangkau.
Dengan sentuhan kreativitas, kolaborasi aktif bersama masyarakat, dan pemanfaatan teknologi tepat guna, Desa Neglasari kini menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berdaya bagi masa depan generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


