Kisah Laengu dalam ikatan sagu merupakan salah satu cerita rakyat dari Wawonii, Sulawesi Tenggara. Kali ini, Laengu berupaya agar bisa terlepas dari hukuman yang diberikan oleh sang ayah.
Bagaimana kisah Laengu yang terdapat dalam cerita rakyat Wawonii, Sulawesi Tenggara tersebut?
Kisah Laengu dalam Ikatan Sagu, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara
Dilihat dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), pada zaman dahulu ada seorang anak yang bernama Laengu. Suatu hari Laengu tengah mendapatkan hukuman dari ayahnya.
Hal ini disebabkan karena dia sudah menipu sang ayah sebelumnya. Oleh sebab itu, Laengu dihukum untuk mengambil daun sagu yang nantinya digunakan sebagai atap rumah.
Pada hari yang ditentukan, Laengu akhirnya berangkat masuk ke dalam hutan. Dirinya pergi untuk menjalankan hukuman yang diberikan oleh sang ayah.
Sepanjang perjalanan, Laengu memikirkan cara agar bisa lepas dari hukuman tersebut. Dirinya memikirkan akan banyak usaha yang mesti dilakukan untuk memanjat pohon sagu serta memikul daunnya ke rumah nanti.
Laengu kemudian menemukan sebuah ide. Dirinya kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan sang ayah.
Dia meminta agar ayahnya memikul daun yang dikumpulkan nantinya. Laengu beralasan jika dia pasti akan kelelahan dan tidak kuat melakukan hal itu nantinya.
Sang ayah akhirnya mengalah dan memenuhi permintaan Laengu. Namun Laengu mesti bisa mengumpulkan daun yang nantinya akan dijalin menjadi lima belas lembar atap rumah.
Laengu kembali pergi ke hutan dengan perasaan senang. Dia merasa bisa mengurangi beban hukuman yang diberikan padanya.
Sesampainya di hutan, Laengu mulai memanjat pohon sagu dan mengambil daunnya. Namun karena memiliki fisik yang lemah, Laengu sudah kelelahan ketika baru mengambil beberapa daun saja.
Laengu kembali memikirkan cara agar bisa memenuhi permintaan sang ayah. Lagi-lagi terbesit sebuah ide di benak Laengu.
Dia berniat untuk membalut semua tubuhnya dengan daun sagu tersebut hingga tidak terlihat. Dengan demikian, dirinya terlihat sudah berhasil mengumpulkan banyak daun sagu untuk atap rumahnya.
Laengu kemudian berusaha mengikatkan daun sagu pada dirinya. Namun Laengu kesulitan untuk melakukan hal tersebut.
Tidak lama kemudian, muncul seorang pemuda yang tengah mencari daun sagu juga di hutan tersebut. Laengu kemudian meminta pemuda tersebut untuk membalut tubuhnya dengan daun sagu dan mengikatnya dengan kencang.
Pemuda ini kemudian melakukan permintaan Laengu walau dengan perasaan bingung. Dalam sekejap, tubuh Laengu berhasil dibalut dan tertutup daun sagu.
Sang ayah kemudian masuk ke hutan beberapa saat kemudian. Alangkah senangnya sang ayah melihat seonggong daun sagu yang sudah terikat.
Akan tetapi sang ayah tidak menemukan keberadaan Laengu. Karena hari sudah mulai sore, sang ayah langsung memikul daun sagu tersebut untuk dibawa ke rumah.
Di sepanjang perjalanan, sang ayah merasa keberatan dengan daun sagu tersebut. Di sisi lain, Laengu hanya terdiam saja memikirkan rencananya berhasil begitu saja.
Setelah berjalan cukup jauh, sang ayah kembali beristirahat. Kali ini dia melemparkan daun sagu yang dipikul begitu saja hingga tubuh Laengu yang ada di dalamnya menjadi kesakitan.
Karena tidak kuat, sang ayah kemudian mengambil parang. Dia berniat untuk memotong daun sagu tersebut menjadi lebih kecil agar mudah untuk diangkat.
Laengu langsung berteriak begitu mengetahui niat sang ayah. Dirinya kemudian berkata bahwa berada di dalam ikatan daun sagu tersebut.
Sang ayah langsung membuka ikatan daun sagu tersebut. Dirinya menemukan Laengu yang kesakitan dan ketakutan akan dicincang oleh sang ayah.
Akhirnya sang ayah menjadi murka dan marah pada Laengu. Di sisi lain, Laengu hanya bisa menerima amarah sang ayah sambil merintih kesakitan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


