Di jantung Kota Padang, tepatnya di kawasan Kampung Pondok, berdiri tegak sebuah simbol persatuan yang telah melintasi zaman: Kelenteng See Hin Kiong. Lebih dari sekadar tempat ibadah, bangunan ini adalah bukti bisu bagaimana akulturasi budaya antara masyarakat Minangkabau dan etnis Tionghoa terjalin erat sejak abad ke-19.
Kehadiran komunitas Tionghoa di Padang bermula dari aktivitas perdagangan. Melansir data Ditjen Kebudayaan Indonesia, suku Tjiang dan Tjoan Tjioe yang merantau ke ranah Minang membutuhkan ruang spiritual untuk bersyukur dan berdoa.
Cikal bakal bangunan ini dimulai dengan berdirinya Kelenteng Kwan Im pada tahun 1861, sebelum akhirnya berkembang menjadi kompleks See Hin Kiong yang kita kenal sekarang.
Ada sisi humanis yang menarik dari sejarah kelenteng ini. Bagi para perantau Tionghoa yang baru menginjakkan kaki di Sumatera Barat tanpa sanak saudara, See Hin Kiong berfungsi sebagai:
• Rumah Singgah: Tempat berlindung sementara bagi pendatang baru.
• Sentra Jejaring: Titik awal membangun relasi bisnis dan persaudaraan.
• Batu Loncatan Ekonomi: Menjadi katalisator perkembangan ekonomi masyarakat Tionghoa di wilayah Sumatera Barat hingga sukses seperti saat ini.
Secara visual, See Hin Kiong adalah mahakarya seni yang memanjakan mata. Lokasinya yang strategis di Jalan Kelenteng, Padang Barat, menampilkan detail arsitektur klasik yang sarat makna:
Pintu masuknya memiliki dua akses utama, salah satunya menghadap kolam persegi yang tenang di tengah halaman. Juga terdapat dua tempat pembakaran hio di depan bangunan induk sebagai sarana ritual.
Sementara itu pembagian ruang terdiri dari tiga zona: Ruang Utama (tengah), Ruang Semedi (sayap kanan), dan Perkantoran (sayap kiri). Dindingnya juga penuh ukiran naga yang detail serta papan bertuliskan aksara Tionghoa yang menggantung megah di atap.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


