Jika Kalimat Majemuk Setara adalah tentang kesejajaran, maka Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB) adalah tentang hierarki. Dalam jenis kalimat ini, satu ide menjadi inti, sementara ide lainnya berfungsi sebagai pendukung atau penjelas.
Memahami kalimat majemuk bertingkat adalah kunci untuk menulis opini, esai, dan karya ilmiah yang memiliki kedalaman logika.
Apa Itu Kalimat Majemuk Bertingkat?
Kalimat Majemuk Bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih yang kedudukannya tidak sederajat. Di dalam strukturnya terdapat 2 bagian utama, yaitu induk kalimat dan anak kalimat.
Induk Kalimat (Klausa Utama): Bagian kalimat yang sudah memiliki makna utuh dan bisa berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal.
Anak Kalimat (Klausa Subordinatif): Bagian kalimat yang perluasannya bergantung pada induk kalimat. Jika anak kalimat dipisahkan, maknanya akan menggantung atau tidak lengkap.
Cara Mengidentifikasi Induk dan Anak Kalimat pada Kalimat Majemuk Bertingkat
Cara termudah untuk membedakan antara induk dan anak kalimat dalam sebuah kalimat majemuk adalah dengan melihat letak Konjungsi Subordinatif (kata hubung).
Bagian yang diikuti oleh konjungsi adalah Anak Kalimat.
Bagian yang tidak memiliki konjungsi di depannya adalah Induk Kalimat.
Contoh:
"Saya tetap berangkat (Induk) meskipun hari hujan (Anak)."
"Karena hari hujan (Anak), saya tetap berangkat (Induk)."
10 Jenis Kalimat Majemuk Bertingkat
Hubungan antara induk dan anak kalimat sangat bervariasi tergantung pada maksud dari penulisnya:
1. Hubungan Waktu (Temporal)
Menjelaskan kapan peristiwa terjadi.
Konjungsi:ketika, sewaktu, sesudah, sebelum, sejak, hingga.
Contoh: "Ayah pulang ketika matahari mulai terbenam."
2. Hubungan Syarat (Kondisional)
Menjelaskan kondisi yang harus dipenuhi agar induk kalimat terjadi.
Konjungsi:jika, kalau, asalkan, apabila.
Contoh: "Kamu akan sukses jika bekerja keras."
3. Hubungan Tujuan (Final)
Menyatakan maksud atau tujuan dari suatu tindakan.
Konjungsi:agar, supaya, demi.
Contoh: "Pemerintah membangun waduk agar petani tidak kekeringan."
4. Hubungan Sebab (Kausal)
Menjelaskan alasan terjadinya peristiwa di induk kalimat.
Konjungsi:karena, sebab, oleh karena.
Contoh: "Ia tidak masuk kantor karena anaknya sakit."
5. Hubungan Akibat (Konsekutif)
Menjelaskan hasil dari suatu peristiwa.
Konjungsi:sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh: "Hujan turun sangat deras sehingga jalanan banjir."
6. Hubungan Perlawanan (Konsesif)
Menyatakan kondisi yang berlawanan dengan harapan di induk kalimat.
Konjungsi:walaupun, meskipun, biarpun.
Contoh: "Ia tetap tersenyum meskipun hatinya sedang terluka."
7. Hubungan Perbandingan (Komparatif)
Membandingkan dua hal yang berbeda namun berkaitan.
Konjungsi:ibarat, daripada, seperti, bagaikan.
Contoh: "Wajahnya sangat mirip bagaikan pinang dibelah dua."
8. Hubungan Cara (Modalitas)
Menjelaskan cara suatu perbuatan dilakukan.
Konjungsi:dengan, tanpa.
Contoh: "Ia mengerjakan tugas itu dengan menggunakan komputer baru."
9. Hubungan Atribut (Penjelas)
Memberikan keterangan tambahan pada subjek atau objek.
Konjungsi:yang.
Contoh: "Buku yang dipinjamkan kakak kemarin sudah saya baca."
10. Hubungan Sasaran/Hasil
Biasanya menggunakan konjungsi bahwa untuk menjelaskan isi atau pesan.
Contoh: "Ibu mengatakan bahwa kami harus pulang sebelum malam."
Aturan Penulisan: Letak Anak Kalimat
Anak Kalimat di Belakang: Tidak perlu menggunakan tanda koma.
Saya belajar karena ada ujian.
Anak Kalimat di Depan (Anak Kalimat Mendahului Induk): Wajib menggunakan tanda koma sebagai jeda.
Karena ada ujian, saya belajar.
Pentingnya Kalimat Majemuk Bertingkat dalam Penulisan Strategis
Kalimat majemuk bertingkat memungkinkan Kawan memberikan alasan (karena), syarat (jika), dan konteks (meskipun) yang membuat argumen Kawan lebih kuat di mata pembaca dan mesin pencari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


