mengenang perjalanan hidup try sutrisno dari kurir cilik hingga wakil presiden ri - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenang Perjalanan Hidup Try Sutrisno: Dari Kurir Cilik hingga Wakil Presiden RI

Mengenang Perjalanan Hidup Try Sutrisno: Dari Kurir Cilik hingga Wakil Presiden RI
images info

Mengenang Perjalanan Hidup Try Sutrisno: Dari Kurir Cilik hingga Wakil Presiden RI


Kabar duka menyelimuti tanah air atas berpulangnya mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Try Sutrisno. Beliau tutup usia pada umur 90 tahun 3 bulan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada Senin (2/3).

Almarhum diketahui mengembuskan napas terakhirnya tepat pukul 06.58 WIB di Ruang CICU Kamar 207 Lantai 2 setelah kondisi kesehatannya sempat menurun.

Sepanjang hayatnya, Try Sutrisno dikenal memiliki rekam jejak militer yang cemerlang. Memulai karier dari tingkat bawah, ia berhasil menduduki posisi puncak sebagai Panglima ABRI sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Presiden RI periode 1993–1998 mendampingi Presiden Soeharto.

Namun, di balik kegemilangan kariernya, Try memiliki latar belakang perjuangan yang sangat keras sejak kecil. Pengalaman masa belia itulah yang membentuk karakter kuat dan disiplin tinggi dalam dirinya. Meski sering dikaitkan dengan peristiwa heroik kemerdekaan, ia menegaskan posisinya dengan jujur.

"Saya bukan angkatan '45. Sewaktu perang gerilya itu umur saya baru 13 tahun. Dulu masih jadi kacungnya tentara. Pesuruh, bersihkan senjata, sepatu, bawa makanannya," ujar Try, sebagaimana dikutip dari Detik.

Kisah masa kecilnya sebagai 'kacung' tentara ini diceritakan Try tanpa rasa canggung. Ia bahkan pernah memikul tanggung jawab besar sebagai informan rahasia di usia yang sangat muda.

"Suatu ketika saya diminta masuk wilayah Belanda. Sebagai intelijen. Dulu ada 2, daerah Republik dan daerah yang diduduki Belanda. Ada garis status quo di Trowulan. Dijaga marinirnya Belanda, kalau lewat ditembak kamu. Karena saya anak kecil, melambung dari sawah daerah republik masuk ke sawah daerah Belanda," kenangnya.

Dedikasi di Dunia Militer

Kepercayaan yang diberikan para senior kepada Try muncul berkat kesetiaannya saat menjadi pesuruh. Tugas intelijen yang ia jalankan di Surabaya tergolong sangat berisiko. Tanpa adanya alat komunikasi modern seperti ponsel, ia harus mencari kantung-kantung gerilya secara langsung untuk mengantarkan pesan serta logistik obat-obatan.

"Dulu ada TRIP, Tentara Republik Indonesia Pelajar di Jatim. TGP atau Tentara Genie (baca: seni) Pelajar, dan Tentara Pelajar. Akhirnya suatu ketika dikonsolidir jadi TNI. Ini harus tahu kamu. Nah, pangkat saya di bawah itu waktu itu," tutur Try menjelaskan sejarah penggabungan kekuatan militer kala itu.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Try melanjutkan langkah ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Jalannya tidak langsung mulus karena ia sempat dinyatakan tidak lulus pada pemeriksaan fisik. Namun, semangatnya yang besar menarik perhatian Mayor Jenderal GPH Djatikusumo hingga ia dipanggil kembali. Setelah berhasil melewati tes psikologis di Bandung, ia pun resmi diterima.

Puncak Karier dan Jabatan Negara

Mengawali pengabdian di kesatuan zeni tempur, karier Try kemudian berkembang pesat di jalur komando teritorial. Ia menduduki berbagai posisi vital, mulai dari tingkat komandan satuan hingga menjadi Panglima Kodam.

Pada 1984, ia menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), dan dua tahun kemudian, tepatnya pada 1986, ia dipercaya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Puncak pengabdian militernya diraih pada 1988 saat ia dilantik menjadi Panglima ABRI hingga 1993.

Jabatan inilah yang kemudian membawanya ke panggung politik nasional.

Try Sutrisno resmi dilantik sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada 11 Maret 1993 mendampingi Presiden Soeharto setelah diputuskan dalam Sidang Umum MPR 1993.

Terpilihnya Try saat itu merefleksikan kuatnya pengaruh militer dalam struktur politik pemerintahan Orde Baru.

Sebagai Wakil Presiden, ia dikenal sebagai sosok yang menjalankan tugas secara institusional demi menjaga stabilitas politik nasional.

Masa jabatan Try berakhir pada 11 Maret 1998, ketika ia digantikan oleh BJ Habibie. Pergantian ini terjadi hanya dua bulan sebelum Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya akibat gerakan reformasi mahasiswa pada Mei 1998.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.