mengenal kitab safinatun najah ilmu fikih - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Kitab Safinatun Najah, Kapal Keselamatan bagi Penuntut Ilmu Fikih

Mengenal Kitab Safinatun Najah, Kapal Keselamatan bagi Penuntut Ilmu Fikih
images info

Fahmi Widayat (wikimedia commons)


Bagi Kawan GNFI yang pernah mendengar istilah "kitab kuning" atau berkesempatan mengunjungi pondok pesantren, pasti tak asing dengan nama Kitab Safinatun Najah. Kitab klasik ini menjadi salah satu literatur paling fundamental dalam pembelajaran fikih Mazhab Syafi'i di Indonesia.

Hampir di seluruh pesantren Nusantara, kitab ini menjadi bacaan wajib pertama bagi para santri pemula yang baru menginjakkan kaki di dunia keilmuan Islam. 

Filosofi di Balik Nama "Kapal Keselamatan"

Nama Safinatun Najah memiliki makna filosofis yang mendalam. Secara etimologis, kata safinah berarti kapal atau perahu, sementara an-najah bermakna keselamatan atau kesuksesan.

Gabungan kedua kata ini membentuk metafora indah: sebuah kapal yang akan mengantarkan pembacanya menuju keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Judul lengkap kitab ini sebenarnya adalah Safinatun Najah Fima Yajibu 'ala Abdi li Maulah, yang dapat diterjemahkan sebagai "Kapal Keselamatan dalam Membahas Perkara yang Wajib Dilakukan Seorang Hamba kepada Tuhannya".

baca juga

Dari judulnya saja, kita dapat memahami bahwa fokus utama kitab ini adalah menguraikan kewajiban-kewajiban dasar yang harus diamalkan oleh setiap Muslim, khususnya dalam ranah ibadah praktis sehari-hari.

Karakteristik Unik yang Memudahkan Pembelajaran

Kitab Safinatun Najah memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya cocok sebagai buku pegangan pemula. Pertama, penyajiannya sangat ringkas dan sistematis.

Penulisnya sengaja tidak memasukkan perdebatan panjang tentang perbedaan pendapat (khilaf) antar-ulama atau dalil-dalil yang rumit. Yang disajikan adalah kesimpulan hukum yang langsung dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, materi yang dibahas terfokus pada fikih ibadah, seperti syarat dan rukun salat, tata cara bersuci (taharah), dan hal-hal mendasar lainnya yang menjadi kebutuhan setiap muslim. Ketiga, karena bahasanya yang padat, tetapi jelas, kitab ini sangat direkomendasikan untuk dihafal.

Dengan menghafal Safinatun Najah, para santri dapat memiliki fondasi hukum agama yang kuat sebagai bekal mendalami kitab-kitab tingkat lanjut.

baca juga

Sosok di Balik Kitab Fenomenal

Penulis kitab ini adalah Asy-Syekh Al-Alim Al-Fadil Salim bin Abdullah bin Sumair Al-Hadrami yang wafat pada tahun 1271 Hijriah atau 1855 Masehi. Beliau berasal dari Hadramaut, Yaman, dari keluarga bermarga Sumair yang termasuk golongan Masyaikh (ulama), bukan dari kalangan Habaib (keturunan Nabi).

Yang menarik, Syekh Salim bukan hanya dikenal sebagai ahli fikih (faqih), tetapi juga sebagai pakar strategi militer. Beliau pernah menjabat sebagai penasihat sultan dan menguasai bidang persenjataan.

Bahkan, dalam catatan sejarah disebutkan bahwa beliau pernah berkunjung ke Singapura untuk urusan pengadaan senjata. Kombinasi keahlian agama dan militer ini menjadikan sosok Syekh Salim sebagai figur yang unik di zamannya.

Ilmu agama yang dimiliki Syekh Salim didapatkan dari ayahnya serta para ulama besar Hadramaut. Meski berasal dari Yaman, karyanya justru sangat populer dan menjadi rujukan utama pembelajaran fikih dasar di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia.

Memahami Konteks Mazhab dalam Beribadah

Kitab Safinatun Najah disusun berdasarkan pandangan Mazhab Syafi'i, salah satu dari empat mazhab besar dalam Islam bersama Hanafi, Maliki, dan Hambali.

Mazhab dapat dipahami sebagai metode atau kerangka sistematis dalam menjalankan ibadah kepada Allah berdasarkan interpretasi para imam mujtahid terhadap Al-Qur'an dan Hadis.

Menariknya, meskipun para pendiri mazhab—seperti Imam Syafi'i yang merupakan murid Imam Malik, atau Imam Ahmad yang berguru kepada Imam Syafi'i—sering berbeda pendapat dalam masalah furu'iyah (cabang), mereka tetap saling menghormati satu sama lain.

Memahami mazhab menjadi penting bagi pemula agar ibadah yang dilakukan memiliki landasan yang jelas dan sistematis, bukan asal-asalan atau ikut-ikutan tanpa ilmu.

Relevansi di Era Modern

Di tengah perkembangan zaman yang pesat, Kitab Safinatun Najah tetap relevan sebagai panduan dasar ibadah. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan, memudahkan siapa saja—baik santri di pesantren maupun pembelajar mandiri—untuk memahami kewajiban-kewajiban mendasar dalam beragama.

Bagi Kawan GNFI yang ingin memperdalam ilmu fikih, memulai dari kitab ini adalah langkah yang tepat. Seperti namanya, kitab ini akan menjadi "kapal" yang mengantarkan kita menuju pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah dengan benar

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.