Di tengah padatnya Kota Cimahi, ada sebuah taman yang diam-diam menyimpan cerita panjang. Namanya Taman Kartini. Letaknya strategis di Jalan Baros. Banyak orang melewatinya tanpa sadar sejarah yang dikandungnya.
Padahal, taman ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Sejumlah catatan sejarah tata kota menyebutkan, taman ini dibangun pada akhir abad ke-19, ketika Cimahi sedang disiapkan sebagai kota militer penting di kawasan Priangan.
Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menulis, kawasan Cimahi memang dirancang sebagai pusat militer sejak masa Hindia Belanda. Taman ini bukan sekadar ruang hijau. Ia menjadi bagian dari rancangan kota kolonial yang tertata rapi dan fungsional.
Pada awal berdirinya, taman ini bernama Taman Wilhelmina. Nama tersebut diambil dari Ratu Wilhelmina, penguasa Belanda yang sangat dihormati pada masanya. Di banyak kota koloni, nama Wilhelmina kerap dipakai untuk taman dan bangunan publik sebagai simbol kekuasaan. Taman Wilhelmina di Cimahi pun demikian.
Ia hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Tentara, pejabat kolonial, dan keluarga Eropa menjadi pengunjung utama. Warga pribumi lebih sering memandang dari luar pagar. Tim Good News From Indonesia dalam buku Ruang Publik Bersejarah di Kota-Kota Indonesia mencatat, taman-taman kolonial memang berfungsi sebagai etalase kekuasaan dan keteraturan ala Eropa.
Selain Wilhelmina, nama Juliana juga pernah melekat dalam ingatan warga lama Cimahi. Juliana adalah penerus tahta Belanda. Kedua nama ini hidup berdampingan dalam memori sejarah taman. Pada masa itu, taman ini sangat luas dan menyatu dengan kawasan Rumah Sakit Militer Dustira.
Rumah sakit tersebut dibangun sekitar tahun 1887 untuk kepentingan ketentaraan. Foto-foto lama yang diambil saat peringatan 30 tahun Rumah Sakit Militer pada 1927 menunjukkan betapa indahnya kawasan ini. Taman hijau, kolam air mancur, dan jalur pejalan kaki menjadi ruang jeda bagi tentara yang lelah oleh disiplin militer.
Seiring berjalannya waktu, arah sejarah pun berubah. Indonesia merdeka. Nama-nama kolonial mulai ditanggalkan. Taman Wilhelmina perlahan berganti identitas. Namanya diubah menjadi Taman R.A. Kartini. Pergantian ini bukan sekadar simbolik. Kartini dipilih sebagai representasi semangat baru bangsa.
Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan dan emansipasi perempuan. Nama Kartini terasa lebih dekat dengan nilai keindonesiaan. Sejak saat itu, taman mulai terbuka bagi masyarakat luas. Dari ruang eksklusif menjadi ruang publik yang inklusif.
Perubahan identitas taman ditandai dengan pembangunan Tugu Kartini. Tugu ini dibuat menyerupai sosok R.A. Kartini dan ditempatkan di area strategis taman. Warnanya emas dan perak, mencolok namun bermakna. Tugu tersebut dibangun untuk mengenang jasa Kartini dalam memperjuangkan pendidikan perempuan dan anak-anak.
Menariknya, tugu ini berdiri tak jauh dari meriam militer peninggalan Armed. Sebuah kontras yang kuat antara perjuangan fisik dan perjuangan pemikiran. Hingga kini, tugu dan taman dirawat oleh Persit Armed bersama dinas terkait.
Namun, kejayaan taman tidak selalu terjaga. Memasuki era 1990-an hingga awal 2000-an, kondisi taman mulai menurun. Perawatan minim. Lampu redup. Pepohonan tumbuh terlalu rimbun. Pohon beringin besar di sisi utara menciptakan suasana gelap dan sunyi.
Banyak warga mengingat taman ini sebagai tempat yang angker. Cerita-cerita mistis pun beredar dari mulut ke mulut. Anak-anak jalanan kerap berkumpul di sana. Perlahan, taman dijauhi warga, terutama saat sore dan malam hari.
Perubahan mulai terasa kembali pada 2019. Pemerintah Kota Cimahi melakukan revitalisasi ruang terbuka hijau. Lampu-lampu taman dipasang mengelilingi area. Bangku diperbaiki. Area bermain anak ditambah. Suasana taman berubah total. Kesan seram perlahan menghilang.
Malam hari justru menjadi waktu favorit warga. Dalam laporan detikJabar berjudul “Taman Kartini Cimahi Kini Ramai dan Lebih Ramah Keluarga” yang terbit pada 15 November 2023, sejumlah warga mengaku taman ini kini terasa lebih hangat dan nyaman untuk dikunjungi bersama keluarga.
Kini, Taman Kartini menjadi ruang rekreasi favorit warga Cimahi. Beragam wahana anak tersedia dengan harga terjangkau. Ada prosotan, jungkit, mobil mainan, hingga pancingan mini. Remaja pun memiliki ruang berekspresi melalui Kartini Skate Park.
Setiap sore, aksi skateboard menjadi hiburan tersendiri. Di sisi lain, tenant makanan berjajar rapi. Dari jagung bakar hingga ramen, semuanya menambah daya tarik taman. Tanpa tiket masuk, taman ini menjadi ruang nongkrong lintas generasi.
Meski wajahnya berubah, jejak masa lalu tetap terasa. Kolam air mancur di tengah taman kini tidak lagi berfungsi. Airnya mengering. Beberapa sudut masih menunggu sentuhan perbaikan. Namun, hal itu tidak mengurangi antusiasme pengunjung.
Anak-anak tetap bermain. Orang dewasa duduk berbincang. Pohon beringin tua masih berdiri tegak, menjadi saksi bisu perjalanan taman dari masa kolonial hingga kini.
Secara lokasi, Taman Kartini berada di titik strategis. Alamatnya di Jalan Baros Nomor 06, Kelurahan Baros, Cimahi Tengah. Taman ini diapit Jalan Dustira dan kawasan Pussen Armed. Tak jauh dari sekolah, gereja, dan perumahan militer.
Dengan luas sekitar 6.500 meter persegi dan berada di ketinggian 740 meter di atas permukaan laut, taman ini mudah dijangkau dari berbagai arah. Banyak pendatang menjadikannya tempat singgah setelah keluar dari Tol Baros.
Hari ini, Taman Kartini bukan hanya ruang hijau. Ia menjadi ruang belajar sosial. Anak-anak belajar bermain bersama. Remaja menyalurkan energi. Orang dewasa menemukan jeda. Di tengah keterbatasan lahan kota, taman ini menjadi alternatif liburan murah dan sehat.
Warga berharap revitalisasi terus berlanjut. Kolam air mancur ingin dihidupkan kembali. Fasilitas ingin dilengkapi. Namun, satu hal sudah jelas. Taman ini kembali bermakna.
Taman Kartini Cimahi adalah potongan sejarah yang masih bernapas. Ia menyimpan cerita kolonial, kemerdekaan, hingga kehidupan urban hari ini. Dari Wilhelmina ke Kartini. Dari eksklusif ke inklusif. Dari angker ke hangat.
Taman ini mengingatkan kita bahwa ruang publik bisa berubah, selama ada kepedulian. Di tengah hiruk-pikuk kota, Taman Kartini tetap menjadi oase. Tempat orang-orang bertemu, beristirahat, dan berbagi cerita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


