semai jadi ruang belajar bersama saat petani mahasiswa dan akademisi duduk bersama - News | Good News From Indonesia 2026

SEMAI Jadi Ruang Belajar Bersama, Saat Petani, Mahasiswa, dan Akademisi Duduk Bersama

SEMAI Jadi Ruang Belajar Bersama, Saat Petani, Mahasiswa, dan Akademisi Duduk Bersama
images info

SEMAI Jadi Ruang Belajar Bersama, Saat Petani, Mahasiswa, dan Akademisi Duduk Bersama


Belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas atau laboratorium dengan papan tulis dan modul tertata rapi. Di Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, proses belajar justru tumbuh dari percakapan, pengalaman, dan pertemuan lintas peran antara petani, mahasiswa, dan akademisi. Suasana inilah yang tergambar dalam kegiatan Seminar dan Edukasi Bibit Unggul Tani (SEMAI) yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University Desa Palasari 2025.

SEMAI dirancang bukan sebagai seminar satu arah yang menempatkan peserta hanya sebagai pendengar. Sejak awal kegiatan, ruang diskusi dibuka selebar-lebarnya agar setiap peserta dapat menyampaikan pengalaman, pertanyaan, dan permasalahan yang mereka hadapi di lapangan. Sekitar 30 peserta yang terdiri dari petani dan masyarakat desa tampak aktif terlibat dalam diskusi, menciptakan suasana belajar yang hidup dan partisipatif.

Beragam cerita lapangan muncul dalam forum tersebut. Ada petani yang menceritakan kegagalan sambung pucuk yang berulang, bibit durian yang mati setelah dipindahkan ke polybag, hingga permasalahan penyakit tanaman yang sering muncul saat musim hujan. Cerita-cerita ini menjadi pintu masuk untuk membangun diskusi yang lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi Desa Palasari.

Untuk memfasilitasi ruang belajar bersama ini, mahasiswa KKNT IPB menghadirkan Kusuma Darma, S.P., M.Si., pemateri dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University. Berbeda dengan pola seminar konvensional, Kusuma Darma tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga mendorong terjadinya dialog dua arah. Setiap pemaparan selalu diiringi dengan pertanyaan balik dan diskusi, sehingga ilmu akademik dapat bertemu langsung dengan praktik pertanian di desa.

Dalam sesi diskusi, petani bebas mengungkapkan kendala yang mereka alami tanpa rasa sungkan. Tidak ada jarak antara narasumber dan peserta. Setiap permasalahan dijawab dengan pendekatan yang sederhana, praktis, dan mudah diterapkan.

Penjelasan disesuaikan dengan kondisi lapangan, ketersediaan alat, serta kebiasaan petani setempat. Proses ini menjadikan SEMAI sebagai ruang belajar kolektif, di mana pengetahuan tidak hanya datang dari akademisi, tetapi juga tumbuh dari pengalaman para petani itu sendiri.

Materi yang dibahas dalam SEMAI mencakup tahapan teknis pembibitan durian secara menyeluruh. Peserta diajak memahami pentingnya pemilihan bahan tanam yang sehat sebagai fondasi awal keberhasilan pembibitan. Selain itu, pengelolaan media tanam juga dibahas secara rinci, termasuk komposisi media yang sesuai dan cara menjaga kelembapan agar bibit dapat tumbuh optimal.

Teknik perbanyakan vegetatif seperti sambung pucuk dan okulasi menjadi topik yang paling banyak menarik perhatian peserta. Banyak petani mengakui bahwa mereka telah mencoba teknik tersebut, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal. Melalui diskusi dan penjelasan yang aplikatif, peserta diajak memahami faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan sambung pucuk, mulai dari kesesuaian batang bawah dan batang atas, kebersihan alat, hingga waktu pelaksanaan yang tepat.

Selain aspek teknis pembibitan, perhatian khusus juga diberikan pada perawatan bibit, terutama di musim hujan. Kondisi cuaca yang lembap sering kali menjadi tantangan utama bagi petani di Desa Palasari. Oleh karena itu, pengaturan penyiraman, pemupukan, naungan, serta sistem drainase dibahas secara praktis agar bibit tidak mudah terserang penyakit.

Bagi mahasiswa KKNT IPB, kegiatan SEMAI menjadi pengalaman berharga dalam proses pengabdian kepada masyarakat. Mereka tidak hanya berperan sebagai penyelenggara dan fasilitator kegiatan, tetapi juga sebagai pendengar yang menyerap realitas lapangan secara langsung.

Melalui interaksi ini, mahasiswa belajar bahwa pengetahuan akademik perlu diterjemahkan secara kontekstual agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Hubungan yang terbangun dalam SEMAI juga terasa lebih setara. Mahasiswa, akademisi, dan petani duduk bersama sebagai sesama pembelajar. Setiap pihak memiliki peran dan kontribusi masing-masing dalam proses belajar. Pendekatan ini menciptakan suasana saling menghargai dan memperkuat kepercayaan antara dunia kampus dan masyarakat desa.

SEMAI menunjukkan bahwa pendidikan pertanian dapat berlangsung secara partisipatif dan kontekstual. Ketika ruang dialog dibuka dan setiap pihak saling belajar, pengetahuan menjadi lebih bermakna dan mudah diterapkan. Tidak ada lagi sekat antara teori dan praktik, karena keduanya bertemu dalam diskusi yang berangkat dari pengalaman nyata.

Dari Desa Palasari, SEMAI menghadirkan contoh bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Percakapan sederhana, diskusi terbuka, dan kemauan untuk saling belajar dapat menjadi fondasi bagi peningkatan kapasitas petani di tingkat desa. Lebih dari sekadar kegiatan seminar, SEMAI menjadi simbol kolaborasi dan semangat belajar sepanjang hayat.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pertanian yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan teknologi dan bibit unggul, tetapi juga ruang belajar bersama yang terus hidup di tengah masyarakat. Ketika petani, mahasiswa, dan akademisi duduk bersama, proses belajar tidak hanya menciptakan pengetahuan baru, tetapi juga harapan akan masa depan pertanian desa yang lebih baik.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.