Parkit Australia yang akrab disebut Falk atau kakatua mini pada kenyataannya adalah burung cockatiel, dikenal secara ilmiah sebagai Nymphicus hollandicus.
Spesies ini adalah anggota unik keluarga kakatua yang hanya memiliki satu anggota genusnya sendiri, dan endemik di Australia bagian daratan yang kering dan semi-kering.
Dalam bahasa Inggris mereka disebut cockatiel atau weero, sementara di pasar hobi Indonesia populer sebagai parkit Australia karena ukuran kecilnya dan keakraban dengan burung parkit lain di komunitas penghobi burung hias.
Status konservasinya least concern menurut IUCN, artinya populasinya stabil di alam liar dan tidak terancam punah saat ini.

Falk bebas ditangkarkan. Penangkaran bisa dengan kandang koloni (Foto: Fabian S.R.)
Fisik cockatiel sangat khas; tubuhnya kecil sekitar 30–33 cm dari ujung paruh sampai ekor, dengan berat sekitar 80–110 gram.
Mereka memiliki jambul khas di kepala, wajah biasanya didominasi warna kuning dengan tompol pipi oranye yang mencolok pada variasi alamiah, dan bulu ekor panjang yang indah.
Variasi warna termasuk lutino, albino, pied, dan white face yang sering ditemukan dalam budidaya karena permintaan pasar hias.
Burung ini memiliki paruh pendek yang melengkung dan kaki kuat yang membantunya berpijak dan memanjat pada tangkringan. Paruhnya efektif untuk memecah biji-bijian dan memegang makanan.
Kaki dan cakar mereka tidak tajam seperti predator, karena cockatiel adalah herbivora yang makan biji-bijian, buah, dan sayuran baik di alam maupun di penangkaran.
Di alam bebas, mereka sering terlihat di padang rumput atau dekat sumber air untuk mencari biji tanaman lokal dan rumput liar.
Dalam perbandingan dengan kakatua yang lebih besar, cockatiel lebih kecil, suara lebih lembut, dan perilaku sosial lebih mudah dikelola oleh pemula. Karakter inilah yang membuatnya populer sebagai burung piaraan setelah budgerigar (parkit).
Banyak penghobi menggambarkan cockatiel sebagai burung jinak dan mudah dilatih untuk melakukan free flight, yaitu terbang bebas kembali ke pemilik, jika dilatih sejak dini dan diberi interaksi rutin.
Nilai Rekreasi
Parkit Australia atau Falk membawa nilai rekreasi yang tinggi bagi pecinta burung karena kombinasi antara keindahan visual, interaksi sosial, dan keunikan perilaku mereka.
Penampilan mereka yang cerah dan tingkah lucu, dari jambul yang dapat dinaik-turunkan sampai gestur bermain dengan pemiliknya, menjadi tontonan yang menyenangkan baik di dalam rumah maupun dalam komunitas penggemar burung.
Burung ini mampu beradaptasi dengan baik terhadap manusia jika dipelihara sejak anakan, sehingga hubungan pemilik–hewan menjadi bagian dari pengalaman rekreasi yang memuaskan.

Falk mudah jinak dan bisa diajak bermain (Foto: Fabian S.R.)
Kemampuan cockatiel untuk berkicau, bersiul, dan kadang menirukan suara juga menambah dimensi hiburan yang tidak dimiliki oleh semua burung kecil lain.
Meskipun tingkat vokalisasi berbeda antara individu, jenis jantan umumnya lebih vokal dan bisa mempelajari pola suara tertentu. Interaksi ini menciptakan suasana santai dan menyenangkan di rumah atau sekolah yang memeliharanya.
Rekreasi bersama Falk juga muncul dalam komunitas penghobi burung hias melalui free flight event, kompetisi keseluruhan hobi, dan pertemuan klub burung untuk berbagi pengalaman perawatan, pelatihan, bahkan kontes warna bulu atau kicauan.
Bahkan bagi pelajar, pengamatan perilaku burung ini menjadi kegiatan edukatif yang menyenangkan pada kegiatan ekstrakurikuler alam atau klub biologi.
Nilai Konservasi dan Edukasi
Dari sisi konservasi satwa, cockatiel menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk memahami keanekaragaman hayati Australia dan pentingnya habitat alami bagi burung-burung pemakan biji.
Sebagai spesies least concern, mereka tidak terancam punah, tetapi tetap mengalami tekanan dari perubahan habitat dan perdagangan ilegal jika pengambilannya dari alam liar tidak terkendali.

Penangkaran falk bisa dalam kandang soliter (Foto: Fabian S.R.)
Pendidikan tentang pelestarian habitat tropis dan penjagaan satwa liar menjadi lebih nyata bagi pelajar bila mereka melihat langsung bagaimana sekelompok burung yang jinak ini membutuhkan ruang, nutrisi, dan kondisi lingkungan tertentu untuk berkembang.
Pengalaman merawat burung dalam penangkaran juga dapat memperluas wawasan pelajar terhadap konsep ekologi, siklus hidup, dan hubungan manusia dengan satwa. Misalnya, mengetahui bahwa cockatiel membentuk ikatan monogami dan pasangan berbagi tugas inkubasi telur hingga anak mencapai usia 4–5 minggu sebelum mandiri, mengajarkan nilai kerja sama dalam alam.
Pendidikan konservasi yang berbasis pengalaman ini membentuk respons yang lebih bertanggung jawab terhadap satwa di habitatnya, serta memupuk kepedulian generasi muda terhadap isu-isu seperti perubahan iklim, deforestasi, dan pemanfaatan satwa secara etis.
Nilai Monetasi
Dari sisi monetasi, budidaya Falk memberikan peluang ekonomi nyata terutama bagi pelajar dan penghobi burung yang ingin mengembangkan keterampilan beternak.
Harga Falk bisa cukup menarik, dengan anakan yang sudah jinak di pasaran Indonesia dijual mulai dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah untuk variasi langka atau burung dewasa yang sudah terlatih.
Budidaya burung ini relatif sederhana dibandingkan banyak spesies paruh bengkok besar, karena cockatiel tidak membutuhkan peralatan yang kompleks untuk sarang dan pertumbuhannya cepat.
Proses perkawinan, pengeluaran telur putih, sampai menetasnya membutuhkan sekitar tiga minggu, sedangkan anak burung sudah bisa mandiri dalam beberapa minggu setelah itu.
Kesempatan menghasilkan beberapa generasi dalam setahun membuka ruang monetisasi lewat penjualan burung anakan, konsultasi perawatan, hingga penyediaan pakan dan perlengkapan kandang.
Bagi pelajar yang ingin memulai usaha kecil, budidaya cockatiel dapat mengajarkan manajemen usaha, tanggung jawab perawatan satwa, serta ilmu pasar seperti nilai jual, jenis permintaan warna atau mutasi, dan strategi pemasaran sederhana. Ini menjadi pendidikan kewirausahaan langsung yang relevan dan produktif.
Falk atau cockatiel bukan sekadar burung hias. Ia adalah medium yang menggabungkan rekreasi penuh warna, pendidikan konservasi tentang alam dan satwa, serta peluang monetisasi nyata untuk siapa saja yang siap belajar.
Nilai-nilai tersebut membuat burung ini lebih dari sekadar peliharaan; ia menjadi bagian dari pengalaman hidup dan pembelajaran yang besar bagi generasi muda.
Catatan: Penulis merupakan penangkar beberapa jenis burung, termasuk falk
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


