Masalah sampah plastik seolah menjadi "hantu" yang menghantui berbagai pelosok daerah di Indonesia, tak terkecuali di Desa Babakan Sadeng. Kawan GNFI pasti sering melihat bagaimana limbah plastik yang sulit terurai sering kali berakhir menjadi tumpukan yang merusak pemandangan, dibuang sembarangan ke selokan, hingga akhirnya mencemari aliran sungai.
Kondisi inilah yang memicu keresahan sekaligus semangat bagi sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Tergabung dalam kelompok yang menamakan diri mereka Babakan Sadeng Squad (KKNT KAB01BOGOR), para mahasiswa ini tidak ingin sekadar datang dan pergi. Mereka mencoba menghadirkan solusi konkret yang sederhana namun berdampak nyata bagi lingkungan melalui inovasi eco-paving block berbahan dasar sampah plastik.
Berawal dari Keresahan di Tepian Sungai
Selama masa KKN berlangsung, Kawan GNFI, tim Sadeng Squad mengamati bahwa pola pengelolaan sampah di Desa Babakan Sadeng belum maksimal. Sampah-sampah plastik rumah tangga sebagian besar hanya dikumpulkan untuk kemudian dibakar atau berakhir di aliran sungai. Padahal, kita tahu bahwa plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa hancur secara alami.
Melihat potensi limbah yang melimpah tapi tidak terurus ini, timbul sebuah ide: "Bagaimana jika sampah yang tadinya menjadi beban lingkungan ini diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna?" Dari sinilah program pembuatan eco-paving block mulai diperkenalkan kepada warga setempat.
Mengubah Limbah Menjadi Berkah di Kampung Ramah Lingkungan
Kegiatan ini dipusatkan di salah satu rumah warga yang memang aktif dalam program Kampung Ramah Lingkungan (KRL). Suasana sore itu dibuat santai dan terbuka agar warga tidak merasa sungkan untuk terlibat.
Menariknya, antusiasme warga ternyata di luar ekspektasi. Mulai dari Kepala Dusun 2 Desa Babakan Sadeng, para ketua RT, hingga ibu-ibu rumah tangga turut hadir untuk melihat langsung proses "sulap" sampah plastik ini.
Prosesnya dimulai dengan cara yang sangat partisipatif. Kawan GNFI bisa membayangkan bagaimana kolaborasi ini terjalin yaitu warga dari anak kecil diajak mengumpulkan sampah plastik dari rumah masing-masing, sementara tim mahasiswa menyiapkan bahan pendukung lainnya.
Tahapan pembuatannya pun tergolong unik namun praktis:
Pelelehan: Sampah plastik yang sudah terkumpul dipanaskan hingga meleleh menggunakan oli bekas sebagai bahan bakarnya.
Pencampuran: Lelehan plastik tersebut kemudian dicampur dengan pasir hingga merata.
Pencetakan: Adonan panas tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan paving block dan dipadatkan.
"Prosesnya cukup sederhana, alatnya mudah ditemukan di sekitar kita, dan yang paling penting tidak membutuhkan biaya besar," ujar salah satu anggota Sadeng Squad saat mendemonstrasikan prosesnya di hadapan warga.
Suara dari Warga: Dari Bingung Menjadi Paham
Kawan GNFI, momen yang paling berkesan adalah ketika warga melihat hasil cetakan pertama. Banyak yang tidak menyangka bahwa plastik-plastik bekas kemasan yang tadinya dianggap kotor bisa berubah menjadi blok-blok keras yang siap digunakan untuk mengeraskan jalan desa.
Ketua Dusun 2 Desa Babakan Sadeng menyampaikan apresiasinya dengan penuh semangat. Beliau mengakui bahwa ilmu yang dibawa mahasiswa IPB ini sangat membantu mengubah perspektif warga.
"Ilmu-ilmu yang diberikan oleh mahasiswa KKN sangat membantu dan bermanfaat bagi kami. Dari yang awalnya hanya tahu kalau sampah plastik itu sulit diolah, tapi setelah melihat prosesnya, kami jadi paham kalau ternyata cukup mudah menjadikannya barang berguna seperti paving block ini," ungkap beliau.
Dibandingkan dengan paving block konvensional yang berbahan semen, eco-paving ini cenderung lebih ringan tapi memiliki kepadatan yang cukup baik karena sifat plastik yang mengikat pasir dengan kuat.
Menumbuhkan Rasa Kepemilikan Bersama
Lebih dari sekadar memproduksi paving block, program ini sebenarnya bertujuan untuk memupuk rasa kepemilikan bersama terhadap kebersihan lingkungan. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga memperkuat ikatan sosial di Desa Babakan Sadeng. Kini, warga tidak lagi melihat sampah plastik sebagai musuh, melainkan sebagai bahan baku yang potensial.
Melalui inisiatif Babakan Sadeng Squad, kita diingatkan kembali bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu menggunakan mesin canggih yang mahal. Dengan sedikit kreativitas, kerja sama, dan kemauan untuk mencoba, solusi lingkungan bisa lahir dari tangan kita sendiri.
Eco-paving block ini bukan hanya sekadar membantu mengurangi volume sampah di desa, tetapi juga membuka peluang kemandirian ekonomi berbasis lingkungan bagi masyarakat Desa Babakan Sadeng di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


