Jamur memang dikenal sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang kaya nutrisi, terutama protein, serat, dan berbagai mineral.
Namun di alam, banyak jenis jamur memiliki bentuk yang sangat mirip satu sama lain.
Kemiripan inilah yang sering menyebabkan kesalahan identifikasi antara jamur yang aman dikonsumsi dan jamur yang beracun.
Oleh karena itu, penting bagi Kawan untuk memiliki pengetahuan dasar tentang jamur liar, terutama jika tujuan koleksinya adalah untuk konsumsi.
Hal ini bertujuan menghindari kasus keracunan yang pada kondisi tertentu bahkan dapat berujung pada kematian.
Melalui artikel ini, Kawan akan diajak mengenal jamur liar secara lebih dekat, mulai dari pengertian dan jenis-jenisnya, perbedaan jamur edibel dan non-edibel, panduan koleksi jamur di alam, hingga contoh pengolahan jamur liar menjadi aneka hidangan.
Apa Saja Jenis Jamur Liar?
Sebelumnya, Kawan perlu mengetahui sebuah fakta yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira semua “jamur” adalah satu kelompok yang sama, termasuk jamur penyebab penyakit pada manusia maupun jamur konsumsi. Padahal secara ilmiah, jamur merupakan bagian dari kingdom Fungi atau dalam bahasa Indonesia disebut cendawan.
Cendawan terdiri dari berbagai kelompok yang dibedakan berdasarkan jumlah sel dan ukurannya. Cendawan bersel satu (uniseluler) dikenal sebagai khamir atau yeast, sedangkan cendawan multiseluler berukuran mikroskopis umumnya disebut kapang.
Sementara itu, jamur yang biasa kita lihat di alam adalah cendawan multiseluler berukuran makroskopis yang memiliki tubuh buah. Kelompok jamur inilah yang sering disebut sebagai “jamur liar”.
Secara umum, jamur liar termasuk ke dalam dua filum utama, yaitu Ascomycota dan Basidiomycota. Ascomycota berkembang biak dengan spora yang tersimpan di dalam kantung khusus yang disebut askus (asci). Contohnya antara lain jamur mangkuk dan morel.
Basidiomycota menghasilkan spora pada struktur penyangga yang disebut basidium, dan kelompok inilah yang paling sering dijumpai sebagai jamur bertudung, bertangkai, dan berlamela.
Pada kelompok Basidiomycota, tubuh buah jamur umumnya terdiri atas tudung, batang, bagian bawah tudung (lamela atau pori), dan kadang disertai cincin. Banyak spesies beracun berasal dari kelompok ini, sehingga kehati-hatian sangat diperlukan saat berhadapan dengan jamur-jamur bertudung di alam.

Perbedaan Ciri Utama Berbagai Kelompok Fungi. Sumber Gambar : Wikimedia Commons (M.Piepenbring)
Bedanya Jamur Edibel dan Non-Edibel
Membedakan jamur liar yang edibel (dapat dimakan) dan non-edibel (tidak dapat dimakan) bukanlah perkara sederhana. Penampilan luar semata tidak dapat dijadikan patokan.
Warna cerah, bau tertentu, atau bentuk unik tidak otomatis menunjukkan apakah suatu jamur aman dikonsumsi atau tidak. Meski demikian, dengan mempelajari dasar-dasar identifikasi jamur, Kawan dapat memperkecil risiko kesalahan.
Beberapa struktur penting yang perlu diperhatikan dalam proses identifikasi jamur liar meliputi:
- tudung (bentuk, warna, dan tekstur),
- batang,
- bagian bawah tudung (lamela, pori, atau permukaan lain),
- cincin pada batang,
- serta pangkal batang (ada atau tidaknya volva).
Setelah melakukan pengamatan, pengoleksi sebaiknya mencatat semua ciri yang terlihat dan membandingkannya dengan panduan identifikasi atau basis data jamur. Selain itu, berkonsultasi dengan ahli jamur juga sangat dianjurkan, terutama bagi pemula.
Tahap konfirmasi ini sangat penting karena penciri fisik antara jamur edibel dan non-edibel terutama yang beracun sering kali sangat mirip. Tidak ada satu ciri tunggal yang dapat dijadikan penentu mutlak.
Sebagai langkah pencegahan awal, pengoleksi dengan tujuan konsumsi disarankan menghindari beberapa genus yang dikenal banyak mengandung spesies beracun, seperti Amanita, Inocybe, dan Galerina.
Genus Amanita relatif mudah dikenali karena banyak anggotanya memiliki tudung berwarna mencolok dan sering disertai bintik-bintik putih, meskipun tidak semua Amanita tampak demikian.

