ketika durian jadi gaya hidup mahasiswa kknt ipb bersama pakar pkht dampingi petani desa palasari hasilkan bibit unggul - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Durian Jadi Gaya Hidup, Mahasiswa KKNT IPB Bersama Pakar PKHT Dampingi Petani Desa Palasari Hasilkan Bibit Unggul

Ketika Durian Jadi Gaya Hidup, Mahasiswa KKNT IPB Bersama Pakar PKHT Dampingi Petani Desa Palasari Hasilkan Bibit Unggul
images info

Ketika Durian Jadi Gaya Hidup, Mahasiswa KKNT IPB Bersama Pakar PKHT Dampingi Petani Desa Palasari Hasilkan Bibit Unggul


Di tengah meningkatnya popularitas durian yang kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai buah musiman, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, sekelompok mahasiswa IPB University memilih untuk turun langsung ke desa. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), para mahasiswa ini berupaya mendampingi petani di Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mereka dalam menghasilkan bibit unggul durian yang berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi.

Fenomena durian sebagai simbol gaya hidup terlihat dari semakin maraknya festival durian, konten media sosial, hingga meningkatnya permintaan terhadap varietas unggulan dengan cita rasa khas. Kondisi ini membuka peluang besar bagi petani lokal, terutama dalam sektor pembibitan. Namun, peluang tersebut juga menghadirkan tantangan, khususnya terkait kualitas bibit dan teknik budidaya yang masih belum merata di tingkat petani desa.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKNT IPB menginisiasi kegiatan bertajuk Seminar dan Edukasi Bibit Unggul Tani (SEMAI). Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (28/1/2026) dan diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari petani kecil serta masyarakat Desa Palasari yang tertarik mengembangkan usaha pembibitan durian.

Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menjadi kesempatan langka untuk belajar secara langsung dari pakar, sekaligus berbagi pengalaman dan permasalahan nyata yang mereka hadapi di lapangan.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKNT IPB menghadirkan Kusuma Darma, S.P., M.Si., pakar dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University. Kehadiran narasumber dari kalangan akademisi ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan relevan dengan kondisi petani di desa.

Dalam pemaparannya, Kusuma Darma menyoroti perubahan cara pandang masyarakat terhadap durian.

“Durian saat ini bukan hanya soal rasa, tetapi sudah menjadi bagian dari gengsi atau lifestyle yang sedang tren di era sekarang,” ungkapnya.

Menurutnya, perubahan ini harus dibaca sebagai peluang oleh petani desa, terutama dalam sektor pembibitan. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika didukung oleh kualitas bibit yang unggul serta teknik budidaya yang tepat.

Para peserta seminar diajak memahami proses pembibitan durian secara menyeluruh. Materi dimulai dari pemilihan bahan tanam yang sehat dan berkualitas, pengelolaan media tanam yang sesuai, hingga penerapan teknik perbanyakan vegetatif seperti sambung pucuk dan okulasi. Teknik perbanyakan ini dinilai mampu menghasilkan bibit dengan sifat unggul yang seragam, lebih cepat berbuah, serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan bibit generatif.

Tidak hanya berhenti pada proses pembibitan, perawatan bibit juga menjadi perhatian utama dalam seminar ini. Kusuma Darma menekankan pentingnya pengelolaan bibit, terutama di musim hujan yang kerap menjadi tantangan bagi petani.

Pengaturan intensitas penyiraman, pemupukan yang tepat, pengelolaan naungan, hingga sistem drainase yang baik dibahas secara praktis agar bibit tetap tumbuh sehat dan terhindar dari serangan penyakit.

Suasana seminar berlangsung hangat dan interaktif. Para petani tidak segan menyampaikan berbagai kendala yang selama ini mereka hadapi, mulai dari tingkat keberhasilan sambung pucuk yang rendah, bibit yang mudah mati, hingga kesulitan dalam menjaga kualitas bibit saat cuaca tidak menentu.

Diskusi dua arah ini membuat materi yang disampaikan terasa lebih dekat dengan realitas di lapangan, sekaligus membuka ruang solusi yang dapat langsung diterapkan oleh peserta setelah kegiatan selesai.

Bagi mahasiswa KKNT IPB, kegiatan SEMAI ini bukan sekadar agenda pengabdian, melainkan juga sarana untuk membangun kepercayaan dan kolaborasi dengan masyarakat desa. Mereka menyadari bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari sejauh mana ilmu yang dibagikan dapat memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi petani.

Melalui edukasi ini, mahasiswa berharap petani Desa Palasari mampu mengembangkan usaha pembibitan durian secara lebih mandiri, profesional, dan berorientasi pada kualitas. Dengan meningkatnya kemampuan petani dalam menghasilkan bibit unggul, diharapkan nilai tambah ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat desa.

Dari Desa Palasari, cerita kecil ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan petani mampu melahirkan harapan baru. Di tangan bibit unggul dan pengetahuan yang tepat, durian tidak hanya menjadi simbol gaya hidup masyarakat modern, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju peningkatan kesejahteraan petani desa secara berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.