Akulturasi antara etnis Tionghoa dan masyarakat Minangkabau di Kota Padang bukan sekadar cerita lama yang tersimpan dalam lipatan kain adat, melainkan terpahat nyata pada dinding-dinding Kelenteng See Hin Kiong. Berdiri sejak abad ke-19, bangunan ini merupakan saksi bisu perjalanan panjang sejarah kolonial hingga hari ini.
Namun, sejarah sempat diuji oleh alam. Gempa hebat berkekuatan 7,6 SR pada 30 September 2009 meluluhlantakkan bangunan induknya, menyisakan puing-puing yang nyaris tak berwujud. Tragedi tersebut memaksa umat Tri Dharma untuk beribadah dalam keterbatasan—beralaskan keyakinan di bawah atap seng dan dinding terpal sederhana selama bertahun-tahun.
Keteguhan komunitas Tionghoa Padang pun diuji. Karena proses revitalisasi bangunan cagar budaya menuntut standar khusus—termasuk material otentik yang harus didatangkan langsung dari Tiongkok—masyarakat bergotong royong membangun struktur baru tepat di sisi bangunan lama.
Bagi Kota Padang, See Hin Kiong bukan sekadar tempat ibadah. Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar, kelenteng ini adalah warisan budaya tak ternilai yang membuktikan bahwa identitas Tionghoa telah menjadi bagian integral dari keragaman sosial di Sumatera Barat sejak masa kolonial Belanda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