Panduan Koleksi Jamur Liar di Alam
Jika Kawan ingin mulai melakukan eksplorasi dan koleksi jamur liar di alam, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, mulai dari persiapan hingga etika pengambilan.
Persiapan keselamatan dan perlengkapan
Sebelum ke lapangan, siapkan perlengkapan dasar seperti pisau kecil, keranjang anyaman atau wadah terbuka (hindari kantong plastik), buku panduan jamur, buku catatan, kamera atau ponsel, serta sarung tangan.
Jamur yang belum dikenal sebaiknya disimpan terpisah dari jamur lain. Setelah memegang jamur liar, terutama yang belum teridentifikasi, biasakan mencuci tangan.
Cara mengambil jamur
Untuk keperluan identifikasi, jamur sebaiknya diambil utuh hingga ke pangkal batangnya. Banyak ciri penting justru berada di bagian dasar batang, misalnya keberadaan volva.
Pengambilan dilakukan dengan menggali tanah secara perlahan di sekitar pangkal jamur agar struktur tubuh buah tidak rusak.
Jika menemukan jamur yang dicurigai beracun, gunakan sarung tangan dan simpan terpisah.
Pencatatan ciri di lapangan
Pencatatan jenis jamur meliputi tempat hidup (tanah, kayu, atau pohon), cara hidup (soliter atau berkelompok), bentuk tubuh buah, tipe tudung, bentuk tepian tudung, karakter bawah tudung (lamela atau pori), warna, bau, serta tipe batang.
Selain itu, penting pula mencatat kondisi lingkungan sekitar, termasuk jenis vegetasi di lokasi tumbuh jamur, karena banyak jamur memiliki hubungan erat dengan tumbuhan tertentu.
Etika koleksi jamur liar
Ambil jamur seperlunya dan hindari merusak habitat. Jangan menginjak atau menghancurkan jamur yang tidak diambil, karena jamur memiliki peran penting sebagai pengurai bahan organik dan penopang keseimbangan ekosistem.
Beragam Makanan dengan Bahan Jamur Liar
Mengolah jamur untuk disantap juga memerlukan kecermatan. Meskipun jamur yang diambil tidak beracun, pengolahan yang kurang tepat dapat menimbulkan rasa atau aroma yang tidak sedap.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mencuci jamur hingga bersih dari tanah dan kotoran. Setelah itu, beberapa jenis jamur sebaiknya direbus singkat terlebih dahulu untuk mengurangi bau langu dan sisa getah, lalu ditiriskan sebelum dimasak lebih lanjut. Pastikan jamur dimasak hingga benar-benar matang.
Secara umum, jamur liar dapat diolah menjadi berbagai menu sederhana seperti tumisan, sup, campuran mie atau pasta, rendang jamur, hingga sate jamur. Ini tergantung tekstur dan karakter masing-masing jenis.
Beberapa contoh jamur liar yang sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan antara lain:
- Cookeina (jamur mangkuk)
Bertekstur agak kenyal dengan rasa relatif netral, cocok ditumis atau dioseng sederhana. - Termitomyces (jamur rayap)
Memiliki rasa gurih alami dan aroma khas, sangat cocok untuk tumisan, sup bening, atau campuran mie dan nasi goreng. - Trichaleurina (jamur mata kerbau)
Rasanya cenderung hambar dengan tekstur menyerupai sayuran seperti gambas, biasanya diolah menjadi tumisan atau sup. - Pleurotus (kelompok jamur tiram liar)
Teksturnya agak kaku dan berserat, sehingga cocok dijadikan sate jamur, rendang jamur, atau digoreng tepung.

Contoh Pengolahan Jamur Mata Kerbau Menjadi Makanan Lezat I Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Untuk memperkaya cita rasa, Kawan dapat menambahkan bumbu lokal seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, jahe, dan daun jeruk. Kreativitas memasak sangat terbuka, selama prinsip keamanannya tetap dijaga.
Jamur liar menyimpan potensi besar sebagai sumber pangan sekaligus objek pembelajaran keanekaragaman hayati. Namun di balik itu, terdapat pula risiko jika dikoleksi dan dikonsumsi tanpa pengetahuan yang memadai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


