Di antara kanopi hutan Indonesia timur, seekor burung dengan jambul kuning cerah kerap mencuri perhatian. Saat terbang berkelompok atau bertengger di pucuk pohon tinggi, kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) menghadirkan kontras visual yang kuat sekaligus ironi ekologis. Cantik, cerdas, sosial tetapi kini berada di ambang kepunahan.
Kakatua kecil jambul kuning merupakan salah satu burung endemik kawasan Wallacea yang paling tertekan populasinya. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan spesies ini dalam status Kritis (Critically Endangered) akibat kombinasi hilangnya habitat dan perburuan untuk perdagangan satwa liar (IUCN, 2024).
Di Indonesia, burung ini bahkan telah lama menjadi simbol paradoks konservasi: dikenal luas, tetapi terus menghilang secara perlahan.
Ciri Fisik, Jambul Kuning yang Sarat Makna
Secara morfologis, kakatua kecil jambul kuning memiliki panjang tubuh sekitar 35 sentimeter. Hampir seluruh bulunya berwarna putih, dengan jambul berwarna kuning cerah di kepala yang dapat ditegakkan.
Jambul ini bukan sekadar ornamen, melainkan alat komunikasi visual. Saat waspada, terancam, atau bersemangat, jambul akan ditegakkan penuh, menandakan kondisi emosional burung tersebut.

Paruhnya berwarna hitam, kuat, dan melengkung ciri khas burung paruh bengkok. Kulit di sekitar mata berwarna kebiruan, sementara kakinya abu-abu dengan tipe zygodactyl, yakni dua jari menghadap ke depan dan dua ke belakang. Struktur ini memungkinkan kakatua memanjat, menggenggam ranting, serta memegang makanan dengan presisi tinggi (Wikipedia Indonesia, 2024).
Secara kasat mata, burung jantan dan betina tampak serupa. Namun, betina memiliki paruh yang sedikit lebih pendek dan iris mata yang cenderung kemerahan.
Pada individu remaja, mata berwarna cokelat keabu-abuan dengan paruh dan kaki lebih pucat indikator usia yang penting dalam kajian populasi.
Perilaku Sosial dan Kecerdasan
Kakatua kecil jambul kuning dikenal sebagai burung yang sangat sosial. Di alam liar, mereka hidup berkelompok dan jarang ditemukan sendirian.
Komunikasi dilakukan melalui suara keras, melengking, dan berulang sering kali terdengar dari jarak jauh. Suara ini berfungsi sebagai penanda keberadaan, peringatan bahaya, hingga pengikat kohesi kawanan.
Lebih dari itu, kakatua termasuk kelompok burung dengan kecerdasan tinggi. Mereka gemar bermain, menggigit ranting, memanipulasi objek, dan menunjukkan rasa ingin tahu kuat terhadap lingkungan sekitarnya. Kemampuan meniru suara manusia membuat mereka populer sebagai hewan peliharaan, tetapi justru menjadi salah satu faktor utama eksploitasi berlebihan (BirdLife International, 2023).

Penelitian perilaku burung menunjukkan bahwa aktivitas bermain dan eksplorasi pada kakatua berkorelasi dengan perkembangan kognitif dan kemampuan pemecahan masalah.
Dalam konteks ekologis, kecerdasan ini membantu mereka beradaptasi, tetapi tidak cukup cepat untuk mengimbangi laju kerusakan habitat.
Pola Makan Kakatua Kecil Jambul Kuning: Omnivora yang Adaptif
Kakatua kecil jambul kuning bersifat omnivora. Pakan utamanya meliputi biji-bijian, kacang-kacangan, dan berbagai buah tropis seperti mangga dan pepaya. Di alam, mereka juga memakan serangga kecil dan larva yang ditemukan di kulit pohon atau dedaunan.
Kemampuan diet yang fleksibel memungkinkan mereka bertahan di berbagai tipe habitat. Namun, fleksibilitas ini juga menimbulkan konflik. Di sejumlah wilayah pertanian, kakatua dianggap hama karena kerap memakan jagung atau tanaman pangan lain. Stigma ini sering berujung pada pengusiran atau penangkapan, memperburuk tekanan populasi (Burung Indonesia, 2023).
Padahal secara ekologis, kakatua berperan sebagai penyebar biji dan membantu regenerasi hutan. Hilangnya mereka berarti hilangnya satu simpul penting dalam jejaring ekosistem.
Reproduksi: Lambat dan Rentan
Dalam siklus hidupnya, kakatua kecil jambul kuning berkembang biak pada musim panas, umumnya antara Agustus hingga Januari.
Mereka bersarang di lubang pohon besar—biasanya pohon tua yang sudah berongga. Ketergantungan pada pohon tua inilah yang membuat spesies ini sangat rentan terhadap penebangan hutan.
Betinanya akan bertelur dua hingga tiga butir. Proses pengeraman berlangsung sekitar 25–30 hari dan dilakukan oleh kedua induk secara bergantian. Setelah menetas, anak burung diasuh bersama hingga cukup kuat untuk terbang dan mandiri.

Pola reproduksi dengan investasi pengasuhan tinggi ini berdampak pada lambatnya pemulihan populasi. Sekali populasi turun drastis, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali stabil—jika ancaman berhasil ditekan.
Persebaran dan Habitat
Di Indonesia, kakatua kecil jambul kuning tersebar di Bali, Sulawesi, Kepulauan Sunda Kecil, hingga Timor. Mereka menghuni hutan primer dan sekunder, savana berpohon, daerah pesisir, serta kadang memasuki kawasan kebun dan pemukiman.
Secara global, sebarannya sangat terbatas dan terfragmentasi. Banyak subpopulasi terisolasi di pulau-pulau kecil, membuat mereka rentan terhadap bencana alam, penyakit, dan tekanan manusia. Fragmentasi habitat ini menjadi salah satu faktor utama status kritis spesies ini (IUCN, 2024).
Status Konservasi: Kritis dan Mendesak
Saat ini, Cacatua sulphurea terdaftar dalam Appendix I CITES, yang berarti perdagangan internasionalnya dilarang kecuali untuk tujuan konservasi. Sayangnya, praktik ilegal masih terjadi, terutama untuk memenuhi permintaan pasar burung peliharaan eksotis.
Hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan, penebangan pohon sarang, serta perburuan liar telah menyebabkan penurunan populasi drastis di banyak lokasi. BirdLife International mencatat bahwa beberapa subspesies bahkan berada di ambang kepunahan lokal (BirdLife International, 2023).
Nilai Ekologis dan Budaya
Secara ekologis, kakatua kecil jambul kuning berperan sebagai penyebar biji dan penjaga dinamika hutan tropis. Kehadirannya menjadi indikator kesehatan ekosistem. Secara budaya, di beberapa daerah, kakatua dihormati sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan, meski di tempat lain justru diselimuti mitos negatif.
Konservasi spesies ini bukan semata soal menyelamatkan satu jenis burung, melainkan menjaga keseimbangan relasi antara manusia dan alam. Tanpa perubahan paradigma dari eksploitasi menuju koeksistensi jambul kuning itu bisa lenyap dari langit Indonesia, tinggal cerita di buku pelajaran.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


