Ada sebuah cerita rakyat dari Wawonii, Sulawesi Selatan yang menceritakan kisah tentang seorang anak laki-laki bernama Laengu. Dalam ceritanya, Laengu dikisahkan sebagai seorang anak yang tidak memiliki wawasan terkait lingkungan sekitar.
Pada suatu hari, Laengu pergi ke hutan untuk mengambil jamur yang ada di sana. Namun usaha yang dilakukan oleh Laengu ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Lantas bagaimana kisah dari Laengu dalam cerita rakyat tersebut?
Kisah Laengu Mencabut Jamur, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara
Dikutip dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), tersebutlah dulu ada seorang anak laki-laki yang bernama Laengu. Sejak kecil dia jarang sekali disuruh bekerja oleh kedua orang tuanya.
Hal ini membuat wawasan Laengu tentang lingkungan sekitarnya menjadi terbatas. Banyak hal yang tidak dia ketahui, bahkan untuk bertahan hidup sekalipun.
Namun begitu beranjak dewasa, Laengu mulai menjelajahi lingkungan yang ada di sekitarnya. Keputusan ini juga didukung sang ayah agar dirinya bisa menambah wawasan yang dimiliki.
Sebelumnya Laengu pernah pergi ke hutan seorang diri. Di sana dia menangkap katak dan membawanya satu keranjang penuh.
Namun begitu sampai di rumah, semua katak tersebut sudah habis tak bersisa. Ternyata katak-katak tersebut meloncat di sepanjang perjalanan menuju rumah.
Laengu pun mendapatkan pesan dari sang ayah jika hendak menangkap katak, maka mesti memukulnya terlebih dahulu sebelum dimasukkan dalam keranjang. Pesan dari sang ayah ini menjadi pelajaran berharga yang diingat oleh Laengu.
Pada suatu hari, hujan mengguyur daerah tempat tinggal Laengu selama semalam suntuk. Biasanya momen ini akan menjadi waktu yang tepat untuk jamur-jamur tumbuh subur.
Laengu memikirkan hal ini selama semalaman. Dia ingin mencari jamur-jamur tersebut agar kedua orang tuanya senang.
Keesokan harinya, cuaca di daerah tersebut mulai cerah. Laengu pun berangkat ke dalam hutan untuk mencari jamur.
Tidak lupa dia juga membawa keranjang di pundaknya. Setelah berjalan cukup jauh, Laengu melihat sekumpulan jamur yang tumbuh dengan suburnya.
Dengan perasaan gembira, Laengu langsung menghampiri jamur-jamur tersebut. Namun tiba-tiba dia ingat pesan sang ayah sebelumnya.
Laengu kemudian mencari kayu dan memukuli jamur-jamur tersebut. Dia tidak ingin kejadian ketika dirinya menangkap katak terulang kembali.
Setelah memukuli semua jamur itu, Laengu kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Dirinya kemudian langsung pulang ke rumah dengan perasaan senang.
Sang ayah terkejut melihat kedatangan Laengu. Sebab dia pulang lebih awal dari biasanya.
Begitu sampai di rumah, Laengu berkata jika hari ini mereka akan makan besar. Laengu menyebutkan bahwa dia berhasil mendapatkan banyak jamur di dalam hutan.
Sang ayah tentu senang mendengarkan hal tersebut. Dirinya bangga melihat kemajuan Laengu jika dibandingkan dengan sebelumnya.
Namun raut wajah sang ayah berubah begitu dia membuka keranjang yang dibawa Laengu. Dia mendapati semua jamur yang ada di dalam keranjang tersebut hancur berantakan.
Sang ayah kemudian bertanya mengapa jamur-jamur tersebut bisa jadi demikian. Dengan polosnya Laengu menjawab jika dia memukuli semua jamur tersebut terlebih dahulu agar tidak kabur ketika dimasukkan ke dalam keranjang.
Jawaban Laengu ternyata membuat sang ayah tertawa. Ayah Laengu kemudian menjelaskan jika dia hendak mengambil jamur, maka cukup dicabut dan dibersihkan akarnya saja tanpa perlu dipukul sebelum dimasukkan ke dalam keranjang.
Laengu hanya bisa tertunduk mendengarkan penjelasan dari sang ayah. Dia kecewa karena semua usaha yang sudah dilakukan berakhir sia-sia.
Namun pengalaman ini juga menjadi pelajaran berharga bagi Laengu untuk menjalani kehidupan ke depannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


