Dalam tata bahasa Indonesia, kemampuan menyusun ide yang kompleks memerlukan pemahaman tentang kalimat majemuk. Berbeda dengan kalimat tunggal yang hanya menyampaikan satu informasi, kalimat majemuk memungkinkan kita menghubungkan dua pemikiran atau lebih secara logis dan kohesif.
Artikel ini akan mengupas tuntas struktur kalimat majemuk untuk membantu Kawan memahami cara kerja sintaksis bahasa Indonesia secara mendalam.
Apa Itu Kalimat Majemuk?
Secara semantik, kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki dua pola kalimat (klausa) atau lebih. Sebuah kalimat dikatakan majemuk jika ia memiliki lebih dari satu subjek (S) dan predikat (P) sebagai hasil dari penggabungan beberapa kalimat tunggal atau perluasan salah satu unsurnya.
Ciri-Ciri Utama Kalimat Majemuk (Bedah Mendalam)
Untuk memahami kalimat majemuk secara presisi, Kawan perlu memperhatikan empat karakteristik kunci yang membedakannya dari kalimat tunggal:
1. Memiliki Lebih dari Satu Verba Utama atau Predikat
Setiap satu predikat secara semantik mewakili satu peristiwa atau keadaan. Karena kalimat majemuk menyampaikan lebih dari satu gagasan, maka ia membutuhkan lebih dari satu predikat.
Contoh: "Adik makan ketika Ayah datang." (Terdapat dua aktivitas: makan dan datang). Jika hanya ada satu aktivitas, maka kalimat tersebut tetaplah kalimat tunggal.
2. Terbentuk dari Perluasan atau Penggabungan Klausa
Karakteristik ini menjelaskan asal-usul terbentuknya struktur kompleks melalui dua metode:
- Penggabungan (Koordinatif): Menggabungkan dua kalimat mandiri. Contoh: Budi belajar + Iwan bermain=Budi belajar, sedangkan Iwan bermain.
- Perluasan (Subordinatif): Mengubah salah satu unsur (seperti objek atau keterangan) menjadi klausa baru. Contoh: "Saya membaca buku itu" diperluas menjadi "Saya membaca buku yang dipinjamkan oleh paman." Di sini, objek diperluas hingga memiliki predikatnya sendiri (dipinjamkan).
3. Menggunakan Konjungsi sebagai "Jembatan Logika"
Konjungsi bukan sekadar kata sambung, melainkan penentu hubungan makna antar-ide. Tanpa konjungsi yang tepat, hubungan antar-klausa bisa menjadi ambigu.
Analisis: Bandingkan "Hujan turun, jemuran basah" (ambigu) dengan "Hujan turun sehingga jemuran basah" (menegaskan hubungan konsekuensi). Konjungsi seperti dan, tetapi, karena, meskipun berfungsi sebagai jembatan yang mengarahkan pemahaman pembaca.
4. Memiliki Intonasi Akhir yang Berbeda
Dalam bahasa lisan, kalimat majemuk memiliki pola lagu kalimat yang unik:
- Intonasi Non-Final: Saat mengucapkan klausa pertama (sebelum konjungsi), nada suara biasanya cenderung naik atau menggantung. Ini memberi sinyal bahwa informasi belum selesai.
- Intonasi Final: Nada turun hanya diberikan pada akhir klausa kedua untuk menutup seluruh rangkaian pemikiran. Dalam tulisan, jeda ini sering kali diwakili oleh penggunaan tanda koma (
,).
Jenis-Jenis Kalimat Majemuk
Dalam linguistik Indonesia, kalimat majemuk diklasifikasikan berdasarkan sifat hubungan antara klausa-klausa pembentuknya.
1. Kalimat Majemuk Setara (KMS)
KMS terbentuk dari klausa-klausa yang kedudukannya sederajat. Jika klausa tersebut dipisahkan, masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal.
Setara Penjumlahan (Aditif): Menggunakan konjungsi dan, serta.
Contoh: Ayah membaca koran dan Ibu memasak di dapur.
Setara Pertentangan (Adversatif): Menggunakan konjungsi tetapi, melainkan, sedangkan.
Contoh: Ia sangat pintar, tetapi kurang teliti.
Setara Pemilihan (Alternatif): Menggunakan konjungsi atau.
Contoh: Kamu ingin berangkat sekarang atau menunggu hujan reda?
2. Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB)
KMB memiliki hubungan yang tidak sederajat. Terdiri dari Induk Kalimat (klausa utama yang bisa berdiri sendiri) dan Anak Kalimat (klausa yang bergantung pada induk kalimat).
KMB Hubungan Sebab:Ia tidak sekolah karena sedang sakit.
KMB Hubungan Syarat:Saya akan datang jika diundang.
KMB Hubungan Konsesif (Perlawanan):Budi tetap berangkat meskipun badai sedang mengamuk.
3. Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat ini merupakan kalimat majemuk yang bagian-bagiannya dirapatkan karena memiliki subjek, predikat, atau objek yang sama.
Contoh: Ani menyanyi. Ani menari. → Ani menyanyi dan menari. (Subjek dirapatkan).
4. Kalimat Majemuk Campuran
Jenis ini merupakan kombinasi antara kalimat majemuk setara dan bertingkat. Setidaknya terdiri dari minimal tiga klausa.
Contoh: Ayah pulang ketika Ibu sedang tidur dan adik sedang belajar.
Tabel Perbedaan: Setara vs Bertingkat
| Aspek Perbedaan | Kalimat Majemuk Setara | Kalimat Majemuk Bertingkat |
| Kedudukan Klausa | Sederajat / Independen | Tidak sederajat (Induk & Anak) |
| Konjungsi Utama | dan, atau, tetapi | jika, karena, meskipun, ketika |
| Kemandirian | Semua klausa bisa berdiri sendiri | Anak kalimat tidak bisa berdiri sendiri |
Peran Konjungsi dalam Membentuk Makna
Pemilihan kata hubung sangat menentukan intent atau maksud pesan Kawan. Secara semantik:
"Karena" menunjukkan hubungan kausalitas (sebab-akibat).
"Tetapi" menunjukkan anomali atau kontradiksi.
"Sehingga" menunjukkan konsekuensi logis.
Memahami kalimat majemuk membantu kita mengorganisir pikiran agar lebih runtut. Dengan menguasai struktur dan konjungsi yang tepat, tulisan Kawan akan terasa lebih profesional, logis, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


