indonesia emas 2045 utopis atau realistis - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Emas 2045: Utopis atau Realistis?

Indonesia Emas 2045: Utopis atau Realistis?
images info

Indonesia Emas 2045: Utopis atau Realistis?


Gagasan mengenai "Indonesia Emas 2045" kini telah menjelma menjadi sebuah mantra nasional.

Mengutip dari laman resmi Kemendikdasmen, visi ini bukanlah mengenai agenda politik, tetapi tentang Indonesia menjadi negara maju, adil, dan sejahtera tepat di satu abad kemerdekaannya.

Cita-cita ini, menggambarkan Indonesia dengan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan ekonomi yang kokoh di kancah global, yang tentu saja memicu optimisme besar di tengah masyarakat.

Namun, di balik semaraknya harapan tersebut, muncul pertanyaan tentang apakah visi ini benar-benar berpijak pada realitas yang ada atau sekadar menjadi utopia indah yang sulit untuk direalisasikan?

baca juga

Berkaca pada Karakter Manusia Indonesia

Untuk menakar realistisnya impian ini, kita perlu melakukan introspeksi mendalam terhadap karakter bangsa dengan merujuk pada analisis Mochtar Lubis dalam karyanya, "Manusia Indonesia".

Meskipun ditulis berpuluh tahun lalu, pengamatan Mochtar Lubis mengenai sifat-sifat manusia Indonesia masih relevan dan berfungsi sebagai cermin untuk melihat diri kita saat ini.

Salah satu ciri yang disoroti adalah kecenderungan pada takhayul yang kini bermetamorfosis di era digital menjadi lemahnya nalar kritis terhadap informasi hoaks.

Di tengah fenomena post-truth, masyarakat sering kali lebih digerakkan oleh sentimen dan opini yang sesuai dengan keyakinan pribadi daripada fakta objektif, yang terlihat jelas dalam polarisasi akibat buzzer yang berseliweran di sosial media.

Kelemahan nalar kritis ini menjadi hambatan serius dalam membangun masyarakat berbasis pengetahuan yang menjadi pilar utama kemajuan bangsa.

Mochtar Lubis jug mengkritik seperti keengganan bertanggung jawab dan jiwa feodal yang masih mengakar juga menjadi tembok besar yang menghadang.

Sifat "mencari kambing hitam" atas sebuah kegagalan menghambat terciptanya sistem yang akuntabel, sementara budaya "asal bapak senang" (ABS) serta nepotisme di birokrasi dan politik terus menghambat lahirnya meritokrasi dan inovasi bagi kemajuan bangsa.

Jika karakteristik negatif ini tetap dominan, maka cita-cita agung menuju 2045 akan semakin sulit untuk dicapai.

baca juga

Duri dalam Daging: Tantangan Struktural dan Kultural

Meskipun demikian, jalan menuju 2045 tidak akan pernah menjadi karpet merah yang mulus. Tantangan-tantangan struktural dan kultural yang mengakar kuat menghadang di setiap tikungan.

Korupsi tetap menjadi musuh utama bangsa. Ia bukan sekadar soal kerugian finansial negara, tetapi telah menjadi kanker stadium akhir yang terus menggerogoti sendi-sendi kepercayaan publik, merusak iklim investasi, menciptakan ekonomi biaya tinggi, dan melanggengkan ketidakadilan.

Pelemahan lembaga anti-korupsi dan vonis ringan bagi koruptor mengirimkan sinyal yang salah kepada masyarakat, seolah-olah korupsi adalah kejahatan biasa dan bisa ditoleransi kesalahannya.

Kualitas pendidikan yang belum merata adalah pekerjaan rumah terbesar. Masih terdapat kesenjangan kualitas di antara sekolah di kota besar dengan di daerah terpencil dan tertinggal.

Kurikulum yang terkadang belum sesuai dengan kebutuhan di masa kini, menghasilkan lulusan yang sulit beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kesejahteraan dan kompetensi guru juga menjadi isu krusial yang harus dituntaskan jika ingin melahirkan SDM unggul.

Pembangunan yang terlalu Jawa-sentris di masa lalu menyisakan ketertinggalan di banyak daerah lain. Ketimpangan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber kecemburuan sosial dan disintegrasi bangsa.

Sifat-sifat yang dikritik Mochtar Lubis, seperti mental menerabas (mencari jalan pintas), kurangnya disiplin, dan sikap hipokrit (munafik) di mana ucapan dan perbuatan seringkali tidak sejalan, jika tidak diatasi secara kolektif, akan terus menjadi batu sandungan yang membuat kita terjatuh berulang kali dan akhirnya menjadi duri dalam daging.

Pembangunan fisik mungkin bisa dikebut, tetapi membangun karakter bangsa yang kuat, berintegritas, dan berdaya saing membutuhkan waktu, kesabaran, dan upaya yang jauh lebih lama.

Jadi, apakah Indonesia Emas 2045 itu utopis atau realistis? Jawabannya tidak berada pada salah satu kutub, melainkan terletak pada sebuah kemungkinan yang sangat bergantung pada tindakan kita hari ini. Visi tersebut bisa menjadi realistis, tetapi dengan syarat-syarat yang bisa dilakukan untuk mencapainya.

Pertama, harus ada revolusi mental yang sesungguhnya, bukan sekadar slogan. Harus ada kesadaran kolektif untuk secara sadar mengikis sifat-sifat negatif yang diidentifikasi Mochtar Lubis tadi dan yang masih kita saksikan hingga kini.

Hal ini dimulai dari pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan sekolah, keteladanan yang baik dari para pemimpin di semua tingkatan, serta penegakan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu untuk menciptakan efek jera.

Kedua, diperlukan konsistensi dan keberanian politik dalam menjalankan kebijakan pembangunan yang berorientasi jangka panjang, pro-rakyat, dan berkelanjutan.

Fokus pada peningkatan kualitas SDM, pemberantasan korupsi secara menyeluruh hingga ke akarnya, dan penciptaan iklim usaha yang adil dan kompetitif adalah kunci yang tidak bisa diganggu gugat oleh kepentingan politik jangka pendek.

Ketiga, harus ada partisipasi aktif seluruh elemen bangsa. Pemerintah tidak bisa dan tidak akan pernah bisa bekerja sendiri.

Berbagai sektor harus memiliki andil dalam terbentuknya masyarakat yang lebih baik. Para akademisi, organisasi masyarakat sipil, media, dan yang terpenting, setiap individu warga negara, memiliki peran vital untuk berkontribusi sesuai kapasitasnya masing-masing, baik melalui inovasi, kritik yang membangun, maupun sekadar menjadi warga negara yang taat hukum dan bertanggung jawab.

baca juga

Pada akhirnya, pertanyaan apakah Indonesia Emas 2045 itu utopis atau realistis tidak bisa dijawab dengan sederhana, karena jawabannya sangat bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.

Visi ini akan menjadi realistis jika dibarengi dengan syarat berupa revolusi mental untuk mengikis sifat negatif bangsa, konsistensi politik dalam kebijakan jangka panjang yang pro-rakyat, serta partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Pilihan ada di tangan kita: menjadi saksi sejarah sambii mengamati ke mana arah bangsa ini, atau menjadi pelaku sejarah yang mengukir takdir emas bangsa ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya.

MS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.