Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menekankan urgensi pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) guna melindungi kontribusi ekonomi wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa yang mencapai sekitar 368,3 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, menyatakan bahwa kawasan tersebut tidak hanya dihuni 17–20 juta jiwa, tetapi juga menyimpan aset nasional bernilai besar. “Banyak sekali di Pantura Jawa ini yang perlu dilindungi. Bukan hanya penduduk, tapi aset-aset nasional yang ada di Pantura Jawa ini lebih kurang sekitar 368,3 miliar dolar AS,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta.
Ia menjelaskan, ancaman penurunan muka tanah dan banjir rob akibat kenaikan permukaan laut berpotensi menimbulkan kerugian pada instansi pemerintah, kawasan industri, jalur kereta api, rumah sakit, hingga kawasan ekonomi khusus. “Dengan kondisi seperti ini, maka akan terjadi kerugian,” katanya.
Didit menambahkan, pembangunan GSW membutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah. Proyek ini dirancang untuk bertahan 100–200 tahun. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyebut proyek tersebut penting karena 56 persen PDB nasional berasal dari Jawa, dan sekitar 70 persen di antaranya ditopang kawasan Pantura.
https://www.youtube.com/watch?v=CK0F1P64HCo&pp=ygUecHJveWVrIGdvb2RuZXdzIGZyb20gaW5kb25lc2lh
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


